Konten dari Pengguna

Tidur Saja Tak Cukup untuk Menyembuhkan Burnout: Ini Penjelasan Ilmiahnya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Anisa Mufidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu merasakan baru saja terbangun setelah tidur selama delapan jam, tetapi tubuh masih terasa lelah seakan-akan kamu tidak beristirahat sama sekali, atau mungkin motivasi untuk menghadapi hari mulai hilang meskipun pekerjaan yang menumpuk sudah menunggu? Kondisi ini bukan sekadar lelah fisik biasa, melainkan manifestasi dari burnout syndrome yang menurut standar WHO didefinisikan sebagai fenomena stres kronis di tempat kerja yang gagal dikelola dengan baik, sehingga mengakibatkan terkurasnya energi secara ekstrem yang tidak bisa pulih hanya dengan istirahat tidur semalam.

Sumber : Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Unsplash

Sebagian besar dari kita cenderung melihat kelelahan ini sebagai sesuatu yang biasa disebabkan oleh ketidakcukupan tidur atau hanya perlu istirahat sejenak. Namun, apabila kelelahan tersebut bertahan dan mulai berdampak pada mood serta efisiensimu, sebaiknya berhati-hati. Mungkin apa yang kamu rasakan bukan sekadar keletihan fisik, melainkan Gejala Burnout.

Burnout: Apa Itu dan Bagaimana Penjelasannya?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kelelahan kerja adalah kondisi tekanan berkepanjangan yang tidak ditangani dengan baik di lingkungan kerja. Berbeda dari keletihan biasa, kelelahan kerja mempengaruhi tiga aspek sekaligus: daya tahan fisik, keseimbangan emosi, dan kondisi mental.

Menurut sebuah penelitian yang terbit di jurnal World Psychiatry (Maslach & Leiter, 2016), burnout ditandai oleh tiga tanda utama:

  1. Kelelahan yang Mendalam: Rasa kehabisan energi secara emosional dan fisik yang tidak sirna meskipun telah beristirahat.

  2. Sinisme atau Terputusnya Hubungan: Kamu mulai mengalami pandangan yang skeptis, pessimistik, atau merasa terasing dari pekerjaan serta orang-orang di sekeliling.

  3. Penurunan Kinerja: Merasakan ketidakmampuan dan kehilangan kepercayaan bahwa kamu dapat menyelesaikan tugas dengan baik.

Burnout: Mengapa Tidur Saja Tidak Cukup?

Banyak individu tercengang mengapa akhir pekan tidak berhasil mengembalikan energi mereka. Secara ilmiah, tekanan yang berkepanjangan akibat kelelahan dapat mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Psychoneuroendocrinology (Penz et al., 2019) menunjukkan bahwa orang yang mengalami kelelahan mental mengalami ketidakseimbangan hormon kortisol (hormon yang berkaitan dengan stres). Ini menyebabkan tubuh terus-menerus dalam keadaan "waspada", sehingga meskipun kamu mencoba untuk tidur, sistem sarafmu tetap tidak beristirahat secara optimal. Inilah yang menjelaskan mengapa hanya tidur tidak memadai untuk mengatasi kelelahan mental.

Burnout Bisa Menjadi Dampak Serius dari Tidur yang Diabaikan

Kelelahan bukan sekadar tentang "perasaan" negatif. Sebuah penelitian komprehensif yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS ONE (Salvagioni et al., 2017) mengungkapkan bahwa kelelahan yang tidak ditangani dalam waktu panjang dapat meningkatkan kemungkinan munculnya masalah kesehatan yang parah, mulai dari gangguan sistem pencernaan, kemungkinan terkena penyakit jantung, hingga depresi berat.

Burnout dan Strategi Efektif untuk Menanganinya

Mengatasi kelelahan mental perlu pendekatan berbeda dalam menjalankan kegiatan sehari-hari. Berikut adalah beberapa langkah yang didasari oleh penelitian yang dapat kamu lakukan:

  • Tentukan Batasan: Jadikan keberanian untuk berkata "tidak" pada pekerjaan tambahan yang melebihi kemampuanmu sebagai prioritas. Pastikan ada pemisahan yang jelas antara waktu kerja dan waktu istirahat.

  • Cari Dukungan Sosial: Hindari menyimpan semua perasaan sendiri. Berbincanglah dengan kolega yang dapat dipercaya atau seorang spesialis kesehatan mental untuk mengurangi tekanan pikiran.

  • Praktikkan Mindfulness: Ambil waktu selama 5-10 menit setiap hari untuk melakukan pernapasan sadar atau meditasi, yang dapat membantu menurunkan tingkat hormon stres dalam tubuh.

Ingatlah, badanmu bukanlah alat yang bisa dipaksa untuk terus beroperasi tanpa henti. Kelelahan yang terus-menerus adalah tanda bahwa tubuhmu sedang berusaha untuk "mengajak bicara". Memperhatikan sinyal tersebut bukanlah indikasi kelemahan, tetapi merupakan wujud tertinggi dari mencintai diri sendiri.