Doomscrolling: Mengapa Kita Terus Membaca Berita Negatif?

Saya Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Manajemen SDM
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Siti Nur Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Doomscrolling adalah kebiasaan terus-menerus membaca berita negatif melalui ponsel atau media sosial, bahkan ketika informasi tersebut membuat kita merasa cemas. Pernahkah kamu membuka ponsel hanya untuk melihat satu berita, lalu tiba-tiba sudah membaca berbagai kabar tentang kriminalitas, konflik, bencana, dan masalah ekonomi? Awalnya mungkin hanya ingin tahu apa yang sedang terjadi. Namun, setelah beberapa puluh menit, pikiran justru terasa lebih penuh. Ada kekhawatiran baru dan ketakutan yang sebelumnya tidak terpikirkan, hingga muncul perasaan sulit menemukan alasan untuk merasa dunia sedang baik-baik saja.
Yang menarik, kita tetap menggulir layar.
Kita membaca satu berita, berpindah ke unggahan lain, membuka kolom komentar, lalu mencari penjelasan tambahan. Ketika menemukan kabar yang lebih mengkhawatirkan, kita kembali membaca. Seolah-olah ada sesuatu yang belum lengkap jika kita belum mengetahui perkembangan berikutnya.
Kebiasaan ini dikenal sebagai doomscrolling, yaitu perilaku terus-menerus membaca berita negatif atau mengonsumsi konten yang mengkhawatirkan melalui media digital. Kita terus mencari informasi terbaru meskipun konten yang dikonsumsi justru dapat menambah kecemasan dan membuat pikiran semakin gelisah.
Di era digital, doomscrolling semakin mudah terjadi karena informasi dapat diakses kapan saja melalui ponsel. Berbagai berita dan unggahan terus bermunculan, membuat kita merasa perlu mengikuti setiap perkembangan. Akibatnya, kita bisa menghabiskan banyak waktu untuk membaca kabar negatif tanpa menyadari dampaknya terhadap pikiran dan suasana hati.
Kita semakin mudah mengetahui apa yang salah di dunia, tetapi belum tentu semakin mampu memahami dunia secara utuh.
Satu Berita Selesai, Kekhawatiran Baru Dimulai
Fenomena ini sebenarnya cukup mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika sebuah berita kriminal ramai dibicarakan, orang tidak hanya membaca berita utamanya, tetapi juga mengikuti video, komentar, dan unggahan lain yang membahas kejadian serupa. Akibatnya, satu peristiwa bisa terus memenuhi perhatian, bahkan setelah informasi utama sebenarnya sudah diketahui.
Coba bayangkan situasi sederhana ini.
Kamu menemukan berita tentang tindak kriminal. Setelah membaca kronologinya, kamu membuka komentar untuk mengetahui pendapat orang lain. Di sana, ada orang yang membagikan kasus serupa. Kamu lalu mencari berita tambahan, menemukan video yang membahas kejadian lain, dan akhirnya membaca berbagai peristiwa yang sebenarnya tidak berkaitan langsung.
Tanpa disadari, satu berita berkembang menjadi puluhan informasi.
Pada awalnya, kegiatan tersebut terasa seperti mencari pengetahuan. Kita ingin memahami persoalan, mengetahui kemungkinan risiko, dan memastikan bahwa tidak ada informasi penting yang terlewat. Namun, pencarian itu dapat berubah menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan, terutama ketika setiap konten menghadirkan pertanyaan atau kekhawatiran baru.
Kita pun mulai menganggap bahwa terus membaca adalah cara terbaik untuk merasa siap menghadapi keadaan.
Padahal, mengetahui lebih banyak informasi tidak selalu sama dengan memahami lebih baik. Informasi tambahan memang dapat memperjelas persoalan, tetapi informasi yang berulang, tidak lengkap, atau tidak terverifikasi juga dapat membuat kita semakin bingung.
Di sinilah masalahnya: kita bisa menghabiskan banyak waktu untuk mengikuti berita tanpa benar-benar memperoleh pemahaman baru.
Mengapa Kabar Buruk Begitu Sulit Dilewatkan?
Salah satu penjelasannya berkaitan dengan kecenderungan manusia untuk memperhatikan informasi yang dianggap mengancam. Berita mengenai kecelakaan, kejahatan, konflik, atau bencana terasa penting karena kita ingin mengetahui risiko yang mungkin memengaruhi diri sendiri maupun orang terdekat.
Kecenderungan tersebut tidak selalu buruk. Memperhatikan informasi tentang bahaya dapat membantu kita mengambil keputusan dan menghindari risiko. Kita memang perlu mengetahui keadaan di sekitar.
Masalahnya muncul ketika kewaspadaan berubah menjadi kebutuhan untuk terus memantau.
Ketika sebuah berita membuat kita khawatir, kita mungkin mencari informasi tambahan agar memperoleh kepastian. Akan tetapi, informasi baru belum tentu membuat kita merasa lebih tenang. Justru bisa muncul persoalan lain yang mendorong kita kembali mencari kabar berikutnya.
Penelitian Shabahang dan rekan-rekannya yang diterbitkan pada 2024 dalam jurnal Computers in Human Behavior Reports menemukan hubungan antara doomscrolling dan kecemasan eksistensial pada sampel pengguna media sosial dari Iran dan Amerika Serikat. Penelitian tersebut melibatkan 800 mahasiswa pengguna media sosial dari kedua negara.
Temuan ini tidak berarti bahwa setiap orang yang membaca berita negatif pasti mengalami kecemasan. Namun, hasilnya memberikan alasan untuk memperhatikan bagaimana konsumsi berita yang berlebihan dapat berkaitan dengan cara seseorang memandang kehidupan dan masa depan.
Dengan kata lain, persoalannya bukan karena kita mengetahui adanya masalah, melainkan ketika paparan terhadap masalah terasa terus-menerus dan sulit dikendalikan.
Ketika Beranda Media Sosial Menjadi Gambaran Dunia
Ada hal lain yang sering luput kita sadari: apa yang muncul di layar bukanlah gambaran lengkap tentang kehidupan masyarakat.
Media sosial menyajikan konten berdasarkan berbagai faktor, termasuk aktivitas dan interaksi pengguna. Konten yang menarik perhatian kita dapat membuat kita bertahan lebih lama, sementara sistem rekomendasi bisa menghadirkan konten serupa.
Akibatnya, ketika kita sering membaca berita kriminal, kita mungkin semakin sering menemukan berita kriminal lainnya. Ketika kita berulang kali menonton konten tentang konflik atau krisis, topik serupa dapat kembali muncul di beranda.
Namun, kita perlu berhati-hati dalam menarik kesimpulan. Tidak semua rekomendasi muncul karena alasan yang sama, dan tidak semua pengguna mengalami pola yang identik. Meski begitu, pengalaman melihat konten yang berulang dapat membuat satu jenis persoalan terasa jauh lebih dominan daripada kenyataan yang sebenarnya kita ketahui.
Bayangkan seseorang yang setiap malam membaca berita tentang penipuan, kekerasan, dan konflik. Jika itulah sebagian besar informasi yang dikonsumsi, bukan tidak mungkin ia mulai merasa bahwa hampir semua tempat berbahaya dan hampir semua orang patut dicurigai.
Padahal, beranda media sosial bukan alat ukur yang mewakili seluruh keadaan masyarakat.
Ada perbedaan antara mengatakan bahwa kejahatan memang terjadi dan menyimpulkan bahwa dunia sepenuhnya tidak aman. Ada perbedaan antara mengetahui bahwa krisis sedang berlangsung dan menganggap bahwa masa depan sudah pasti buruk.
Kita perlu melihat konteks, membandingkan sumber, dan memahami skala persoalan sebelum menarik kesimpulan.
Jangan sampai apa yang paling sering kita lihat di layar menjadi satu-satunya dasar untuk menilai kehidupan di luar layar.
Apakah Kita Benar-Benar Ingin Tahu, atau Takut Ketinggalan?
Menurut saya, salah satu hal paling menarik dari doomscrolling adalah alasan kita terus melakukannya.
Tidak selalu karena berita yang dibaca begitu penting. Terkadang, kita hanya merasa belum cukup mengetahui keadaan. Kita khawatir akan melewatkan perkembangan terbaru, tidak memahami pembicaraan orang lain, atau terlambat mengetahui sesuatu yang dianggap penting.
Akibatnya, ponsel menjadi tempat untuk mencari kepastian yang sulit diperoleh.
Kita berharap bahwa membaca satu berita lagi akan membuat keadaan lebih jelas. Namun, ketika informasi terus bertambah, selalu ada hal lain yang belum diketahui. Berita berkembang, komentar terus muncul, dan perdebatan tidak pernah benar-benar selesai.
Akhirnya, kita bisa menghabiskan waktu bukan karena benar-benar membutuhkan informasi tersebut, tetapi karena sulit menentukan kapan informasi yang kita miliki sudah cukup.
Di titik ini, kita perlu membedakan antara rasa ingin tahu dan dorongan untuk terus memeriksa. Rasa ingin tahu membantu kita belajar. Sebaliknya, kebiasaan memeriksa tanpa tujuan yang jelas dapat menghabiskan perhatian tanpa menghasilkan pemahaman yang sebanding.
Kita tidak harus mengetahui setiap perkembangan dalam waktu yang sama dengan orang lain. Tidak membaca setiap unggahan bukan berarti kita tidak peduli.
