Maulana Rifky Yavianda dan Seni Berenang Tanpa Beban di Nagoya

Communication Student at Pamulang University. Writes about sports, inclusion, and the stories behind big events
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sinta Wulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Maulana Rifky Yavianda membuka pesta emas Indonesia di Asian Para Games 2026. Perenang low vision itu menjuarai nomor 100 meter gaya bebas S12 pada Senin, 19 Oktober 2026, dengan catatan 55,34 detik di Nagoya, Jepang. Hingga Rabu, 21 Oktober 2026, ia telah mengoleksi dua emas bagi Indonesia.
Pencapaian ini bukan kali pertama bagi Rifky. Namun, cara ia memaknai tekanan di kolam menjadi bagian yang paling menarik untuk dibahas.
Emas Pertama Maulana Rifky Yavianda di Nagoya.
Catatan 55,34 detik itu lebih cepat 0,19 detik dibanding waktu emasnya di nomor yang sama pada edisi 2022. Pada Januari 2026, di ASEAN Para Games Thailand, ia menang di nomor serupa dengan 56,29 detik. Artinya, waktunya membaik hampir satu detik dalam sekitar sembilan bulan, selisih besar untuk nomor sprint.
Emas ini juga menjadi yang pertama bagi kontingen Indonesia di Asian Para Games 2026. Kemenangan awal tersebut membuka jalan bagi tambahan emas dari cabang lain di hari-hari berikutnya.
Maulana Rifky Yavianda dan Konsistensi dari Dua Edisi.
Rifky telah mencatat prestasi sejak debutnya. Di ASEAN Para Games 2022 di Semarang, ia memborong lima emas dari semua nomor yang diikuti. Di Asian Para Games 2022 Hangzhou, ia merebut emas gaya punggung S12 sekaligus memecahkan rekor Asia.
Jejak ini menunjukkan konsistensi, bukan hasil sekali tampil. Dari ajang kawasan hingga ajang Asia, ia menjaga level sambil terus memangkas waktu.
Pelajaran Mental dari Maulana Rifky Yavianda.
Seusai lomba, Rifky menyebut kunci penampilannya adalah bermain lepas tanpa beban dan fokus pada kemampuan sendiri. Padahal di Hangzhou, ia sempat mengaku gugup menjelang pertandingan. Perubahan cara menyikapi tekanan ini memperlihatkan kematangan mental atlet yang makin berpengalaman.
Ia juga berterima kasih kepada pelatih, tim para renang, kontingen, federasi, dan pemerintah atas program latihan serta fasilitas yang disediakan. Pernyataan itu mengingatkan bahwa prestasi individu lahir dari ekosistem yang bekerja bersama.
Kesimpulan tentang Maulana Rifky Yavianda.
Maulana Rifky Yavianda menunjukkan bahwa emas bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga soal ketenangan menghadapi beban. Konsistensinya dari Semarang, Hangzhou, hingga Nagoya memberi contoh bahwa kematangan mental dan dukungan sistem berjalan beriringan. Pelajaran ini layak dibawa oleh atlet muda yang kelak menyusul.
