Berjuang Bersama, Bertumbuh Bersama
Tulisan dari Siti Syarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa tempat yang awalnya terasa asing akan menjadi bagian paling berharga dalam hidupku. Aku masih ingat ketika pertama kali masuk pesantren saat kelas 1 MTs atau setara dengan kelas 7 SMP. Saat itu, aku diantar oleh keluarga besarku dengan perasaan senang, gugup, sekaligus sedih karena harus tinggal jauh dari rumah. Aku belum mengenal siapa pun, sehingga semuanya terasa canggung. Namun, hari demi hari berlalu, kami mulai akrab, baik dengan teman sekamar maupun teman sekelas. Kami belajar, bercanda, dan menjalani kegiatan pondok bersama. Ketika rasa rindu kepada orang tua, kakak, saudara, dan suasana rumah datang, kami saling menguatkan. Tanpa disadari, teman-teman yang awalnya asing perlahan menjadi keluarga kedua bagiku.
Memasuki kelas 2 MTs, kami semakin betah menjalani kehidupan di pondok. Namun, suatu hari kami dikumpulkan di aula bersama Abuya dan mendapat kabar bahwa kami harus pulang karena wabah COVID-19 yang sedang menyebar. Awalnya, kami mengira hanya akan pulang selama dua minggu. Ternyata, kami harus belajar dari rumah selama kurang lebih satu tahun. Kebersamaan yang biasanya kami rasakan setiap hari berubah menjadi kerinduan. Hingga akhirnya, kami menyelesaikan pendidikan MTs dan mengikuti wisuda dengan mengenakan masker serta menjaga jarak. Perjalanan berlanjut ke jenjang MA atau setara dengan SMA. Rasanya begitu bahagia bisa kembali bertemu setelah sekian lama berpisah. Saat kelas 10, kami mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) yang mengajarkan kami tentang kepemimpinan, tanggung jawab, dan kerja sama. Memasuki kelas 11, semakin banyak pengalaman yang kami lewati. Kami mulai memahami karakter masing-masing dan belajar menerima perbedaan.
Sampailah kami di kelas 12, tahun terakhir dalam perjalanan enam tahun di pesantren. Pada masa ini, berbagai ujian datang silih berganti, mulai dari ujian praktik, syahadah pondok pesantren, imtihan diniyah, PAS, PAT, dan ujian lainnya. Rasanya lelah sekali karena banyak hal yang harus dipersiapkan. Salah satu perjuangan yang paling kuingat adalah ketika mempersiapkan syahadah pondok. Kami harus terus melakukan murojaah agar bisa menghadapi ujian dengan lancar. Ada saat ketika kami merasa sangat lelah, ingin menangis, bahkan hampir menyerah. Namun, kami tidak membiarkan satu sama lain berjuang sendirian. Kami saling menyemangati, membantu teman yang kesulitan, dan mengingatkan bahwa semua ini harus diselesaikan sampai akhir. Setelah melewati berbagai perjuangan, tibalah hari kelulusan yang kami tunggu-tunggu. Satu per satu nama kami dipanggil untuk naik ke atas panggung dan menerima piagam serta syahadah. Rasanya bahagia sekaligus haru karena perjuangan selama enam tahun akhirnya membuahkan hasil.
Enam tahun mungkin terdengar lama, tetapi setelah semuanya berlalu, rasanya begitu cepat. Kami yang dahulu datang dengan wajah malu-malu kini telah tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa. Pesantren bukan hanya tempat untuk menuntut ilmu, tetapi juga tempat kami belajar tentang kehidupan, persahabatan, kesabaran, dan arti kebersamaan. Kini, mungkin kami akan melangkah ke jalan yang berbeda dan mengejar impian masing-masing. Namun, aku percaya bahwa jarak dan waktu tidak akan menghapus kenangan yang telah kami bangun bersama. Kami pernah datang sebagai orang asing, lalu dipertemukan dalam kebersamaan hingga menjadi keluarga. Enam tahun itu mungkin telah berakhir, tetapi cerita, tawa, air mata, dan perjuangan kami akan selalu memiliki tempat tersendiri di hati. Sebab, perjalanan ini bukan hanya tentang bagaimana kami memulai, melainkan tentang bagaimana kami berjuang bersama, bertumbuh bersama, dan menjadi bagian dari kenangan satu sama lain.
Tetap semangat teman-teman ❤️

