Konten dari Pengguna

Stone Garden, Indahnya Taman Bebatuan Dasar Laut Purba

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sofi Hapsari Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Stone Garden Citatah di kawasan Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (31/05/26). Foto: Sofi Hapsari Putri
zoom-in-whitePerbesar
Stone Garden Citatah di kawasan Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (31/05/26). Foto: Sofi Hapsari Putri

Konon, Bandung selalu memberi kesan dan kehangatan tersendiri bagi siapa pun yang datang berkunjung. Begitu pula yang saya rasakan kala itu.

Setelah puas menikmati riuhnya tempat-tempat viral di Kota Bandung, petang itu saya sempatkan untuk mengunjungi tempat wisata alam yang mungkin belum banyak diketahui, Stone Garden.

Seperti namanya, Stone Garden, atau yang sering disebut juga Stone Garden Citatah, merupakan destinasi “taman” bebatuan yang indah. Berlokasi di perbukitan karst Padalarang, Bandung Barat.

Meski dinamakan taman, bebatuan yang ada di tempat wisata ini konon merupakan dasar lautan purba, yang airnya telah surut karena letusan gunung berapi dan pergeseran tanah.

Itulah sebabnya bebatuan di Stone Garden berbentuk runcing dan memiliki rongga-rongga, seperti terumbu karang yang ada di dasar laut. Awalnya, hanya aktivis peneliti yang datang ke sini. Hingga akhirnya pada 2014, kawasan ini dibuka untuk umum, dan dijadikan tempat wisata.

Bermodalkan Google Maps, saya dan keluarga berangkat ke lokasi sekitar pukul 15.00. Jalan yang naik-turun dan berkelok-kelok, ditambah papan penunjuk arah yang sangat minim, sempat membuat perjalanan terhambat.

Saat sudah dekat menuju lokasi, kami baru menyadari bahwa ada perbaikan jalan menuju Stone Garden, sehingga akses pun dialihkan ke jalur yang cukup ekstrem untuk dilakui kendaran roda empat.

Bagaimana tidak, jalur alternatif yang tersedia sangatlah sempit, hanya muat satu mobil. Kondisi jalan yang naik-turun dan berbatu-batu, serta jurang di kanan jalan juga membuat kami sekeluarga berdebar.

Setelah melalui jalan yang ekstrem, akhirnya kami tiba di pintu masuk tempat wisata, sekitar pukul 16.00. Harga tiketnya cukup murah, yaitu sekitar Rp12.000-Rp14.000 per orang, serta biaya parkir Rp7.000 untuk mobil, dan Rp5.000 untuk motor.

Tak seperti akses jalannya yang sempit, area parkir kendaraan ternyata cukup luas. Ada beberapa warung yang menjajakan makanan dan minuman, serta toilet umum yang bisa digunakan pengunjung.

Mungkin karena kami berkunjung di sore hari, tidak banyak pengunjung yang kami temui. Area parkir pun tampak sepi, hanya ada sedikit kendaraan yang terparkir.

Namun, bagi kami yang ingin merasakan suasana alam yang asri dan tenang, tentunya ini menjadi kabar baik, bukan? Tak ingin berlama-lama di parkiran, kami pun segera masuk ke area Stone Garden.

Karena dari area parkir tidak terlihat seperti apa bukit bebatuan yang menjadi ikon tempat wisata ini, rasa penasaran, senang, dan semangat bercampur aduk jadi satu.

Dengan menaiki beberapa anak tangga dan jalan yang sedikit menanjak, tibalah kami di atas. Tampak banyak tumpukan batu dengan berbagai ukuran, berjajar indah berlatarkan panorama alam yang membuat siapa pun takjub.

Meski dari area parkir tampak sepi, ternyata ada beberapa pengunjung yang sedang berfoto, atau sekadar duduk-duduk di atas batu menikmati suasana. Terlihat pula ada warga negara asing yang muncul dari balik bukit yang lebih tinggi, sambil menenteng peralatan foto profesional. Sepertinya mereka baru saja selesai mengabadikan pemandangan indah Stone Garden.

Stone Garden Citatah di kawasan Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (31/05/26). Foto: Sofi Hapsari Putri

Tak jauh dari tempat kami berdiri, ada gerombolan monyet liar yang sedang bermain. Karena saya sudah mencari tahu terlebih dahulu tentang tempat ini, keberadaan monyet-monyet tersebut tidak membuat saya kaget.

Ketika saya mengeluarkan kamera untuk mengambil gambar pemandangan, monyet-monyet itu mendekat. Kalau diperhatikan, sepertinya mereka lapar, karena salah satu monyet tampak sedang menggigiti sampah makanan. Namun, karena sudah diwanti petugas di pintu masuk untuk tidak membawa makanan ke atas bukit, monyet-monyet itu tidak mengganggu kami sama sekali.

Saking indahnya pemandangan di atas bukit Stone Garden, kami tidak sadar telah menghabiskan banyak waktu di sini. Karena matahari mulai kembali ke peraduan, kami pun memutuskan untuk turun dan pulang, sebelum langit semakin gelap.

Meski sangat singkat, pengalaman berkunjung ke Stone Garden memberi kesan tersendiri yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Sulitnya perjalanan untuk bisa tiba di tempat ini rasanya sepadan dengan indahnya panorama alam yang akan terekam jelas di hati kami.