Konten dari Pengguna

Pelarian Manis Anak Muda dari Burnout Media Sosial

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Aurellia Putri Fahira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi oleh AI(Artificial Intelligent), di prompt oleh Siti Aurellia
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi oleh AI(Artificial Intelligent), di prompt oleh Siti Aurellia

Belakangan ini, kalau kita rajin scrolling linimasa media sosial, ada satu pola unik yang sering lewat; konten-konten nostalgia. Mulai dari cuplikan acara TV zaman dulu, tren fashion awal 2000-an, hingga playlist lagu-lagu hits era 2010-an yang diputar ulang dengan penuh kerinduan.

Mengapa tren kembali ke masa lalu ini tiba-tiba begitu menggeliat dan digandrungi anak muda?

Lelah dengan Perfeksionisme Algoritma

Hari ini, linimasa media sosial dipenuhi standar yang semakin tinggi. Mulai dari pamer pencapaian karier, konten estetik yang dikurasi sempurna, hingga tuntutan untuk selalu produktif dan up-to-date. Kondisi ini tanpa sadar menciptakan kelelahan mental atau digital burnout.

Nostalgia hadir sebagai penawar. Masa lalu—khususnya era pertengahan 2000-an hingga 2010-an—diingat sebagai periode di mana internet terasa lebih jujur, tanpa optimasi algoritma yang mengekang, dan belum dibebani ekspektasi pencitraan yang tinggi.

Masa Lalu yang Terprediksi di Tengah Ketidakpastian

Secara psikologis, manusia cenderung mencari hal-hal yang familiar ketika menghadapi situasi yang serba tak pasti. Dunia saat ini bergerak terlalu cepat dengan segala dinamika sosial dan ekonominya.

Melihat kembali lagu, serial, atau mainan masa kecil memberikan rasa aman yang instan. Kita menyukai masa lalu bukan hanya karena zamannya yang indah, tetapi karena kita sudah tahu jalan ceritanya—tidak ada kejutan buruk yang menunggu di sana.

Ruang Jeda yang Menyehatkan

Menikmati tren nostalgia bukan tanda bahwa anak muda enggan maju atau gagal beradaptasi dengan masa depan. Justru, ini adalah bentuk coping mechanism atau jeda sejenak untuk melepaskan penat dari riuk-pikuk keseharian.

Sama seperti mendengarkan lagu favorit sewaktu sekolah di penghujung hari, nostalgia adalah cara sederhana untuk merawat kesehatan mental. Selama tidak membuat kita berhenti melangkah, memutar kembali memori manis masa lalu adalah pelarian yang sah-sah saja.