Kerap Diejek Netizen, Mengapa India Sukses 'Ekspor' Otak?

Penulis lepas & pengulas pop-kultur. Akhir-akhir ini sedang suka membaca novel genre thriller.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Siti Rohimah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi Netizen Indonesia, algoritma media sosial belakangan kerap menyajikan potongan video yang seragam tentang India. Mulai dari kuliner jalanan yang dianggap kurang higienis, potret sanitasi yang buruk, hingga lingkungan kota padat nan semrawut. Di kolom komentar, gelombang olok-olok dan stigma negatif mengalir deras. India seolah diringkas hanya dalam satu kata yaitu jorok.
Di balik penghakiman tersebut ada realitas kontras yang luput dari pandangan kita bahwa disudut-sudut pemukiman padat, di bawah temaram lampu jalanan New Delhi atau Mumbai, jutaan anak-anak India sedang belajar dengan militansi yang ekstrem. Mereka bertaruh nyawa menghadapi brutalnya ketimpangan sosial demi mengubah nasib.
Di tengah impitan hidup seperti itu, sebuah konsep budaya pemecah masalah bernama Jugaad bertransformasi dari sekedar trik bertahan hidup menjadi sebuah manifestasi kejeniusan.
Secara harfiah, Jugaad adalah istilah yang merujuk pada inovasi cerdik, cepat, dan berbiaya rendah dengan memanfaatkan sumber daya seadanya. Misalnya di bidang pertanian, Jugaad dapat menghasilkan sistem irigasi inovatif menggunakan wadah bekas atau bahan daur ulang, sehingga meningkatkan efisiensi air dan hasil panen bagi petani kecil. Namun secara psikologis, budaya Jugaad merupakan bentuk perlawanan mental masyarakat terhadap keterbatasan fasilitas. Ketika sistem gagal menyediakan infrastruktur yang memadai, otak mereka seakan dipaksa untuk menemukan jalan keluar-mengubah hambatan menjadi peluang dan memanfaatkan pengetahuan serta sumber daya lokal.
Diaspora dan para profesional India mendominasi posisi puncak di Silicon Valley-sebuah kawasan di wilayah San Francisco Bay Area yang terkenal sebagai pusat teknologi dan inovasi dunia. Mulai dari CEO Google Sundar Pichai hingga posisi tertinggi Microsoft, yaitu Satya Nadella. Namun, kejeniusan tersebut tidak lahir dari ruangan yang wangi dan ber-AC, melainkan dari persaingan hidup yang luar biasa brutal.
Negara dengan populasi mencapai 1,4 miliar jiwa ini memiliki ketimpangan yang menciptakan jarak sangat lebar antara mereka yang cerdas dan mereka yang sangat cerdas. Demi mendapatkan kehidupan yang layak, jalur utama yang harus ditempuh adalah dengan pendidikan STEM (Sains, Teknologi, Ternik, Matematika).
Setiap tahunnya, jutaan siswa SMA atau sederajat India mengikuti ujian masuk perguruan tinggi paling kompetitif di dunia, seperti IIT-JEE (Indian Institutes of Technology Joint Entrance Examination), ujian ini dikenal sangat ketat karena di antaranya terdapat ketimpangan ekstrem antara pendaftar dan kuota yang tersedia. Merujuk pada dokumen resmi Seat Matrix yang dirilis oleh Joint Seat Allocation Authority (JoSAA) India, hanya sekitar 17.000 hingga 18.000+ yang dipilih dari 1,3 -1,5 juta siswa yang mendaftar, berarti rata-rata hanya 1%-1,2% peluang lolos. Bagi mereka yang tidak lolos dalam ujian ini, bararti terjebak dalam lingkaran kemiskinan seumur hidup. Tekanan hidup tersebut yang memaksa mereka memiliki etos kerja dan kedisiplinan yang luar biasa ketat.
Di sini letak ironi global yang harus kita sadari. Ketika netizen sibuk mengolok-ngolok aspek fisik lingkungan India, negara tersebut justru sedang sibuk mengekspor komoditas terbaiknya kepada dunia yaitu isi kepala manusianya. India mungkin tidak memiliki cadangan minyak melimpah seperti negara Teluk, atau dominasi manufaktur raksasa seperti China. Oleh sebab itu, modal utama mereka adalah kecerdasan dan kemampuan adaptasi yang lahir dari budaya Jugaad.
Menilai India hanya dari video-video kumuh di media sosial rasanya sangat tidak adil. Kita lupa bahwa lingkungan yang keras dan keterbatasan justru merupakan laboratorium terbaik untuk melatih kemampuan memecahkan masalah. Orang-orang yang terbiasa hidup di tengah ketidakpastian dan kekacauan struktur akan tumbuh menjadi individu yang fleksibel, tangguh, dan tidak menyerah saat menghadapi krisis dunia kerja yang modern.
Meskipun mentalitas Jugaad dan militansi belajar ini melahirkan banyak orang hebat, kita tidak boleh menutup mata pada sisi gelapnya, yaitu tekanan yang terlalu ekstrem untuk menjadi yang terbaik sering kali melahirkan fenomena academic burnout atau kelelahan akademis yang parah di kalangan remaja India. Contohnya bimbingan belajar intensif di Kota, negara bagian Rajasthan, dimana belajar 18 jam sehari adalah hal biasa dan menganggap nilai ujian adalah segalanya. Mereka terus belajar tujuh hari dalam seminggu dan untuk bisa mengikuti pelajaran mereka belajar pada pukul 4 pagi sebelum mengikuti kelas selama enam jam, yang menampung 300 siswa. Selain itu, esensi Jugaad yang mementingkan hasil cepat terkadang mengorbankan standar keselamatan dan kualitas jangka panjang.
Pada akhirnya, Jugaad dan potret perjuangan anak-anak India mengajarkan kita satu hal: kecerdasan dan kesuksesan tidak selalu membutuhkan fasilitas yang serba mewah, anak-anak di sudut-sudut kota India sedang membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Kita harus mulai berkaca pada militansi belajar mereka. Karena kenyataannya, di balik lingkungan yang sering diolok-olok itu, sedang lahir para pemimpin masa depan dunia yang otaknya ditempa kerasnya kehidupan.
