Konten dari Pengguna

Rakyat Bertanya, Pemerintah Menjawab?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sindy Bilqis Yusifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi rakyat bersuara, dan pemerintah menjawab. Sumber: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi rakyat bersuara, dan pemerintah menjawab. Sumber: pexels.com

Di tengah perkembangan teknologi digital, masyarakat semakin mudah mengetahui apa yang dilakukan para pemimpin dan bagaimana kebijakan pemerintah memengaruhi kehidupan sehari-hari. Pernyataan pejabat dapat tersebar dalam hitungan menit, potongan video dapat memicu perdebatan luas, dan keputusan pemerintah dapat menjadi bahan diskusi di berbagai ruang digital. Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu membuat masyarakat lebih mudah memahami persoalan yang sebenarnya. Informasi yang melimpah tetap dapat menyisakan pertanyaan mendasar: apa alasan di balik sebuah kebijakan, siapa yang memperoleh manfaat, dan bagaimana masyarakat dapat menilai hasilnya?

Persoalan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan komunikasi politik Indonesia bukan hanya tentang bagaimana pemerintah menyampaikan pesan, melainkan juga bagaimana membangun hubungan yang dapat dipercaya dengan masyarakat. Komunikasi politik semestinya tidak berhenti pada penyampaian program, pencitraan pemimpin, atau penjelasan yang muncul ketika suatu kebijakan menuai kritik. Komunikasi politik perlu menjadi bagian dari proses pemerintahan yang memungkinkan masyarakat memahami keputusan, menyampaikan keberatan, dan memperoleh jawaban yang jelas.

Bagi Gen Z, persoalan ini penting karena kehidupan politik tidak hanya berlangsung di ruang parlemen, kantor pemerintahan, atau tempat pemungutan suara. Politik juga hadir dalam percakapan sehari-hari mengenai biaya pendidikan, kesempatan kerja, transportasi, lingkungan, pelayanan publik, hingga masa depan ekonomi. Kebijakan yang diambil hari ini dapat memengaruhi kesempatan generasi muda untuk hidup mandiri dan menentukan masa depannya. Karena itu, generasi muda memiliki alasan untuk tidak hanya menjadi penerima informasi politik, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperbaiki cara komunikasi antara negara dan warga.

Ketika Komunikasi Lebih Sibuk Menjelaskan daripada Mendengarkan

Dalam praktik komunikasi politik, kemampuan menyampaikan pesan memang penting. Pemerintah perlu menjelaskan kebijakan, meluruskan informasi yang keliru, dan memberikan pemahaman kepada masyarakat. Akan tetapi, komunikasi yang hanya berfokus pada penyampaian pesan berisiko mengabaikan pertanyaan yang muncul dari masyarakat. Pesan dapat tersampaikan dengan baik, tetapi belum tentu menghasilkan pemahaman, penerimaan, atau kepercayaan.

Misalnya, ketika sebuah kebijakan menimbulkan keberatan, masyarakat tidak selalu membutuhkan pernyataan yang mengulang tujuan program. Mereka juga membutuhkan penjelasan mengenai alasan keputusan tersebut diambil, pertimbangan yang digunakan, kelompok yang mungkin terdampak, serta mekanisme untuk menyampaikan keberatan. Jika pertanyaan seperti ini tidak memperoleh jawaban yang memadai, ruang komunikasi dapat dipenuhi spekulasi dan ketidakpercayaan. Masalahnya bukan semata-mata karena masyarakat menolak kebijakan, melainkan karena proses penjelasan dan pertukaran informasi belum tentu memenuhi kebutuhan mereka.

Indonesia sebenarnya telah memiliki landasan hukum yang menempatkan keterbukaan informasi sebagai bagian penting dalam penyelenggaraan negara. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik mengatur hak masyarakat untuk memperoleh informasi dan menyediakan landasan bagi pengawasan publik terhadap badan publik. Keterbukaan informasi juga menjadi salah satu unsur penting dalam penyelenggaraan negara yang demokratis. Dengan demikian, transparansi bukan sekadar pilihan komunikasi yang dilakukan ketika diperlukan, melainkan bagian dari prinsip tata kelola pemerintahan yang telah memiliki dasar hukum.

Tantangannya adalah bagaimana prinsip tersebut diwujudkan dalam pengalaman sehari-hari masyarakat. Informasi yang tersedia secara formal belum tentu mudah ditemukan, dipahami, atau digunakan untuk menilai kebijakan. Dokumen yang panjang tanpa ringkasan yang jelas, pengumuman yang menggunakan istilah teknis, dan penjelasan yang tidak menjawab pertanyaan publik dapat membuat keterbukaan terasa jauh dari kehidupan warga. Di sinilah komunikasi politik perlu dipandang bukan hanya sebagai kegiatan menyebarkan informasi, melainkan juga sebagai upaya memastikan informasi dapat dipahami dan dipertanggungjawabkan.

