Ibuku Juga Bisa Lelah dan Butuh Healing

Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Siti Aisyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aku masih kuliah, belum punya anak. Tapi akhir-akhir ini aku jadi sering merhatiin Ibu. Dulu aku sebel kalau Ibu tiba-tiba diem, nggak banyak ngomong pas di rumah. Aku kira Ibu lagi marah sama aku. Atau kalau Ibu bilang "Ibu capek," aku jawabnya cuma "istirahat aja bu." Gampang banget ngomongnya. Sampai kemarin, aku pulang kuliah agak siang. Aku liat Ibu di dapur, lagi duduk sendirian. Kompor mati, piring belum dicuci, tapi Ibu cuma duduk natap dinding. Tangannya masih pegang lap. Di situ aku baru ngeh, ternyata Ibu capeknya nggak cuma capek masak atau nyuci. Tapi capek jadi ibu yang nggak boleh ngeluh. Aku inget, Ibu nggak pernah cerita kalau lagi pusing. Nggak pernah minta dipijetin. Kalau aku sama adek berantem, Ibu yang nenangin. Kalau Bapak pulang kerja capek, Ibu yang siapin makan. Tapi kalau Ibu yang capek, siapa yang siapin buat Ibu? Sejak kuliah dan sering denger cerita temen-temen yang udah jadi ibu muda, aku baru paham kenapa banyak ibu yang keliatannya diem, sensitif, gampang nangis. Bukan karena lebay, tapi karena mereka nggak punya waktu buat dirinya sendiri. Malam itu aku coba duduk sebelah Ibu. Nggak nanya apa-apa, cuma bilang, "Bu, mau aku pijetin bentar?" Ibu kaget, terus ketawa kecil. Katanya, "Nggak usah, Ibu nggak apa-apa." Tapi abis itu matanya berkaca-kaca. Aku jadi mikir, mungkin self healing buat seorang ibu itu sesimpel ditanya, "Gimana hari ini, capek ya?" dan ditemenin tanpa dihakimi. Aku belum jadi ibu, tapi dari ngeliat Ibu, aku belajar kalau jadi ibu itu bukan cuma soal ngurus anak, tapi juga soal bertahan biar nggak hilang jadi dirinya sendiri. Buat temen-temen yang masih kuliah kayak aku, coba deh pulang nanti peluk ibu kalian. Bilang makasih. Karena mungkin hari ini dia lagi capek banget, tapi nggak cerita.
