Film The Odyssey (2026): Ketika Perjalanan Seorang Raja Menjadi Cermin Kekuasaan

Penulis berita mahasiswa dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Stephen juliano Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Film The Odyssey (2026) hasil karya sutradara Christopher Nolan bukan sekedar kisah petualangan seorang raja yang sedang berperang. Di balik perjalanan panjang Odysseus (sang raja), film ini memberikan ruang yang terbuka untuk membahas persoalan yang lebih luas seperti: kekuasaan, tanggung jawab seorang pemimpin, dampak perang, dan bagaimana seseorang menggunakan kekuatannya ketika berhadapan dengan orang lain.
Diadaptasi dari penyair Yunani kuno karya Homer, The Odyssey mengikuti perjalanan Odysseus, Raja Ithaca, yang berjuang kembali ke tanah kelahirannya setelah Perang Troya. Perjalanan yang seharusnya singkat berubah menjadi pengembaraan panjang selama bertahun-tahun. Universal Pictures menghadirkan kisah tersebut sebagai film yang epik dengan unsur aksi, drama, dan petualangan mitologis kuno. Namun, di balik skala ceritanya yang besar, terdapat persoalan manusia dan kekuasaan yang tetap relevan bagi masyarakat masa kini.
Sebuah Kekuasaan Tidak Selalu Berarti Kepemimpinan yang Benar
Salah satu cara untuk membaca The Odyssey adalah melalui teori Marxisme. Teori ini membantu penonton memahami hubungan antara kekuasaan, kelas sosial, kepentingan kelompok, dan ideologi yang bekerja di balik sebuah cerita.
Dalam konteks film ini, kedudukan Odysseus sebagai raja menjadi titik awal untuk mempertanyakan arti kekuasaan. Sebagai pemimpin, ia memiliki tanggung jawab terhadap rakyat dan kerajaannya. Akan tetapi, pengalaman perang dan keputusan yang diambil selama perjalanan menunjukkan bahwa status sebagai pemimpin tidak otomatis menjadikan seseorang benar secara moral.
Dari sudut pandang politik, persoalan tersebut penting karena kekuasaan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memerintah atau tentang memenangkan peperangan. Kekuasaan juga menyangkut tanggung jawab atas akibat dari keputusan yang dibuat seorang pemimpin. Seorang pemimpin dapat memperoleh kemenangan, tetapi kemenangan tersebut belum tentu menghapus penderitaan yang dialami orang lain.
Film The Odyssey menarik untuk dikaitkan dengan kehidupan saat ini, yaitu politik modern. Dalam berbagai situasi, keberhasilan pemimpin sering kali diukur melalui sebuah kemenangan, pencapaian, atau kemampuannya mempertahankan kedudukan. Padahal, masyarakat juga perlu mempertanyakan siapa yang menanggung akibat dari keputusan tersebut dan dampak apa yang diterima atas keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin.
Dengan demikian, perjalanan Odysseus dapat dibaca sebagai pengingat bahwa kepemimpinan seharusnya tidak hanya dinilai dari hasil yang terlihat, tetapi juga dari proses, pilihan moral, dan tanggung jawab yang besar.
Perang, Ideologi, dan Harga Dari Sebuah Kemenangan
Politik dan ideologi menjadi bagian penting dalam pembacaan film ini karena cerita Odysseus berangkat dari Perang Troya. Perang dalam kisah epik sering digambarkan sebagai perjuangan untuk mempertahankan kehormatan, membela kepentingan kelompok, atau memperoleh kemenangan. Namun, cara pandang tersebut juga dapat menyembunyikan persoalan lain, seperti penderitaan manusia dan dampak kekerasan.
Melalui perspektif ini, penonton dapat mempertanyakan bagaimana sebuah peperangan dibenarkan dan siapa yang berhak menentukan bahwa suatu tindakan merupakan kemenangan. Apakah kemenangan selalu menunjukkan keberhasilan? Ataukah sebuah kemenangan justru dapat menyisakan persoalan yang harus ditanggung oleh pihak-pihak yang terlibat?
