Satu Kata 'Tidak' yang Bisa Menyelamatkan Diri Sendiri

Sistem Informasi, Universitas Mitra Indonesia
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari William tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita mungkin sering mendengar nasihat, “Kalau bisa membantu, kenapa tidak?”
Sebuah kalimat sederhana yang diwariskan dari generasi ke generasi ini, tanpa disadari, perlahan membentuk cara kita berpikir — bahwa menjadi orang baik berarti selalu berkata “ya” pada segala hal, bahkan ketika hati kecil kita ingin berkata sebaliknya.
Nasihat itu terdengar sederhana, tapi di baliknya ada nilai lama yang diajarkan sejak kecil: bahwa kebaikan selalu berarti pengorbanan.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah kebiasaan ini perlahan membuat kita kehilangan diri sendiri?
Di masa ketika segalanya bergerak begitu cepat, kita hidup dalam tuntutan untuk selalu berbuat lebih banyak, bekerja lebih baik, dan terus menambah — lebih, dan lebih lagi. Tanpa sadar, semua itu perlahan mendorong kita untuk berkata “ya” pada hampir segala hal, seolah penolakan berarti tertinggal.
Ironisnya, keinginan untuk selalu menjadi orang baik kadang justru membuat kita menjauh dari kebaikan itu sendiri. Kita menolong semua orang, kecuali diri kita.
Kita menuruti begitu banyak hal, tapi kehilangan alasan mengapa. Tubuh mungkin masih bergerak, tapi hati terasa diam.
Menolak bukan berarti berhenti peduli. Kadang itu justru cara paling jujur untuk menjaga apa yang benar-benar penting.
Toh hidup bukan tentang seberapa banyak hal yang bisa kita setujui, tapi seberapa jujur kita bisa mendengarkan apa yang tidak lagi ingin kita lakukan.
Mungkin di situlah, pelan-pelan, kita belajar arti kedewasaan — bukan lagi soal bisa menyenangkan semua orang, tapi berani hidup dengan keputusan yang benar-benar milik kita sendiri.
Karena terkadang, satu kata “tidak” yang tulus lebih penuh cinta daripada seribu “ya” yang terpaksa.
