Analisis Konsistensi Karakter dalam Cerpen "Ada yang Pergi Tanpa Berpamitan"
Tulisan dari Siti Nur Aisyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Penokohan Tokoh "Gue" dalam Cerpen: Konsisten sebagai Sosok yang Percaya dan Pasif
Tulisan ini merupakan hasil analisis Siti Nur Aisyah dan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Analisis cerpen "Ada yang Pergi Tanpa Berpamitan" karya Syarif Yunus ini mencoba membedah kisah yang terasa dekat dengan kehidupan anak muda: seorang lelaki yang diam-diam ditinggalkan kesetiaan pacarnya, tanpa pernah benar-benar diberi tahu. Cerita ini ditulis dengan gaya naratif orang pertama yang santai, hampir seperti curhatan lepas, namun justru di balik gaya bertutur yang ringan itu tersimpan tiga tokoh yang dibangun dengan cermat lewat penokohan yang matang: "gue" sebagai tokoh utama, "pacar" sebagai tokoh pemicu konflik, dan sosok laki-laki asing yang muncul di penghujung cerita. Melalui pendekatan kritik sastra, tulisan ini menelaah bagaimana ketiga tokoh tersebut dibangun secara konsistensi karakter hingga membuat cerita ini terasa meyakinkan bagi pembaca
Tulisan ini mencoba membedah ketiga tokoh tersebut menggunakan salah satu gagasan penting dari Robert Stanton dalam bukunya Teori Fiksi, yaitu konsep kemasukakalan (plausibility) dan konsistensi karakter. Menurut Stanton, sebuah cerita tidak harus realistis untuk bisa dikatakan "masuk akal". Yang menentukan kemasukakalan sebuah cerita adalah konsistensi: apakah tokoh-tokohnya bertindak sesuai dengan kepribadian dan motivasi yang telah dibangun sejak awal. Pertanyaannya bukan "akankah ada orang yang berlaku seperti tokoh ini di dunia nyata?", melainkan "akankah tokoh ini, dalam situasi tersebut, bertindak sesuai dengan apa yang seharusnya ia lakukan berdasarkan wataknya sendiri?"
Tokoh "gue" dibangun sebagai pria yang polos dan mudah percaya sejak paragraf pembuka. Ketika pacarnya menolak dijemput dengan alasan sederhana, ia tidak curiga sedikit pun.
"Ohh, olah raga ya. Biasa aja dong, nothing suspicious. Tidak ada yang mencurigakan."
Sikap ini konsisten dijaga sepanjang cerita. Bahkan setelah menunggu berjam-jam tanpa kejelasan, "gue" tetap memilih menepis kecurigaannya sendiri dan mencari alasan-alasan yang meringankan.
"Pesan gue hanya dibalas singkat, atau kadang tidak sama sekali. Gue mulai merasa ada yang aneh, tapi gue tepis sendiri. Nggak boleh mikir macam-macam. Mungkin dia masih di jalan. Mungkin macet. Mungkin baterainya habis."
Konsistensi ini semakin terlihat jelas di momen klimaks, saat ia benar-benar melihat pacarnya bersama laki-laki lain. Alih-alih mengejar, mempertanyakan, atau membuat konfrontasi, "gue" memilih diam dan mengamati dari jauh.
"Gue nggak menghampirinya. Hanya memandang dari jauh. Nggak juga memanggil namanya. Gue hanya berdiri di tempat..."
Berdasarkan kerangka Stanton, tindakan ini bukan kelemahan penokohan, melainkan justru bukti kemasukakalan tokoh: seorang yang sejak awal digambarkan pasif, menghindari konflik, dan cenderung memendam perasaan sendiri, memang akan bersikap demikian ketika dihadapkan pada situasi menyakitkan. Wataknya konsisten dari awal sampai akhir, sehingga pembaca bisa menerima keputusannya untuk pergi diam-diam ke parkiran tanpa merasa itu janggal.
Tokoh "Pacar": Konsistensi yang Dibangun Secara Implisit
Berbeda dengan "gue" yang penokohannya eksplisit lewat narasi batin, tokoh pacar justru dibangun melalui detail-detail kecil yang baru terasa signifikan setelah dibaca ulang.
"Terus gue nawarin jemput pakai motor. Tapi dia bilang 'nggak usah, aku pulang sendiri aja.'"
