Masyarakat Harus Idealis, Jangan Selalu Membenarkan Pemerintah

Founder Scriptumluris.id
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Fahmi Fadi, SH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam kehidupan bernegara, masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, mengawasi jalannya pemerintahan, dan mengkritik kebijakan yang dianggap merugikan publik, tetapi dalam praktiknya kritik terhadap pemerintah sering kali justru berujung pada perdebatan antarmasyarakat. Ada yang mencoba menyampaikan persoalan, tetapi malah dituduh membenci pemimpin. Ada pula yang begitu keras membela pemerintah sampai enggan mengakui bahwa kebijakan yang didukungnya memiliki kekurangan.
Fenomena ini seharusnya menjadi bahan refleksi bersama. Mengapa kita terkadang lebih sibuk membela tokoh politik daripada memikirkan apakah kebijakannya benar-benar bermanfaat bagi masyarakat?
Dalam negara demokrasi, pemerintah bukan pihak yang harus selalu dibenarkan. Pemerintah adalah penyelenggara kekuasaan yang memiliki tanggung jawab kepada masyarakat. Dukungan terhadap pemerintah semestinya diberikan secara rasional, bukan berdasarkan loyalitas yang menutup ruang kritik.
Apa yang Sebenarnya Kita Dapatkan dari Membela Pemerintah?
Pertanyaan ini mungkin terdengar provokatif, tetapi layak direnungkan: ketika kita membela pemerintah mati-matian di media sosial, apa manfaat nyata yang kita dapatkan?
Apakah harga kebutuhan pokok otomatis menjadi lebih murah? Apakah lapangan pekerjaan langsung bertambah? Apakah pelayanan publik menjadi lebih baik hanya karena kita berhasil memenangkan perdebatan dengan orang yang mengkritik pemerintah?
Membela pemerintah tidak selalu salah. Jika suatu kebijakan memang tepat, memberikan manfaat, dan didukung oleh fakta, masyarakat berhak menyampaikan dukungan. Begitu pula ketika pemerintah mendapat kritik yang tidak berdasar, kita dapat meluruskannya dengan argumentasi yang masuk akal.
Masalah muncul ketika pembelaan berubah menjadi sikap membenarkan segala sesuatu. Kesalahan dianggap wajar hanya karena dilakukan oleh pemimpin yang disukai. Kritik yang seharusnya menjadi bahan evaluasi justru diperlakukan sebagai serangan terhadap kelompok sendiri.
Dalam kondisi seperti ini masyarakat berisiko kehilangan posisi kritisnya. Kita tidak lagi menilai kebijakan berdasarkan manfaat dan dampaknya, melainkan berdasarkan siapa yang mengeluarkan kebijakan tersebut.
Siapa pun pemimpinnya, masyarakat tetap memiliki kepentingan yang harus diperjuangkan. Kita membutuhkan pendidikan yang berkualitas, lapangan pekerjaan yang layak, pelayanan kesehatan yang terjangkau, penegakan hukum yang adil, dan kebijakan yang berpihak pada kepentingan publik.
Jika kebijakan yang diambil justru bertentangan dengan kebutuhan tersebut, mengapa kita harus mempertahankannya hanya karena tidak ingin mengakui kesalahan pihak yang kita dukung?
Idealisme Masyarakat Tidak Boleh Kalah oleh Loyalitas Politik
Menjadi masyarakat yang idealis bukan berarti selalu menentang pemerintah. Idealisme berarti memiliki prinsip yang tidak mudah berubah hanya karena kepentingan politik, popularitas tokoh, atau tekanan lingkungan.
Orang yang idealis dapat mendukung suatu kebijakan hari ini dan mengkritiknya pada kesempatan lain apabila ditemukan persoalan. Ia tidak harus mempertahankan pendapat lama hanya demi menjaga konsistensi dukungan terhadap seorang tokoh.
