Konten dari Pengguna

Mahasiswa KKN Unhas Ciptakan Aplikasi Mobile Keuangan Pertanian 'rUang Tani'

Terbaru

Terbaru

Technology

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Terbaru tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sulhan (kiri), kreator rUang Tani sekaligus mahasiswa KKN Tematik Unhas, menunjukkan antarmuka aplikasi pembukuan yang telah berhasil diakses melalui gawai salah satu peserta (kanan). Momen ini diabadikan usai kegiatan peluncuran dan pelatihan aplikasi di Kelurahan Banyorang, Kec. Tompobulu, Kab. Bantaeng. (Foto: Dok. Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Sulhan (kiri), kreator rUang Tani sekaligus mahasiswa KKN Tematik Unhas, menunjukkan antarmuka aplikasi pembukuan yang telah berhasil diakses melalui gawai salah satu peserta (kanan). Momen ini diabadikan usai kegiatan peluncuran dan pelatihan aplikasi di Kelurahan Banyorang, Kec. Tompobulu, Kab. Bantaeng. (Foto: Dok. Pribadi)

BANTAENG — Seringkali petani merasa mengantongi banyak uang usai masa panen raya tiba. Uang hasil penjualan terlihat melimpah di tangan, menciptakan perasaan untung besar. Namun, realitas pahit sering menyapa ketika uang tersebut habis tak bersisa untuk menutupi biaya operasional yang tak pernah tercatat.

Berangkat dari ironi tersebut, Sulhan, seorang mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Pertanian dan Teknologi Tepat Guna Universitas Hasanuddin (Unhas) 116, berhasil mendobrak tradisi program kerja konvensional. Melalui program kerja individunya di Kelurahan Banyorang, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, ia mengembangkan inovasi teknologi berupa aplikasi pembukuan digital khusus pertanian bernama "rUang Tani".

Dari Kertas Hilang hingga Kandasnya Pencatatan Manual

Inovasi ini tidak lahir dalam semalam. Persiapan dan riset telah dilakukan sejak awal penentuan tema KKN. Observasi yang dilakukan tidak hanya menyasar skala lokal di Kecamatan Tompobulu, melainkan melihat potret pertanian secara nasional. Mayoritas petani rupanya memiliki satu masalah serupa: tidak adanya pencatatan keuangan yang terstruktur.

"Petani rata-rata tidak benar-benar tahu berapa modal yang telah dikeluarkan sebelum panen, dan berapa total keuntungan bersih yang didapat setelah panen. Mereka juga tidak tahu berapa HPP (Harga Pokok Penjualan) atau modal per kilogram saat melakukan penjualan," ungkap Sulhan saat menceritakan temuan lapangannya.

Di Banyorang sendiri, kebiasaan mencatat keuangan nyaris tidak ditemukan. Segelintir petani yang mencatat masih mengandalkan buku kertas yang rentan hilang atau rusak akibat air dan tanah. Upaya pencarian solusi di ranah digital Play Store (toko aplikasi) pun buntu, sebab aplikasi pembukuan yang ada umumnya dirancang untuk keuangan personal, pedagang ataupun ritel, bukan untuk sistem musiman lahan pertanian.

Validasi masalah ini semakin menguat setelah berdiskusi dengan Ibu Mardiati, penyuluh dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang bertugas di Kelurahan Banyorang. Ia mengakui bahwa upaya edukasi pencatatan manual sebenarnya pernah digagas, namun tidak berjalan mulus di lapangan.

"Saya pernah mensosialisasikan buku pencatatan keuangan kepada para kelompok tani untuk mencatat keuangan usaha tani mereka, tapi tidak terlalu digunakan oleh petani, mungkin karena rumit dan sebagainya," ungkap Ibu Mardiati (Penyuluh Pertanian).

Kandasnya metode manual dan absennya solusi digital yang tepat guna inilah yang akhirnya memicu tekad Sulhan untuk merancang dan membangun aplikasi rUang Tani secara mandiri sebagai dedikasi program kerja pribadinya.

100% Offline, Gratis, dan Ramah Petani Berumur

Di balik layar pengembangan aplikasi dan Pratinjau antarmuka (UI/UX) menu Beranda dari rUang Tani (Foto: Dok. Pribadi)

Membangun teknologi untuk masyarakat desa pertanian tentu memiliki tantangan adopsi yang tinggi. Menyadari hal itu, pendekatan desain rUang Tani dibuat sangat membumi.

Tidak ada istilah akuntansi rumit di dalamnya. Aplikasi ini menggunakan bahasa keseharian yang lekat dengan telinga warga, seperti "pengeluaran", "pemasukan", dan "keuntungan". Istilah HPP yang rumit pun diterjemahkan menjadi "modal jual per kg".