Pada awal cerita, kalimat itu terlihat sebagai ucapan biasa. Namun ketika dikaitkan dengan keseluruhan cerita, ia menjadi konsisten dengan pola perilaku seseorang yang sedang menyembunyikan sesuatu menolak dijemput dengan halus, lalu di penghujung cerita muncul bersama orang lain dengan sikap yang berbeda dari yang selama ini ditunjukkan ke "gue".
"Tapi dari cara jalan mereka berdua seperti bukan sekadar teman. Dari cara berdiri yang terlalu dekat melebihi sekadar kawan. Bahkan cara pacar gue menatap ke cowok itu seperti bukan tatapan yang biasa."
Inilah yang oleh Stanton disebut sebagai syarat kemasukakalan lewat konsistensi motivasi. Pembaca tidak diberi tahu secara langsung bahwa tokoh pacar berbohong, tetapi detail-detail perilakunya cara ia menghindar, cara ia menjaga jarak informasi tersusun secara koheren sehingga di akhir cerita, pengkhianatannya terasa sebagai kelanjutan logis dari sikapnya sejak awal, bukan kejutan yang dipaksakan.
Tokoh Laki-Laki Asing: Fungsi Naratif sebagai Tokoh Datar
Sosok "laki-laki sawo matang" yang muncul di akhir cerita tidak diberi nama, latar belakang, atau ruang pengembangan karakter.
"Bukan sendirian. Tapi dia berjalan pelan, tertawa kecil bersama seseorang yang nggak gue kenal... Laki-laki sawo matang tapi bukan cowok motoran tampangnya."
Dalam istilah penokohan, ia adalah flat character atau tokoh datar kehadirannya berfungsi murni sebagai pemicu (trigger) yang menyingkap kebenaran, bukan sebagai individu yang perlu dipahami motivasinya secara mendalam.
Meski minim penggambaran, kehadirannya tetap masuk akal dalam kerangka Stanton karena konsisten dengan fungsinya: ia hanya perlu ada di momen yang tepat, dengan sikap yang cukup mencurigakan, untuk membuat "gue" (dan pembaca) menyadari kebenaran yang selama ini tersembunyi. Cerita tidak membutuhkan lebih dari itu darinya, dan penulis tampaknya sadar betul akan batas fungsi tokoh ini.
Kesimpulan: Cerita yang Masuk Akal Bukan karena Realistis, tapi karena Koheren
Merujuk pada Stanton, cerita yang masuk akal bukanlah cerita yang meniru kehidupan nyata secara persis, melainkan cerita yang pengalaman di dalamnya tersusun secara koheren lewat hubungan sebab-akibat yang meyakinkan. "Ada yang Pergi Tanpa Berpamitan" mengangkat tema yang sebenarnya sudah sangat umum kisah perselingkuhan yang terungkap di tempat umum namun ceritanya tetap terasa meyakinkan karena setiap tokoh bertindak konsisten dengan wataknya masing-masing: "gue" yang pasif dan menghindari konfrontasi, pacar yang menyembunyikan kebenaran lewat detail-detail kecil, dan tokoh asing yang hadir sekadar sebagai pengungkap fakta.
Justru dari konsistensi itulah cerita ini terasa dekat dan bisa dipercaya oleh pembaca, meski ditulis dengan gaya bahasa sehari-hari yang jauh dari kesan "sastra berat". Hal ini tergambar jelas dari kalimat penutup cerita, yang seolah merangkum keseluruhan watak tokoh "gue" yang sejak awal memang pasif dan menahan diri:
"Gue kira kejutan manis ada di hari Sabtu, nggak tahunya kejutan pahit seperti yang dirasakan banyak anak muda cowok lainnya."
Ini membuktikan bahwa kemasukakalan sebuah cerita, seperti kata Stanton, tidak ditentukan oleh seberapa realistis kejadiannya, melainkan oleh seberapa koheren dan konsisten tokoh-tokohnya bertindak sesuai dengan diri mereka sendiri.
Cerpen ini membuktikan bahwa cerita yang baik tidak selalu butuh plot yang rumit cukup tokoh-tokoh yang jujur pada wataknya sendiri, dan pembaca akan ikut merasa kehilangan bersama mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Stanton, Robert. (2012). Teori Fiksi Robert Stanton (terj. Sugihastuti & Rossi Abi Al Irsyad). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Yunus, Syarif. (2024). Ada yang Pergi Tanpa Berpamitan. Kumparan. Diakses dari https://kumparan.com

