Konten dari Pengguna

Inflasi Rendah Bukan Berarti Hidup Lebih Murah: Antara Angka dan Realita Moneter

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mia Kristina Sitorus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.pexels.com/id-id/foto/konsep-inflasi-dengan-ubin-huruf-scrabble-31078522/
zoom-in-whitePerbesar
https://www.pexels.com/id-id/foto/konsep-inflasi-dengan-ubin-huruf-scrabble-31078522/

Oleh : Mia Kristina Sitorus

Ketika kita mendengar kata inflasi dan moneter, yang terbayang mungkin adalah angka persentase yang muncul dalam berita ekonomi. Misalnya, inflasi Indonesia tercatat 3,34 persen secara tahunan pada Juni 2026. Angka tersebut kemudian menjadi salah satu indikator bahwa kondisi harga masih berada dalam perhatian pemerintah dan Bank Indonesia. Namun, bagimasyarakat biasa, pertanyaan yang lebih sederhana justru muncul: kalau inflasi terkendali,mengapa belanja sehari-hari masih terasa mahal?

Pertanyaan tersebut menurut saya cukup penting. Sebab, keberhasilan menjaga inflasi tidak selalu langsung terasa sebagai penurunan harga barang. Inflasi yang turun atau beradadalam sasaran bukan berarti harga barang kembali ke harga sebelumnya. Harga yang sudah naik pada periode sebelumnya tidak otomatis turun ketika laju inflasi melambat. Di sinilah terdapat jarak antara angka statistik dan pengalaman masyarakat sehari-hari.

Inflasi Turun, Harga Belum Tentu Turun

Secara sederhana, inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam suatu periode. Ketika inflasi melambat, yang terjadi bukan berarti semua harga barang turun. Yang terjadi adalah kenaikan harga berlangsung lebih lambat dibandingkan sebelumnya.

Misalnya, seseorang biasa membeli kebutuhan rumah tangga dengan uang Rp500.000.Setelah terjadi kenaikan harga, kebutuhan yang sama bisa saja membutuhkan Rp550.000. Ketika inflasi kemudian melambat, bukan berarti harga tersebut otomatis kembali menjadi Rp500.000. Harga bisa tetap berada di sekitar Rp550.000, hanya saja kenaikannya tidak lagi secepat sebelumnya.

Hal sederhana seperti ini sering kali membuat masyarakat merasa bahwa data inflasi tidak sesuai dengan keadaan yang mereka rasakan. Padahal, keduanya bisa benar dalam waktu yang bersamaan.

Badan Pusat Statistik mencatat inflasi year-on-year Indonesia pada Juni 2026 sebesar 3,34 persen. Pada bulan tersebut, inflasi bulanan tercatat 0,44 persen. Data ini menunjukkan bahwa perubahan harga tetap terjadi, meskipun masih berada dalam kerangka pengendalian inflasi.

Dengan kata lain, inflasi yang terkendali bukan berarti masyarakat mendapatkan harga murah. Inflasi terkendali lebih tepat dipahami sebagai kondisi ketika kenaikan harga masih dapat dijaga agar tidak bergerak terlalu tinggi.

Masalahnya Ada pada Isi Keranjang Belanja

Menurut saya, salah satu alasan masyarakat tetap merasa terbebani meskipun inflasi terlihat terkendali adalah karena setiap orang memiliki “keranjang belanja” yang berbeda.

Angka inflasi nasional merupakan gambaran umum perubahan harga berbagai barang dan jasa. Namun, kebutuhan setiap orang tidak sama.

Mahasiswa mungkin lebih banyak mengeluarkan uang untuk makanan, transportasi, pulsa, internet, dan kebutuhan kuliah. Keluarga dengan anak sekolah mempunyai pengeluaran berbeda lagi. Sementara itu, pekerja yang setiap hari menggunakan kendaraan pribadi akan lebih sensitif terhadap perubahan harga bahan bakar dan biaya transportasi.

Artinya, inflasi yang dirasakan seseorang bisa berbeda dengan angka inflasi secara keseluruhan.

Jika harga makanan, transportasi, atau kebutuhan lain yang paling sering dibeli seseorang meningkat, dampaknya akan terasa lebih besar terhadap kondisi keuangannya. Meskipun pada saat yang sama terdapat barang lain yang harganya relatif stabil.