"Jika ditanya apa fungsi aplikasi ini, jawabannya sangat sederhana: ini adalah aplikasi yang bisa membantu petani mengetahui modal dan keuntungan dalam bertani," jelas Sulhan.

Selain disediakan secara gratis, rUang Tani dirancang agar dapat diakses 100% secara offline demi menjawab tantangan infrastruktur di pedesaan atau di tengah kebun yang minim sinyal. Dari sisi antarmuka (UI/UX), aplikasi ini mengadopsi tipografi dengan warna kontras dan ukuran huruf yang besar, memastikannya tetap nyaman dan mudah dibaca oleh petani yang sudah berumur.

Antusiasme Warga dan Pengakuan akan "Ilusi Keuntungan"

Mahasiswa KKN Unhas memaparkan inovasi aplikasi pembukuan digital "rUang Tani" di hadapan para tokoh pertanian dan warga Kelurahan Banyorang, Kabupaten Bantaeng. (Foto: Dok. Pribadi)

Momen peluncuran, sosialisasi, dan pelatihan rUang Tani yang diselenggarakan pada Kamis, 23 Juli 2026, di Kantor Lurah Kelurahan Banyorang, menjadi pembuktian bahwa petani sejatinya sangat terbuka terhadap teknologi yang tepat guna. Acara ini dihadiri langsung oleh 15 tokoh penting pertanian di Banyorang, termasuk perwakilan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Tompobulu, para ketua kelompok tani, serta penyuluh swadaya pertanian setempat.

Antusiasme para tokoh dan warga tergambar jelas saat mereka berlomba-lomba memindai kode QR download yang ditampilkan di layar presentasi. Interaksi berjalan dua arah; peserta tak segan bertanya saat menemui kendala dalam mencoba fitur aplikasi di ponsel mereka.

Dalam sesi interaktif di tengah acara, Pak Burhan selaku penyuluh swadaya Kelurahan Banyorang secara jujur menyoroti fenomena "ilusi keuntungan" yang kerap menjebak petani, sekaligus memvalidasi betapa rentannya pencatatan tradisional yang selama ini ia lakukan.

"Terkadang petani merasa untung ketika sudah melakukan penjualan karena langsung menerima uang banyak, padahal belum tentu, karena modalnya juga besar dan tidak pernah dicatat sebelumnya. Saya rasa ini adalah aplikasi yang sangat bagus. Selama ini saya hanya melakukan pencatatan pada kertas terkait pengeluaran, dan catatannya itu kadang hilang ataupun basah," ungkap Pak Burhan memberikan apresiasi.

Antusiasme tersebut rupanya tidak berhenti di ruang pertemuan. Banyak warga yang langsung meminta tautan aplikasi untuk direkomendasikan kepada jejaring sesama petani di luar kelompok mereka. Bahkan, pasca-sosialisasi resmi berakhir, jalur komunikasi pribadi (chat) Sulhan masih ramai oleh pertanyaan lanjutan dari warga yang antusias menggunakan aplikasi ciptaannya tersebut.

Lebih dari Sekadar Uang, Menuju Skala Nasional

Nama rUang Tani sendiri dipilih dengan filosofi khusus. Ia bukan sekadar "uang" tani, melainkan sebuah "ruang" holistik bagi petani untuk mengelola lahannya.

Untuk memastikan keberlanjutan inovasi setelah masa KKN berakhir, kolaborasi strategis telah dijalin. Aplikasi ini telah terintegrasi dengan program penyuluh pertanian di Kelurahan Banyorang yang akan terus merekomendasikan rUang Tani kepada kelompok tani binaannya.

Langkah besar selanjutnya adalah merilis rUang Tani di platform Google Play Store. Tujuannya jelas: agar dampak positif dari efisiensi finansial ini tidak berhenti di Bantaeng, melainkan bisa dirasakan oleh seluruh petani di Indonesia, lintas komoditas dan lintas skala waktu tanam.

Pengembangan aplikasi juga tidak akan berhenti pada fitur pencatatan keuangan. Ke depannya, rUang Tani diproyeksikan memiliki fitur kecerdasan buatan untuk membantu petani mendeteksi masalah penyakit pada tanaman beserta rekomendasi solusi penanganannya.

Sebagai penutup, Sulhan selaku kreator rUang Tani menitipkan pesan kuat bagi seluruh mahasiswa yang sedang atau akan mengabdi di masyarakat.

"Buat seluruh mahasiswa KKN di Indonesia, jangan takut dan ragu untuk menciptakan hal-hal besar yang sekiranya bisa bermanfaat dan berdampak nyata bagi masyarakat."