Sepenggal Kisah Penjual Donat, dari Pekerja Kantoran Jadi Pengusaha Muda
Tulisan dari Sofi Hapsari Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tak pernah terbayangkan oleh Nydia Jannah di masa kecil, bahwa ketika usianya menjelang kepala 3, ia akan menjadi seorang pengusaha. Cita-citanya untuk menjadi seorang penulis telah tercapai kala usianya 24 tahun.
Saat itu ia menjadi jurnalis di salah satu media cetak yang berkantor di Pondok Gede, Jakarta Timur. Kemudian dua tahun berikutnya, ia menjadi content writer di sebuah perusahaan teknologi kesehatan di Jakarta Selatan.
Tahun-tahun berlalu, ia mendapat banyak tawaran side job, untuk menjadi penulis konten di berbagai perusahaan. Hingga membuatnya harus bekerja di depan laptop nyaris 24 jam setiap harinya.
Namun, bagai pedang bermata dua, kecintaannya pada menulis membuatnya harus mengorbankan kesehatan fisik dan mentalnya. Akhirnya di 2023, ia memutuskan untuk resign, dan merintis usahanya sendiri.
“Waktu itu memang karier sedang bagus, penghasilan setiap bulan mencapai 2 digit. Tapi capeknya bukan main. Kalau diteruskan, sepertinya saya akan gila, atau mati muda,” ungkapnya.
Bersama sang suami, Nydia pun membuka usaha toko grosir sembako dan snack. Dua tahun penuh perjuangan pun berlalu, Nydia akhirnya mempekerjakan satu orang pegawai untuk membantu menjalankan bisnisnya.
“Karena saya lihat omzet sudah stabil, suami dan pegawai saya sudah mahir, saya memutuskan untuk merintis usaha kedua. Sebenarnya sambil menjalankan hobi, sih.”
Selama bertahun-tahun hidup Nydia dihabiskan untuk mencari uang. Ketika merasa sudah tidak dalam survival mode, ia pun mulai menekuni hal-hal yang menjadi hobinya. Salah satunya adalah baking.
Dari dapur kecil di lantai dua rukonya, Nydia awalnya mencoba berjualan cookies, brownies, dan bolu. Karena dirasa peminatnya semakin berkurang, ia pun mencoba berjualan donat.
“Awalnya cookies dan brownies alhamdulillah banyak yang antusias. Mungkin lama-lama bosan, banyak pesaing, atau kurang gencar promosi, jadinya peminatnya semakin berkurang,” ungkapnya.
“Akhirnya di bulan april 2026 mulai mencoba mengulik resep donat, trial dan error. Setelah mantap, langsung buka PO dan buka juga di grabfood serta shopeefood.”
Karena pesanan donat semakin banyak, Nydia pun merasa kewalahan produksi sendirian di dapur kecilnya. Kemudian ia memutuskan menyewa sebuah kios kecil di dekat pasar, yang ia jadikan sebagai rumah produksi, sekaligus tempat untuk menjual donat buatannya.
Tak hanya di kios, Nydia juga membuka booth di tengah pasar, agar semakin banyak orang yang mengenal donat yang ia jual.
“Alhamdulillah setelah jualan offline, penjualan semakin ramai, banyak yang antusias untuk mencoba. Hingga kewalahan produksinya, padahal sudah menyediakan lebih dari 400 pcs donat setiap harinya,” kata Nydia.
Meski sempat sepi pembeli, wanita berusia 32 tahun ini tidak menyerah. Ia pun gencar mempromosikan donatnya di berbagai platform media sosial. Benar saja, penjualan kembali naik, dan omzet pun kian stabil.
“Sebenarnya saya ingin menjalani usaha donat ini dengan santai. Kalau ramai bersyukur, sepi pun tetap bersyukur. Namun saya sadar, ada pegawai yang harus digaji, jangan sampai usaha ini gulung tikar. Jadi saya terus berusaha untuk mempromosikan. Barangkali banyak warga sekitar sini yang belum tahu,” ungkapnya.
Hingga artikel ini ditulis, usaha donat Nydia sudah berjalan selama 5 bulan. Meski perjalanan masih panjang, ia mengaku akan terus semangat, dan berharap bisa menambah cabang dan pegawai, agar usahanya bisa menjadi berkah bagi banyak orang.
“Harapannya sih NJ Donat bisa buka banyak cabang di berbagai tempat. Supaya saya bisa buka lapangan pekerjaan juga untuk orang yang membutuhkan. Mungkin butuh waktu, tapi akan saya jalani dengan penuh syukur setiap harinya,” pungkasnya.

