Konten dari Pengguna

Ketika Dunia Kerja Tak Harus Membuat Perempuan Memilih antara Keluarga dan Karir

Deska Anggityas Wida

Deska Anggityas Wida

Mahasiswa Manajemen UMY

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Deska Anggityas Wida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Dokumentasi tim Sanggabiz dalam perayaan 4 tahun aniversary, 28 Agustus 2026
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Dokumentasi tim Sanggabiz dalam perayaan 4 tahun aniversary, 28 Agustus 2026

Bekerja dan mengurus keluarga sering kali dianggap sebagai dua pilihan yang sulit dijalankan bersamaan. Namun, Sanggabiz mencoba melihatnya dari sudut pandang berbeda: perempuan tetap dapat berkontribusi secara profesional dengan dukungan pola kerja yang lebih fleksibel.

Ada satu pertanyaan yang mungkin pernah muncul di benak banyak perempuan, terutama mereka yang telah berkeluarga: Apakah setelah menjadi ibu, kesempatan untuk tetap bekerja dan berkembang harus berhenti?

Pertanyaan tersebut tidak sesederhana kelihatannya. Bagi sebagian perempuan, keputusan untuk meninggalkan pekerjaan bukan semata-mata karena kehilangan minat terhadap karier. Tanggung jawab mengurus anak, keluarga, dan rumah tangga dapat membuat ruang untuk bekerja menjadi semakin terbatas.

Persoalan inilah yang membuat konsep pemberdayaan perempuan di dunia kerja menjadi semakin relevan.

Menurut International Labour Organization (ILO), tanggung jawab pengasuhan dan keluarga masih menjadi salah satu hambatan utama bagi kemajuan karier perempuan di Indonesia. Survei ILO bersama Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) pada 2025 juga menunjukkan bahwa tanggung jawab pengasuhan masih banyak dipandang sebagai hambatan dalam perkembangan karier perempuan.

Di tengah kondisi tersebut, muncul kebutuhan terhadap dunia kerja yang tidak hanya melihat seseorang berdasarkan waktu kerja yang tersedia, tetapi juga berdasarkan kemampuan dan kontribusi yang dapat diberikan.

Sumber: Dokumentasi tim Sanggabiz dalam perayaan 4 tahun aniversary, 28 Agustus 2026 bagian Karyawan dan magang sanggabiz

Mempertahankan Perempuan di Dunia Kerja

Salah satu hal yang menarik perhatian saya selama menjalani magang di Sanggabiz adalah bagaimana perusahaan ini memandang pemberdayaan perempuan sebagai bagian dari konsep bisnisnya.

Sanggabiz merupakan perusahaan yang menyediakan dukungan bagi bisnis melalui berbagai layanan, mulai dari operasional, sumber daya manusia, keuangan, perpajakan, hingga project management. Dalam profil resminya, Sanggabiz juga menyampaikan komitmennya untuk mendukung kelompok minoritas, termasuk pemberdayaan perempuan stay-at-home mother dan teman-teman disabilitas.

Konsep tersebut menarik karena pemberdayaan perempuan tidak selalu harus dimaknai dengan mendorong perempuan untuk meninggalkan perannya di dalam keluarga demi mengejar karier.

Sebaliknya, ada pendekatan lain yang berusaha menciptakan ruang agar perempuan tetap dapat berkontribusi sesuai dengan kondisi dan kemampuannya.

Bagi seorang ibu yang memiliki tanggung jawab terhadap keluarga, kesempatan untuk bekerja secara fleksibel dapat menjadi sesuatu yang berarti. Kemampuan yang sebelumnya diperoleh dari pendidikan maupun pengalaman kerja tetap dapat digunakan, sementara tanggung jawab keluarga tetap dapat dijalankan.

Dengan demikian, pemberdayaan bukan hanya tentang memberikan pekerjaan, tetapi juga tentang mempertahankan potensi perempuan agar tidak hilang dari dunia kerja hanya karena perubahan kondisi kehidupan.

Bukan Sekadar Memberikan Pekerjaan

Pemberdayaan perempuan terkadang dipahami sebatas memberikan kesempatan kerja. Padahal, persoalannya jauh lebih luas.

Perempuan juga membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, memperoleh penghasilan, mendapatkan pengalaman, serta merasa bahwa kontribusinya tetap memiliki nilai.

Hal ini menjadi semakin penting ketika melihat kondisi partisipasi perempuan dalam dunia kerja Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan Indonesia pada 2025 berada di angka 56,63 persen, meningkat dari 56,42 persen pada 2024. Meski mengalami peningkatan, angka tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat ruang besar untuk memperluas partisipasi perempuan dalam kegiatan ekonomi.