Dari Politik Pencitraan Menuju Politik yang Bisa Diperiksa

Perkembangan media digital telah memperluas kesempatan pemerintah untuk berkomunikasi langsung dengan masyarakat. Melalui media sosial, informasi dapat disampaikan tanpa sepenuhnya bergantung pada media konvensional. Masyarakat juga memiliki ruang untuk memberikan tanggapan, mengajukan pertanyaan, dan menyampaikan pengalaman mereka terhadap pelayanan publik. Namun, keberadaan kanal digital saja belum cukup untuk menjamin terjadinya komunikasi yang bermakna.

Sebuah unggahan tentang program pemerintah dapat menjangkau banyak orang, tetapi jumlah penonton dan interaksi tidak otomatis menunjukkan bahwa masyarakat memahami program tersebut. Demikian pula, banyaknya konten yang menampilkan kegiatan pejabat tidak dengan sendirinya menjelaskan apakah suatu program telah mencapai tujuannya. Popularitas pesan dan kualitas kebijakan merupakan dua hal yang perlu dibedakan.

Komunikasi politik yang berorientasi pada kepercayaan seharusnya memberi ruang lebih besar bagi informasi yang dapat diperiksa. Masyarakat perlu mengetahui target sebuah program, indikator keberhasilannya, perkembangan pelaksanaan, dan kendala yang dihadapi. Ketika hasilnya tidak sesuai dengan rencana, penjelasan mengenai penyebab dan langkah perbaikan seharusnya menjadi bagian dari komunikasi publik, bukan sesuatu yang baru disampaikan setelah kritik berkembang.

Perubahan ini bukan berarti pemerintah tidak boleh membangun citra atau menggunakan strategi komunikasi. Pemerintah tetap membutuhkan cara penyampaian yang menarik, mudah dipahami, dan sesuai dengan karakter audiens. Namun, citra seharusnya menjadi konsekuensi dari kinerja yang dapat dibuktikan, bukan pengganti penjelasan tentang hasil kerja. Kepercayaan akan lebih bermakna ketika masyarakat memiliki kesempatan untuk menilai informasi, bukan hanya diminta menerima kesimpulan yang disampaikan.

Transparansi Harus Menjadi Sistem

Perubahan komunikasi politik perlu dimulai dari prinsip bahwa masyarakat bukan sekadar audiens yang menerima pesan pemerintah. Masyarakat merupakan pihak yang berhak memperoleh informasi, mengajukan pertanyaan, dan mengawasi keputusan yang memengaruhi kepentingan bersama. Dari prinsip tersebut, komunikasi politik perlu diarahkan pada sistem yang memungkinkan keterbukaan dan pertanggungjawaban berlangsung secara konsisten.

Pertama, pemerintah perlu mengembangkan sistem informasi kebijakan yang terintegrasi dan mudah dipahami. Setiap program publik yang relevan bagi masyarakat dapat disertai informasi mengenai tujuan, dasar keputusan, anggaran yang dapat dibuka kepada publik, target, indikator keberhasilan, serta perkembangan pelaksanaannya. Informasi tersebut dapat disajikan dalam bentuk dasbor digital yang dilengkapi ringkasan sederhana, visualisasi data, dan dokumen pendukung. Dengan cara ini, masyarakat tidak hanya mengetahui bahwa suatu program diumumkan, tetapi juga dapat mengikuti perkembangannya.

Kedua, komunikasi publik perlu dilengkapi mekanisme tanggapan yang jelas. Kanal pengaduan atau konsultasi tidak seharusnya hanya berfungsi sebagai tempat masyarakat mengirimkan keluhan. Sistem perlu memberikan nomor pelacakan, informasi mengenai tahapan penanganan, batas waktu respons yang wajar, serta penjelasan apabila suatu usulan tidak dapat dilaksanakan. Masukan masyarakat memang tidak harus selalu diterima, tetapi alasan penolakan atau keputusan untuk tidak menindaklanjutinya perlu disampaikan secara proporsional. Dialog menjadi bermakna ketika masyarakat mengetahui apa yang terjadi setelah mereka berbicara.

