Konten dari Pengguna

Sudah Bertahun-tahun Belajar Bahasa, Mengapa Masih Sulit Berbicara?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Nurfitriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber gambar: www.freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
sumber gambar: www.freepik.com

Banyak pemelajar bahasa asing yang bercerita sudah puluhan tahun belajar bahasa asing, tetapi masih sulit menggunakan bahasa sasaran. Ya, belajar bahasa Inggris bertahun-tahun, tetapi belum juga bisa berkomunikasi seperti penutur jati. Hal itu berlaku juga bagi teman-teman yang belajar bahasa Korea, Belanda, dan Bahasa Indonesia sebagai bahasa asing. Selain itu, para pemelajar juga bercerita bahwa mereka mempelajari tata bahasa selama bertahun-tahun, tetapi masih kesulitan dalam berkomunikasi, apalagi komunikasi yang dilakukan secara spontan.

Sebagai orang yang sedang belajar bahasa asing, saya pun merasakan hal yang sama. Namun, sebagai pengajar bahasa saya merasa perasa prihatin. Bagaimana mungkin para pemelajar yang telah belajar bertahun-tahun, bahkan menguasai berbagai aturan tata bahasa, tetapi masih kesulitan berkomunikasi dalam bahasa yang dipelajarinya?

Pengalaman tersebut mendorong saya untuk refleksi. Jangan-jangan masalahnya bukan hanya terletak pada pemelajar, melainkan pada pendekatan pembelajaran yang selama ini kita gunakan di kelas. Sebagai pengajar bahasa asing, saya coba untuk memahami kembali teori perolehan bahasa yang dikemukakan oleh Stephen Krashen.

Mengingat Kembali Gagasan Stephen Krashen

Dalam pengajaran bahasa asing, termasuk pengajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing, nama Stephen Krashen mungkin tidak asing lagi bagi banyak pengajar. Ahli bahasa asal Amerika Serikat ini dikenal tentang teori perolehan bahasa kedua. Menariknya, teori tersebut tidak hanya dapat ditemukan dalam buku atau artikel ilmiah, berbagai rekaman ceramah dan presentasi Stephen Krashen masih tersedia di YouTube.

Melalui video-video tersebut, Krashen menjelaskan teorinya dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, sehingga tetap relevan untuk disimak oleh para pengajar bahasa asing dan pemelajar bahasa asing.

Salah satu konsep yang paling dikenal adalah perbedaan antara language learning dan language acquisition. Language learning merujuk pada proses mempelajari bahasa secara sadar, Sementara itu, language acquisition merupakan proses memperoleh bahasa secara lebih alami melalui paparan bahasa yang bermakna dan dapat dipahami.

Jika kita cermati dengan baik, teori ini mengingatkan kita bahwa mengetahui bahasa dan menggunakan bahasa merupakan dua hal yang berbeda. Hal ini sama persis dengan cerita para pemelajar bahasa asing di atas. Seseorang mungkin memahami berbagai aturan tata bahasa, tetapi belum tentu mampu menggunakannya secara spontan dalam komunikasi, begitu juga sebaliknya. Ini berarti kemampuan berbahasa seseorang tidak hanya dibangun melalui pengetahuan bahasa, tetapi juga harus disertai dengan pengalaman menggunakan bahasa itu sendiri.

Lalu, Apa yang Harus Dilakukan Pengajar Bahasa Asing?

Dari sudut pandang pengajar bahasa, gagasan ini mengajak para pengajar bahasa untuk tidak hanya focus menyampaikan materi kebahasaan di kelas, tetapi pengajar harus juga menciptakan kesempatan bagi para pemelajar untuk memperoleh bahasa secara alami. Artinya, kita sebagai pengajar bahasa, perlu membawa perolehan bahasa ke dalam kelas.

Cara yang pernah saya lakukan adalah dengan melakukan berbagai aktivitas yang bermakna, seperti bercakap langsung dengan penutur jati. Interaksi langsung dengan penutur jati, baik secara langsung, maupun daring. Dalam konteks ini, sebagai pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), mahasiswa senang ketika diberi tugas berbelanja ke toko kelontong, diminta untuk naik transportasi umum, hingga berbelanja ke pasar tradisional. Hal itu, dilakukan agar pemelajar memperoleh bahasa secara alami.

Perolehan lain yang dapat kita sediakan di kelas bisa juga dengan memanfaatkan video, film, podcast, lagu, bacaan autentik sebagai sumber pembelajaran. Beberapa pemelajar asing di kelas saya justru mereka senang ketika diberi tugas sederhana seperti menulis caption di media sosial, jurnal harian. Dengan cara ini, kelas bahasa tidak hanya berfokus pada hafalan aturan, tetapi juga memberi kesempatan kepada pemelajar untuk mengalami bahasa dalam konteks yang lebih nyata.

Selain menciptakan perolehan, Krashen juga berpendapat bahwa perolehan itu akan terjadi jika (input) dapat dipahami atau dalam teorinya ia menyebut sebagai Comprehensible Input. Dalam pandangannya, bahasa yang diberikan kepada pemelajar sebaiknya berada sedikit, yaa sedikit di atas tingkat kemampuan pemelajar (i+1). Teori ini membuat para pemelajar tertantang, tetapi tidak kesulitan.

Oleh karena itu, sebagai pengajar bahasa asing, kita perlu menyesuaikan materi dengan tingkat kemampuan pemelajar. Misalnya, pemelajar tingkat A1 tentu akan kesulitan jika langsung diminta menyimak podcast dengan kecepatan bicara yang tinggi dan kosakata yang kompleks. Sebaliknya, pemelajar tingkat mahir tidak akan berkembang secara optimal jika hanya diberikan percakapan sederhana tentang perkenalan diri.

Hal ini membuat kita sebagai pengajar bahasa kembali melakukan refleksi. Keberhasilan aktivitas pembelajaran di kelas tidak hanya ditentukan oleh menarik atau tidaknya kegiatan belajar tersebut, tetapi juga berdasarkan tingkat kemampuan pemelajar.

Tentu, teori Krashen tidak berhenti pada dua konsep tersebut. Ia juga mengemukakan tentang Natural Order Hypothesis, Monitor Hypothesis, dan Affective Filter Hypothesis yang tidak kalah menarik untuk dipelajari. Namun, membahas seluruh gagasan dalam satu artikel tentu akan membutuhkan ruang yang panjang. Karena itu, saya memilih untuk tidak mengulasnya di sini. Para pengajar bahasa asing, dan pengajar bahasa Indonesia bagi penutur asing, teori Krashen ini layak untuk dibaca dan disimak kembali lebih lanjut.

Hal yang lebih penting bagi pengajar bahasa asing ialah, teori-teori yang disampaikan Krashen tersebut mengingatkan kita bahwa mengajar bahasa tidak hanya berkaitan dengan materi, metode, hingga evaluasi. Memahami bagaimana bahasa diperoleh oleh pembelajar juga bagian penting dari proses belajar itu sendiri. Semakin banyak teori yang kita refleksikan, semakin banyak juga wawasan dalam merancang pembelajaran yang bermakna bagi para pemelajar. Memilih untuk menjadi pengajar artinya memilih untuk terus menjadi pemelajar.