Konten dari Pengguna

Nusantara Berdaya lewat Kreativitas yang Dibayar Mahal

Sri Erni Susyanti

Sri Erni Susyanti

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sri Erni Susyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia tidak pernah kekurangan orang kreatif. Dari pengrajin batik di pelosok Pekalongan, ilustrator muda di Yogyakarta, hingga konten kreator yang bermunculan dari kamar kos di berbagai kota, kreativitas anak bangsa mengalir deras. Namun ada ironi yang jarang diakui secara terbuka: kreativitas itu sering kali dihargai murah. Sebuah logo hasil berjam-jam merancang dibayar seharga dua porsi makan siang. Sebuah cerita pendek yang lahir dari perenungan panjang dijual seharga tarif fotokopi. Kita punya banyak ide, tapi belum cukup punya kemampuan menjualnya dengan layak.

Di sinilah edupreneurship menemukan relevansinya yang paling mendesak.

sumber AI generator 2026
zoom-in-whitePerbesar
sumber AI generator 2026

Kreativitas yang Tidak Diajarkan Nilainya

Selama ini, pendidikan kita unggul mengajarkan cara mencipta,melukis, menulis, merancang, berinovasi tetapi lemah mengajarkan cara memberi harga pada ciptaan itu. Sekolah mencetak lulusan yang piawai berkarya, namun gagap ketika harus bernegosiasi, membangun personal branding, atau memahami hak kekayaan intelektual atas karyanya sendiri. Akibatnya, banyak talenta kreatif Indonesia justru "dipanen" oleh pihak lain yang lebih paham nilai pasar, sementara penciptanya hanya kebagian recehan penghargaan.

Padahal, di negara-negara dengan ekosistem ekonomi kreatif yang matang, kreativitas justru menjadi komoditas premium. Desainer dibayar dengan royalti, penulis dengan lisensi berkelanjutan, kreator dengan kontrak jangka panjang. Bedanya bukan pada kualitas ide ide Nusantara tidak kalah orisinal melainkan pada literasi kewirausahaan yang menyertainya.

Edupreneurship: Mengubah Karya Jadi Nilai

Edupreneurship menawarkan jalan keluar dari ironi ini. Ia bukan sekadar menambahkan mata pelajaran "kewirausahaan" ke dalam kurikulum, melainkan mengubah cara pandang: bahwa setiap karya kreatif punya nilai ekonomi yang berhak diperjuangkan penciptanya sendiri. Siswa yang belajar desain grafis semestinya juga belajar cara mematok harga jasanya. Mahasiswa yang menulis skenario semestinya paham bagaimana menjual hak cipta tanpa dirugikan. Pengrajin muda yang mewarisi keterampilan tenun dari orang tuanya semestinya juga dibekali kemampuan memasarkan produknya ke pasar global, bukan hanya ke pasar kaget di kampung sendiri.

Beberapa contoh sudah menunjukkan jalan ini bisa ditempuh. UMKM kreatif yang naik kelas berkat pelatihan branding dan digital marketing, konten kreator lokal yang berhasil membangun sumber penghasilan stabil dari platform daring, hingga pengrajin yang produknya menembus pasar ekspor setelah dibimbing memahami standar dan negosiasi bisnis internasional. Pola yang sama selalu muncul: kreativitas yang dipadukan dengan literasi bisnis menghasilkan nilai berlipat ganda dibanding kreativitas yang berjalan sendirian.

Bukan Sekadar Uang, Tapi Martabat

Membicarakan kreativitas yang "dibayar mahal" bukan berarti mereduksi seni dan inovasi menjadi sekadar transaksi. Ini soal martabat. Ketika karya seorang anak bangsa dihargai sepadan dengan kerja keras dan orisinalitasnya, di situlah kepercayaan diri bangsa turut terangkat. Sebaliknya, ketika kreativitas terus-menerus dibayar murah, yang terjadi bukan hanya kerugian ekonomi, melainkan juga perlahan mematikan gairah untuk terus berkarya.

Bangsa yang berdaya bukan hanya bangsa yang banyak berkarya, melainkan bangsa yang tahu bagaimana membuat karyanya diekonomi termasuk secara ekonomi.

Saatnya Sekolah Menjadi Etalase, Bukan Hanya Bengkel

Jika selama ini institusi pendidikan berperan sebagai bengkel yang mengasah keterampilan, kini saatnya ia juga menjadi etalase yang mengajarkan bagaimana keterampilan itu dipajang, dinilai, dan dijual dengan bermartabat. Edupreneurship perlu hadir bukan sebagai pelengkap kurikulum, melainkan sebagai napas baru pendidikan Indonesia—yang menyadarkan setiap siswa bahwa ide di kepala mereka bukan sekadar tugas untuk dinilai guru, tetapi aset yang layak diperjuangkan nilainya di dunia nyata.

Nusantara Cendikia sejatinya bukan hanya tentang merajut kreativitas, tetapi juga tentang mendidik generasi yang berani menghargai kreativitasnya sendiri. Sebab bangsa yang berdaya bukanlah bangsa yang hanya pandai berkarya, melainkan bangsa yang tahu harga dari karyanya sendiri—dan berani menagihnya dengan kepala tegak.