Ketiga, pemerintah perlu mengukur kualitas komunikasi melalui indikator yang lebih substantif. Jangkauan unggahan dan jumlah interaksi tetap dapat digunakan untuk mengevaluasi distribusi informasi, tetapi perlu dilengkapi dengan ukuran lain, seperti keterpahaman pesan, aksesibilitas informasi, kecepatan respons, dan penyelesaian pengaduan. Evaluasi juga perlu memperhatikan apakah kelompok yang berbeda memiliki kesempatan yang setara untuk memperoleh informasi dan menyampaikan pendapat. Dengan indikator yang lebih jelas, komunikasi publik dapat dievaluasi berdasarkan manfaatnya bagi masyarakat, bukan hanya berdasarkan popularitas pesan.

Keempat, perkembangan kecerdasan buatan perlu diikuti dengan standar transparansi dan tanggung jawab. AI dapat membantu menyederhanakan dokumen kebijakan, menerjemahkan informasi, dan menyediakan layanan informasi sepanjang waktu. Namun, penggunaannya harus disertai mekanisme pemeriksaan akurasi, perlindungan data pribadi, dan akses kepada petugas manusia ketika pertanyaan tidak dapat dijawab dengan tepat. Masyarakat juga perlu mengetahui batas kemampuan sistem tersebut agar jawaban otomatis tidak dianggap sebagai keputusan resmi ketika sebenarnya masih membutuhkan verifikasi.

Kelima, transformasi digital harus tetap menyediakan jalur komunikasi nondigital. Tidak semua warga memiliki akses internet yang stabil, perangkat yang memadai, atau kemampuan yang sama dalam menggunakan layanan digital. Informasi dan mekanisme pengaduan tetap perlu tersedia melalui pelayanan langsung, pusat informasi, serta saluran lain yang dapat dijangkau masyarakat. Teknologi seharusnya memperluas akses terhadap komunikasi politik, bukan menciptakan hambatan baru bagi kelompok yang kurang terlayani.

Masa Depan Demokrasi Tidak Cukup Dibangun dengan Teknologi

Membayangkan komunikasi politik masa depan bukan berarti menganggap teknologi sebagai jawaban bagi seluruh persoalan pemerintahan. Sistem digital yang canggih tetap dapat menghasilkan informasi yang tidak lengkap apabila data dasarnya buruk, mekanisme pengawasannya lemah, atau pihak yang mengelolanya tidak memiliki komitmen terhadap keterbukaan. Sebaliknya, komunikasi yang sederhana dapat menjadi bermakna ketika informasi disampaikan dengan jujur, pertanyaan ditanggapi dengan serius, dan keputusan dapat dijelaskan.

Karena itu, masa depan komunikasi politik Indonesia perlu dibangun melalui perpaduan antara teknologi, etika, dan pembenahan kelembagaan. Pemerintah perlu menyediakan informasi yang dapat diperiksa, lembaga publik perlu menjalankan mekanisme pertanggungjawaban, media perlu menjaga fungsi informasinya, dan masyarakat perlu mengembangkan kemampuan untuk menilai pesan secara kritis. Gen Z dapat mengambil bagian dalam proses ini melalui pendidikan politik, pemeriksaan informasi, diskusi yang berbasis bukti, serta pengawasan terhadap kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan publik.

Generasi muda juga perlu memahami bahwa sikap kritis bukan berarti menolak setiap keputusan pemerintah. Kritik yang bertanggung jawab menuntut kemampuan membedakan fakta dan opini, memeriksa sumber, memahami konteks, serta mengakui ketika bukti belum cukup untuk mendukung suatu kesimpulan. Dengan cara tersebut, komunikasi politik tidak harus terjebak dalam pertentangan yang hanya memperkuat kelompok masing-masing, tetapi dapat menjadi ruang untuk menguji gagasan dan memperbaiki keputusan bersama.

Pada akhirnya, komunikasi politik yang lebih baik bukanlah tuntutan agar pemerintah selalu menyampaikan pesan yang disukai masyarakat. Tuntutannya adalah agar setiap komunikasi yang menyangkut kepentingan publik memiliki dasar yang jelas, informasi yang dapat diperiksa, dan ruang bagi masyarakat untuk memperoleh jawaban. Pemerintahan yang terbuka tetap dapat menghadapi kritik, perbedaan pendapat, dan keputusan yang tidak populer. Justru melalui proses tersebut, kebijakan memiliki kesempatan untuk diuji dan diperbaiki.

Masyarakat tidak membutuhkan komunikasi politik yang hanya membuat kekuasaan terlihat bekerja. Masyarakat membutuhkan komunikasi yang memungkinkan mereka mengetahui apa yang dikerjakan, memahami mengapa keputusan diambil, dan memeriksa apakah janji benar-benar diwujudkan. Sebab, masa depan demokrasi tidak cukup ditentukan oleh seberapa baik pemerintah berbicara kepada rakyat, tetapi juga oleh seberapa terbuka pemerintah ketika rakyat meminta penjelasan.