Menjadi Terinformasi Tanpa Harus Terus-Menerus Cemas
Doomscrolling dan Kebiasaan Terus Mengikuti Berita Negatif
Lalu, bagaimana cara mengurangi doomscrolling tanpa menjadi orang yang menutup mata terhadap persoalan sosial?
Menurut saya, jawabannya bukan berhenti membaca berita sepenuhnya, melainkan membangun kebiasaan yang lebih sadar.
Pertama, tentukan tujuan sebelum membuka berita.
Sebelum menggulir layar, tanyakan kepada diri sendiri: informasi apa yang sebenarnya ingin saya ketahui? Jika tujuannya mencari perkembangan suatu peristiwa, bacalah sumber yang relevan sampai memperoleh informasi yang dibutuhkan. Setelah itu, berhentilah jika konten berikutnya hanya mengulang hal yang sama.
Kedua, batasi waktu untuk mengikuti berita.
Kita dapat menentukan waktu khusus untuk membaca berita daripada memeriksa media sosial setiap kali ada kesempatan. Tidak semua perkembangan membutuhkan perhatian langsung, kecuali informasi yang memang penting untuk keselamatan atau keputusan yang harus segera diambil.
Ketiga, jangan hanya mengandalkan beranda.
Jika ingin memahami suatu persoalan, carilah sumber yang memiliki informasi jelas, periksa tanggal dan konteksnya, serta bandingkan pemberitaan dari sumber tepercaya. Hindari mengambil kesimpulan hanya dari judul provokatif, potongan video, atau komentar yang ramai dibagikan.
Keempat, sadari kapan membaca berita tidak lagi membantu.
Jika kita mulai merasa semakin gelisah, sulit berkonsentrasi, atau terus memeriksa berita yang sama, tidak ada salahnya mengambil jeda. Beristirahat dari layar bukan berarti menyangkal kenyataan. Kita hanya memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk memproses informasi yang sudah diterima.
Kelima, kembalikan perhatian pada hal-hal yang bisa dilakukan.
Jika sebuah berita mengungkap masalah lingkungan, kita dapat mencari tindakan nyata yang relevan. Jika berita membahas bencana, kita dapat memeriksa informasi resmi mengenai bantuan atau keselamatan. Jika suatu persoalan berada di luar kendali kita, kita tetap bisa memahami situasinya tanpa harus terus-menerus memikirkannya sepanjang hari.
Langkah tersebut tidak menjamin semua kecemasan akan hilang. Namun, kita dapat mulai membedakan antara mengikuti perkembangan yang berguna dan terus mengonsumsi konten yang hanya memperpanjang kekhawatiran.
Doomscrolling bukan sekadar kebiasaan membaca berita negatif, tetapi juga berkaitan dengan kesulitan menentukan kapan kita perlu berhenti mencari informasi. Ketika rasa khawatir membuat kita terus memeriksa kabar terbaru, informasi yang dikonsumsi belum tentu memberikan pemahaman yang lebih baik. Sebaliknya, kebiasaan tersebut justru dapat menyita waktu dan perhatian.
Kita Tidak Harus Mengikuti Semua Hal untuk Menjadi Peduli
Pada akhirnya, kita hidup di tengah arus informasi yang tidak pernah benar-benar berhenti. Setiap hari selalu ada kabar baru, persoalan baru, dan peristiwa yang meminta perhatian kita.
Jika semuanya harus diikuti, kapan kita memiliki waktu untuk memahami apa yang sudah kita baca?
Kita memang perlu peduli terhadap keadaan sekitar. Berita dapat membuka mata terhadap ketidakadilan, memperlihatkan persoalan yang perlu diselesaikan, dan mendorong masyarakat mengambil tindakan. Karena itu, solusi terhadap doomscrolling bukanlah menghindari semua berita negatif.
Yang perlu kita ubah adalah cara menempatkan informasi dalam kehidupan.
Membaca berita seharusnya membantu kita memahami keadaan, bukan membuat kita merasa wajib memantau setiap peristiwa tanpa jeda. Mengetahui adanya masalah seharusnya membuka ruang untuk berpikir dan bertindak, bukan membuat kita menganggap bahwa seluruh kehidupan hanya berisi masalah.
Mungkin kita tidak bisa mengendalikan semua informasi yang muncul di layar. Namun, kita masih bisa memilih sumber yang dibaca, menentukan waktu untuk berhenti, dan memutuskan informasi mana yang benar-benar membutuhkan perhatian.
Sebab, menjadi orang yang terinformasi bukan berarti mengetahui setiap kabar yang beredar. Terkadang, itu berarti mampu memilah informasi, memahami batas pengetahuan kita, dan menyadari kapan saatnya berhenti menggulir layar.
Dunia memang tidak selalu baik-baik saja. Namun, bukan berarti kita harus menghabiskan setiap waktu luang untuk menyaksikan semua hal buruk yang terjadi di dalamnya.