Di sisi lain, meningkatnya partisipasi perempuan juga perlu diikuti dengan lingkungan kerja yang mampu memahami kebutuhan mereka.

Artinya, perempuan tidak cukup hanya diberi akses untuk bekerja. Mereka juga perlu memperoleh ekosistem yang memungkinkan mereka untuk bertahan, berkembang, dan tetap memiliki kesempatan untuk berkontribusi.

Ketika Peran Ibu dan Pekerja Tidak Harus Dipertentangkan

Selama ini, perempuan yang telah menjadi ibu terkadang dihadapkan pada pilihan yang seolah-olah berlawanan: menjadi ibu yang hadir bagi keluarga atau menjadi perempuan yang aktif secara profesional.

Padahal, keduanya tidak selalu harus dipertentangkan.

Seorang ibu dapat memiliki kemampuan di bidang administrasi, keuangan, pemasaran, teknologi, maupun pekerjaan profesional lainnya. Menjadi ibu tidak serta-merta menghapus pengalaman, keterampilan, dan potensi yang telah dimilikinya. Yang sering kali berubah adalah kondisi dan kebutuhan waktunya.

Karena itu, pendekatan terhadap tenaga kerja perempuan juga perlu melihat manusia secara lebih utuh. Bukan hanya sebagai pekerja yang harus memenuhi jam kerja tertentu, tetapi sebagai individu yang memiliki kehidupan, keluarga, tanggung jawab, dan potensi yang dapat dikembangkan.

Konsep seperti inilah yang menurut saya menarik untuk diperhatikan dari Sanggabiz. Pemberdayaan perempuan tidak ditempatkan hanya sebagai slogan, tetapi dikaitkan dengan bagaimana kemampuan seseorang tetap dapat dimanfaatkan dalam ekosistem kerja yang lebih adaptif.

Dari Pemberdayaan Menjadi Dampak Ekonomi

Ketika perempuan mendapatkan kesempatan untuk tetap produktif, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu.

Ada penghasilan yang dapat diperoleh, keterampilan yang tetap terasah, pengalaman yang terus bertambah, serta kontribusi ekonomi yang dapat diberikan kepada keluarga dan lingkungan.

Lebih jauh lagi, dunia usaha juga memperoleh manfaat karena dapat mengakses talenta yang mungkin sebelumnya tidak terlihat atau bahkan tersisih dari pasar kerja karena keterbatasan kondisi tertentu.

Dalam konteks ini, fleksibilitas bukan berarti menurunkan standar profesionalisme. Justru, fleksibilitas dapat menjadi salah satu cara untuk mempertemukan kebutuhan bisnis dengan kondisi tenaga kerja yang beragam.

Hal tersebut sejalan dengan perhatian pemerintah dan ILO terhadap pengembangan care economy di Indonesia. Pemerintah bersama ILO telah mendorong kebijakan yang bertujuan meningkatkan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang lebih mendukung.

Belajar Melihat Perempuan dari Potensinya

Sebagai mahasiswa yang sedang menjalani magang di Sanggabiz, saya melihat konsep ini sebagai sesuatu yang menarik untuk dipelajari.

Magang biasanya identik dengan belajar mengenai pekerjaan, sistem perusahaan, target, dan tanggung jawab profesional. Namun, pengalaman di tempat kerja juga dapat membuka perspektif baru mengenai bagaimana sebuah perusahaan melihat manusia yang berada di dalamnya.

Dari Sanggabiz, saya belajar bahwa dunia kerja tidak selalu harus dibangun dengan pendekatan yang seragam.

Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda. Ada yang sedang membangun karier, ada yang sedang mengurus keluarga, ada yang memiliki keterbatasan tertentu, dan ada pula yang membutuhkan kesempatan kedua untuk kembali produktif.

Pada akhirnya, pemberdayaan perempuan bukan hanya tentang membuat perempuan bekerja.

Lebih dari itu, pemberdayaan berarti memberikan ruang agar perempuan tetap memiliki kesempatan untuk menggunakan kemampuan, memperoleh penghasilan, berkembang, dan berkontribusi tanpa harus kehilangan identitas serta peran penting lainnya dalam kehidupannya.

Mungkin inilah bentuk dunia kerja yang perlu semakin banyak dibangun: bukan dunia kerja yang meminta perempuan memilih antara keluarga dan karier, melainkan dunia kerja yang berusaha menciptakan ruang agar keduanya dapat berjalan berdampingan.