Konten dari Pengguna

Melek Finansial atau Cuma Melek Belanja Online? Kita Perlu Jujur

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sofi Putri j tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hampir semua orang kini jago berburu voucher dan menunggu flash sale, tapi apakah itu berarti kita sudah melek finansial? Kemahiran berbelanja online belum tentu sama dengan kemampuan mengelola uang.

https://kumparan.com/kumparanbisnis/jenius-ingatkan-nasabah-soal-paylater-jangan-dipakai-hura-hura-212brv1Q03z

sumber foto: ilustrasi yang di buat dengan bantuan AI

Mahir Klik, Belum Tentu Melek Finansial.

Platform belanja online dirancang agar proses membeli terasa nyaris tanpa hambatan. Satu klik, satu kali bayar, barang datang ke rumah. Fitur paylater dan cicilan tanpa kartu kredit membuat uang yang belum kita punya terasa seperti sudah ada. Di sinilah letak persoalannya. Kemudahan transaksi tidak otomatis membuat pemahaman kita soal uang ikut naik. Kita bisa sangat fasih memakai aplikasi, tetapi tidak tahu berapa persen pengeluaran bulanan kita habis untuk belanja, berapa bunga dan denda cicilan yang sedang berjalan, atau berapa tabungan yang tersisa setelah tanggal gajian lewat.

https://kumparan.com/kumparanbisnis/jenius-ingatkan-nasabah-soal-paylater-jangan-dipakai-hura-hura-212brv1Q03z

Diskon Bukan Selalu Hemat Banyak dari kita merasa hemat karena membeli barang saat diskon. Padahal hemat itu soal selisih antara uang yang masuk dan uang yang keluar, bukan soal seberapa besar potongan harga. Barang diskon 50 persen yang sebenarnya tidak dibutuhkan tetap pengeluaran penuh dari dompet kita. Tanggal kembar, harbolnas, dan notifikasi "stok tinggal sedikit" bekerja pada psikologi kita, bukan pada kebutuhan kita. Orang yang melek finansial bertanya dulu, "Perlu atau cuma tergoda?" Orang yang hanya melek belanja langsung bertanya, "Masih ada voucher tidak?"

Ciri Melek Finansial yang Sebenarnya Melek finansial tidak berarti harus paham instrumen investasi yang rumit. Ukurannya jauh lebih sederhana: Tahu ke mana uang pergi setiap bulan. Memisahkan kebutuhan dari keinginan. Punya dana darurat, sekecil apa pun. Paham biaya utang sebelum memakai paylater atau cicilan. Menyisihkan tabungan di awal, bukan dari sisa. Kalau lima hal ini belum terpenuhi, bisa jadi kita baru melek belanja.

Tanggung Jawab Bersama, tapi Kendali di Tangan Kita Tentu platform dan penyedia layanan keuangan punya tanggung jawab menyampaikan informasi biaya dengan jelas. Literasi keuangan juga perlu diajarkan lebih serius, sejak bangku sekolah. Namun pada akhirnya, keputusan menekan tombol bayar ada di tangan kita sendiri.

https://kumparan.com/kumparanbisnis/cari-paylater-terbaik-2026-ini-cara-memilih-layanan-yang-tepat-dan-lebih-hemat-27v5DTMwPov

Penutup Belanja online bukan musuh. Ia memudahkan hidup dan membuka peluang bagi banyak pelaku usaha kecil. Masalah muncul ketika kemudahan itu tidak diimbangi kemampuan mengelola uang. Mungkin sudah waktunya kita menambah satu keahlian di samping jago berburu diskon: jago membaca arus uang sendiri. Sebab melek finansial bukan soal seberapa banyak yang bisa kita beli, tetapi seberapa tenang kita menjalani hidup setelah membelinya.