Seseorang yang selalu membela pemerintah belum tentu memiliki pendirian yang kuat. Jika dukungannya membuat ia mengabaikan fakta, menolak evaluasi, dan memaklumi kebijakan yang merugikan masyarakat, sikap tersebut justru menunjukkan bahwa loyalitasnya telah mengalahkan penalarannya.
Dalam kehidupan demokrasi, ukuran keberpihakan kita seharusnya bukan semata-mata kepada siapa kekuasaan berada, melainkan kepada prinsip yang ingin kita jaga: keadilan, kesejahteraan, transparansi, dan pertanggungjawaban.
Kita tidak perlu membenci pemimpin untuk mengkritik kebijakannya. Kita juga tidak perlu menjadi pendukung oposisi untuk mengakui bahwa sebuah kebijakan bermasalah. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menilai setiap keputusan berdasarkan fakta dan dampaknya terhadap masyarakat.
Kritik Kebijakan, Bukan Menyerang Personal
Satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa kritik terhadap pemerintah tidak sama dengan serangan pribadi terhadap pejabatnya. Kritik kebijakan berfokus pada isi keputusan, dasar pertimbangan, proses penyusunan, pelaksanaan, dan dampaknya bagi masyarakat. Jika sebuah aturan dinilai merugikan kelompok tertentu, pembahasannya harus diarahkan pada alasan mengapa aturan tersebut bermasalah dan bagaimana seharusnya diperbaiki.
Serangan personal cenderung berfokus pada penghinaan, penampilan, kehidupan pribadi yang tidak relevan, atau hal-hal lain yang tidak menjawab persoalan kebijakan. Perbedaan ini penting karena tujuan kritik seharusnya mendorong perbaikan, bukan melampiaskan kemarahan.
Misalnya ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan yang berpotensi membebani masyarakat, kita dapat mempertanyakan dasar pengambilan keputusan, transparansi anggaran, kelompok yang paling terdampak, serta mekanisme evaluasinya. Kritik seperti ini jauh lebih berguna daripada sekadar menghina pejabat yang bersangkutan.
Kita perlu membiasakan diri menyampaikan kritik dengan argumentasi yang jelas. Jika terdapat data yang keliru, perbaiki datanya. Jika ada aturan yang bermasalah, jelaskan bagian yang perlu dievaluasi. Jika pelaksanaannya tidak sesuai tujuan, tunjukkan dampaknya dan tawarkan perbaikan yang masuk akal. Kritik tidak berhenti sebagai luapan emosi, tetapi menjadi bagian dari pengawasan masyarakat terhadap penyelenggaraan negara.
Jangan Mudah Terprovokasi, Periksa Fakta Sebelum Bereaksi
Keberanian bersuara juga harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis. Jangan sampai niat untuk mengawasi pemerintah justru dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin memancing kemarahan atau menyebarkan informasi menyesatkan.
Di media sosial, potongan video, judul provokatif, kutipan tanpa konteks, dan informasi yang belum terverifikasi dapat menyebar dengan cepat. Konten semacam itu sering kali dirancang untuk memancing reaksi emosional sebelum orang sempat memahami persoalan secara utuh.
Kita perlu membiasakan diri memeriksa sumber informasi, membaca konteks lengkap, membandingkan pemberitaan dari sumber tepercaya, dan mencari dokumen resmi jika persoalannya berkaitan dengan peraturan atau kebijakan publik.
Jangan langsung mempercayai sebuah informasi hanya karena sesuai dengan pandangan politik kita. Jangan pula langsung menolaknya hanya karena informasi tersebut menunjukkan kekurangan pihak yang kita dukung.
Sikap kritis harus berlaku dua arah. Kita harus berani mengoreksi pihak yang tidak kita sukai ketika mereka menyampaikan informasi keliru, tetapi juga berani mengakui kesalahan pihak yang kita dukung ketika faktanya memang menunjukkan demikian.