Pertanyaan tersebut berkaitan dengan ideologi, yaitu tentang bagaimana gagasan dan nilai yang membentuk cara masyarakat memahami dunia. Ketika perang dipandang sebagai jalan untuk mempertahankan kehormatan, kekerasan dapat terlihat sebagai sesuatu yang wajar atau bahkan diperlukan. Sebaliknya, ketika cerita dilihat dari sudut pandang korban dan pihak yang kehilangan, makna kemenangan menjadi lebih rumit.
Kisah ini dapat digunakan untuk mengajak penonton berpikir kritis tentang hubungan antara perang, kepentingan politik, dan nilai-nilai yang digunakan untuk membenarkan tindakan penguasa.
Bagaimana Visual Dapat Membentuk Makna Kekuasaan?
Film ini tidak hanya menyampaikan pesan melalui dialog. Kamera, komposisi gambar, penyuntingan, musik, dan desain suara juga dapat membentuk cara penonton memahami cerita.
Dalam menganalisis The Odyssey, penonton dapat memperhatikan bagaimana tokoh Odysseus ditempatkan dalam sebuah bingkai gambar, bagaimana adegan peperangan disusun, dan bagaimana musik digunakan untuk membangun suasana. Jika tokoh pemimpin ditampilkan melalui gambar yang megah, hal tersebut dapat memperkuat kesan kewibawaan dan kekuatan dari seorang pemimpin. Namun, jika gambar yang sama memperlihatkan tokoh tersebut sendirian di tengah lingkungan yang luas, kesan yang muncul dapat berubah menjadi sebuah keterasingan.
Begitu pula pada saat proses penyuntingan adegan perang. Urutan gambar yang menampilkan kemenangan, kehancuran, dan penderitaan dapat menghasilkan pemahaman yang lebih kompleks dibandingkan jika film hanya menonjolkan keberhasilan seorang pahlawan.
Contoh tersebut merupakan cara membaca bahasa film, bukan klaim bahwa setiap teknik tersebut digunakan dalam adegan tertentu. Untuk memastikan penerapannya, penonton perlu mengamati adegan film secara langsung.
Melalui pendekatan ini, penonton tidak hanya mengikuti alur cerita, tetapi juga mempertanyakan bagaimana film mengarahkan perhatian dan membentuk penilaian terhadap karakter maupun peristiwa.
Kesimpulannya, The Odyssey (2026) memperlihatkan bagaimana sebuah kisah klasik dapat menjadi pintu masuk untuk membahas persoalan yang melampaui petualangan dan mitologi. Melalui teori Marxisme, film ini dapat dibaca dari hubungan kekuasaan dan tanggung jawab. Melalui perspektif politik dan ideologi, cerita perang membuka pertanyaan tentang siapa yang menentukan kemenangan dan siapa yang menanggung akibatnya. Menurut saya, kekuatan cerita seperti The Odyssey terletak pada kemampuannya menghadirkan pertanyaan yang tidak selalu memiliki jawaban sederhana. Seorang
raja dapat memenangkan peperangan, tetapi apakah ia telah menjadi pemimpin yang bertanggung jawab? Seseorang dapat berjuang untuk pulang, tetapi apakah perjalanan tersebut juga mengubah cara ia memahami dirinya dan orang lain?
Pada akhirnya, menonton sebuah film tidak harus berpegang pada penilaian apakah ceritanya menarik atau visualnya mengesankan. Film juga dapat menjadi ruang untuk membaca kembali persoalan masyarakat, mempertanyakan ideologi yang dianggap wajar, dan memahami bahwa kekuasaan selalu membawa konsekuensi. Melalui film The Odyssey dapat dilihat bukan hanya sebagai kisah tentang perjalanan pulang seorang raja, tetapi juga sebagai kesempatan untuk merenungkan hubungan antara kepemimpinan, perang, moralitas, dan tanggung jawab manusia.
Review film The Odyssey (2026), Oleh: (Stephen Juliano Saputra), Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta
