Konten dari Pengguna

Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Ayah yang Hebat Tapi Suami yang Buruk?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siska Sri Gustiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

potret seorang anak yang selalu butuh pegangan ayah (sumber : paxels)
zoom-in-whitePerbesar
potret seorang anak yang selalu butuh pegangan ayah (sumber : paxels)

Dalam dinamika keluarga, kita kerap menemui fenomena yang membingungkan: seorang pria yang begitu hangat, penuh perhatian, dan rela berkorban demi anaknya, namun di saat yang sama bersikap dingin, cuek, atau bahkan toksik kepada istrinya. Di mata sang anak, ia adalah pahlawan tanpa celah. Namun di mata sang istri, ia adalah pasangan yang menyedot energi emosional setiap hari.

Melihat dua peran ini bertolak belakang tentu memicu pertanyaan besar. Bagaimana mungkin seseorang memiliki kapasitas empati yang begitu tinggi sebagai orang tua, tetapi gagal total dalam membangun hubungan yang sehat dengan pasangannya?

Separasi Peran dan Komitmen Keturunan

Secara psikologis, hubungan antara orang tua-anak dan hubungan suami-istri berdiri di atas fondasi yang sepenuhnya berbeda. Hubungan orang tua dan anak bersifat asosiasi tidak bersyarat (unconditional relationship). Seorang ayah melihat anak sebagai ekstensi dari dirinya sendiri, bagian dari identitas, serta penerus garis keturunan. Rasa cinta dan tanggung jawab kepada anak muncul secara naluriah tanpa menuntut balasan yang setara.

Sebaliknya, hubungan suami-istri adalah hubungan antar-dewasa yang transaksional dan berasas timbal balik (reciprocal relationship). Hubungan ini membutuhkan kompromi, komunikasi emosional, negosiasi peran, serta penyelesaian konflik yang rumit.

Ketika seorang pria tidak memiliki keterampilan regulasi emosi atau kecerdasan interpersonal yang memadai untuk menghadapi konflik dewasa, ia akan dengan mudah mundur dan menjadi pasangan yang buruk. Namun, ketidakmampuannya berinteraksi dengan orang dewasa tidak serta-merta menghilangkan kasih sayangnya kepada sang anak yang relatif tidak menuntut negosiasi rumit.

Bebas dari Ekspektasi dan Konflik Masa Lalu

Anak kecil tidak akan menuntut akuntabilitas finansial yang kompleks, tidak mempertanyakan keputusan karier, dan tidak membawa trauma masa lalu ke dalam interaksi harian. Anak hanya membutuhkan kehadiran, rasa aman, dan kasih sayang—hal-hal yang jauh lebih mudah diberikan oleh seorang ayah tanpa harus memicu ego atau defensivitasnya.

Di sisi lain, hubungan dengan istri kerap dipenuhi oleh residu konflik yang tak terselesaikan, perbedaan nilai, hingga rasa lelah akibat beban domestik. Ketika komunikasi antar-pasangan sudah terlanjur tawar atau merenggang, pria kerap mengalihkan seluruh investasi emosionalnya (emotional investment) hanya kepada anak. Anak menjadi "tempat aman" bagi sang ayah untuk merasakan validasi sebagai sosok yang dicintai dan dibutuhkan, sesuatu yang mungkin sudah hilang dalam hubungan pernikahan.

Dampak Terselubung Bagi Anak

Meskipun terlihat ideal bagi sang anak, dinamika ini sebenarnya menyimpan bahaya terselubung. Penelitian dalam bidang psikologi keluarga menunjukkan bahwa anak-anak adalah pengamat yang sangat peka. Ketika melihat ibunya tidak diperlakukan dengan baik oleh ayahnya, anak dapat mengalami disonansi kognitif dan konflik loyalitas yang berat.

Dalam jangka panjang, anak yang tumbuh dalam lingkungan ini berisiko menginternalisasi model hubungan yang tidak sehat. Mereka bisa tumbuh dengan persepsi bahwa wajar jika sebuah pernikahan tidak memiliki rasa hormat, selama peran sebagai orang tua tetap berjalan.

Menjadi ayah yang hebat adalah hal yang mulia, namun hal itu tidak secara otomatis menghapus kewajiban untuk menjadi mitra yang setara dan penuh kasih bagi pasangan. Sebab, warisan emosional terbaik yang bisa diberikan seorang ayah kepada anaknya bukanlah hanya pelukan hangat di malam hari, melainkan juga rasa hormat dan kasih sayang yang ia tunjukkan kepada ibu dari anak-anaknya.