Karena itu, menurut saya, pembicaraan mengenai inflasi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “berapa persen inflasinya?”. Kita juga perlu bertanya, “barang apa yang mengalami kenaikan harga dan siapa yang paling merasakan dampaknya?”

Daya Beli Tidak Hanya Ditentukan oleh Inflasi

Persoalan berikutnya adalah daya beli masyarakat. Daya beli tidak hanya berkaitan dengan harga barang, tetapi juga dengan pendapatan masyarakat. Jika pendapatan meningkat lebih cepat dibandingkan kenaikan harga, masyarakat mungkin masih memiliki ruang untuk meningkatkan konsumsi.

Sebaliknya, jika pendapatan tidak banyak berubah sementara berbagai kebutuhan mengalami kenaikan harga, masyarakat akan merasa semakin terbebani. Inilah mengapa inflasi rendah belum tentu otomatis membuat masyarakat merasa lebih sejahtera.

Bank Indonesia sendiri menyebut pengendalian inflasi sebagai bagian dari upaya menjaga daya beli masyarakat. Pada Juli 2026, inflasi tercatat 2,88 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan Juni yang sebesar 3,34 persen. Bank Indonesia juga mencatat inflasi inti sebesar 2,76 persen dan inflasi volatile food sebesar 2,52 persen pada periode tersebut.

Data tersebut tentu merupakan kabar yang positif. Stabilitas harga penting untuk menciptakan kondisi ekonomi yang lebih sehat. Namun, pekerjaan menjaga daya beli tidak berhenti ketika inflasi berhasil dikendalikan.

Pendapatan, kesempatan kerja, biaya pendidikan, transportasi, harga pangan, dan berbagai kebutuhan lainnya tetap menjadi bagian dari persoalan ekonomi masyarakat. Angka Ekonomi Harus Terhubung dengan Kehidupan Masyarakat

Sebagai mahasiswa, saya melihat bahwa pembahasan ekonomi terkadang terlalu fokus pada angka. Pertumbuhan ekonomi sekian persen, inflasi sekian persen, suku bunga sekian persen, dan seterusnya.

Angka memang penting. Tanpa angka, kita akan kesulitan melihat arah perekonomian secara objektif. Namun, angka seharusnya menjadi alat untuk memahami kondisi masyarakat, bukan sekadar menjadi kesimpulan akhir.

Ketika inflasi dinyatakan terkendali, pertanyaan berikutnya seharusnya adalah apakah masyarakat benar-benar merasakan kondisi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah uang saku mahasiswa masih cukup untuk memenuhi kebutuhan kuliah?

Apakah keluarga masih mampu memenuhi kebutuhan pangan tanpa mengurangi kebutuhan lainnya?

Apakah pendapatan pekerja tumbuh sejalan dengan biaya hidup?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin sederhana, tetapi justru di situlah makna kebijakan ekonomi bisa terlihat.

Jangan Terjebak pada Angka Inflasi Semata

Menurut saya, keberhasilan kebijakan moneter tidak cukup hanya dilihat dari rendahnya inflasi. Stabilitas harga memang penting, tetapi tujuan akhirnya juga harus berkaitan dengan kemampuan masyarakat menjalani kehidupan ekonominya secara wajar.

Inflasi yang terkendali merupakan fondasi penting. Namun, fondasi tersebut perlu disertai dengan kebijakan yang mampu mendukung pendapatan, lapangan kerja, produktivitas, dan daya beli masyarakat.

Masyarakat juga perlu memahami bahwa ketika inflasi turun, bukan berarti semua harga akan kembali seperti sebelumnya. Yang berubah adalah kecepatan kenaikan harga.

Pada akhirnya, inflasi bukan sekadar angka di layar berita. Di balik angka tersebut ada harga makanan di meja makan, ongkos perjalanan ke kampus, biaya pendidikan, tagihan rumah tangga, dan keputusan seseorang ketika harus menentukan barang mana yang masih mampu dibeli.

Karena itu, menurut saya, ukuran keberhasilan ekonomi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “apakah inflasi berhasil dikendalikan?”. Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah: “apakah masyarakat benar-benar merasa lebih mampu menjalani kehidupan ekonominya?”

Sebab, inflasi yang rendah memang kabar baik. Tetapi ekonomi baru benar-benar terasa baik ketika angka tersebut juga tercermin dalam kehidupan masyarakat.