Perlu diingat, tidak semua kritik otomatis benar dan tidak semua pembelaan otomatis salah. Keduanya harus diuji melalui fakta, argumentasi, dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Masyarakat yang cerdas bukan masyarakat yang paling keras berdebat, melainkan masyarakat yang mampu membedakan informasi, opini, propaganda, dan fakta.
Jangan Sampai Perbedaan Politik Memecah Masyarakat
Perbedaan pandangan politik merupakan hal yang wajar dalam demokrasi. Kita tidak harus memiliki pilihan politik yang sama untuk dapat berdiskusi mengenai masa depan negara. Sayangnya perbedaan tersebut terkadang membuat orang lebih sibuk mempertahankan identitas kelompok daripada membahas substansi persoalan.
Kritik terhadap kebijakan dianggap sebagai serangan terhadap pendukungnya, sedangkan pembelaan terhadap pemerintah dipandang sebagai bukti bahwa seseorang tidak memiliki kepedulian terhadap masyarakat.
Persoalan publik seharusnya dapat dibicarakan tanpa harus mengubah setiap perbedaan menjadi pertengkaran personal. Kita bisa berbeda pilihan politik, tetapi tetap sepakat bahwa korupsi harus diberantas, pelayanan publik harus diperbaiki, hukum harus ditegakkan secara adil, dan kebijakan pemerintah harus dapat dipertanggungjawabkan.
Kita juga perlu memahami bahwa masyarakat yang saling mengawasi dan mengingatkan justru dapat memperkuat demokrasi. Kritik yang disampaikan dengan itikad baik dapat membantu menemukan kelemahan kebijakan sebelum dampaknya menjadi lebih luas.
Jangan mudah memusuhi orang hanya karena ia mengkritik pemerintah yang kita dukung. Dengarkan argumentasinya, periksa faktanya, lalu tanggapi substansinya. Jika kritiknya benar, tidak ada salahnya mengakuinya. Jika keliru, bantah dengan alasan yang jelas.
Pemerintah Perlu Diawasi, Bukan Diperlakukan seperti Idola
Tokoh politik adalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Mereka dapat membuat keputusan yang tepat, tetapi juga dapat melakukan kesalahan. Menempatkan seorang pemimpin seolah-olah selalu benar merupakan sikap yang berbahaya bagi kehidupan demokrasi.
Menghormati pemimpin tidak berarti harus menyetujui semua kebijakannya. Mendukung pemerintah juga tidak berarti kehilangan hak untuk menyampaikan keberatan, justru masyarakat perlu menjaga jarak kritis agar tidak terjebak dalam pemujaan terhadap tokoh. Ketika pemimpin diperlakukan seperti idola yang tidak boleh dikritik, kesalahan berisiko dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan pengawasan publik menjadi melemah.
Kekuasaan membutuhkan pengawasan. Pemerintah perlu menerima kritik, menjelaskan keputusan yang diambil, dan memperbaiki kebijakan ketika ditemukan persoalan. Hal ini bukan bentuk permusuhan, tetapi bagian dari pertanggungjawaban dalam negara demokrasi.
Masyarakat pun tidak seharusnya menggantungkan penilaian terhadap keberhasilan negara hanya pada sosok pemimpinnya. Yang lebih penting adalah apakah kebijakan yang dijalankan memberikan manfaat, melindungi hak warga, dan menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Kita tidak perlu menjadi pembenci pemerintah untuk menjadi masyarakat yang kritis. Kita juga tidak perlu menjadi pembela pemerintah untuk menunjukan kecintaan terhadap negara.
Jadilah masyarakat yang memiliki prinsip, berani bersuara ketika kebijakan salah, dan cukup dewasa untuk mengakui ketika pihak yang kita dukung melakukan kesalahan. Sebab loyalitas terbesar kita seharusnya bukan kepada tokoh politik, tetapi kepada kebenaran, keadilan, dan kepentingan masyarakat luas.
