Kenapa Gen Z Suka Matcha? Ini 5 Alasan di Balik Trennya

Mahasiswa ilmu komunikasi dari Universitas Pamulang.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhammad Sulthan Zaldi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Matcha Bukan Sekadar Minuman, tetapi Bagian dari Gaya Hidup
Belakangan ini, matcha semakin mudah ditemukan di berbagai kedai kopi, kafe, dan toko makanan di Indonesia. Minuman berwarna hijau ini hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari matcha latte, es krim, kue, hingga dessert yang menarik perhatian anak muda.
Bagi sebagian Generasi Z (Gen Z), matcha bukan sekadar minuman untuk melepas dahaga. Matcha juga menjadi teman belajar, bekerja, nongkrong, bahkan bagian dari konten yang dibagikan di media sosial.
Fenomena ini bukan tanpa alasan. Survei Jakpat terhadap 1.238 responden Indonesia pada April 2026 menunjukkan bahwa 34% Gen Z mengonsumsi matcha dalam enam bulan terakhir. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Gen X sebesar 17%. Meski demikian, kopi dan teh masih menjadi minuman yang lebih banyak dikonsumsi masyarakat secara keseluruhan.
Lantas, apa yang membuat Gen Z begitu menyukai matcha?
1. Rasa Khas yang Berbeda dari Minuman Lain
Salah satu daya tarik matcha adalah rasanya yang khas. Matcha memiliki rasa teh hijau yang cenderung sedikit pahit, dengan aroma dan sensasi rasa yang berbeda dari kopi maupun teh biasa.
Ketika dicampur dengan susu, gula, atau bahan lainnya, rasa matcha bisa menjadi lebih lembut dan mudah dinikmati. Hal ini membuat matcha dapat disajikan dalam berbagai variasi sesuai selera konsumen.
Tidak semua orang langsung menyukai rasa matcha. Namun, bagi penggemarnya, perpaduan rasa teh hijau dengan susu menciptakan pengalaman minum yang berbeda.
2. Warna Hijau yang Menarik di Media Sosial
Selain rasa, penampilan matcha juga menjadi daya tarik tersendiri. Warna hijaunya terlihat mencolok, terutama ketika disajikan dalam gelas transparan dengan perpaduan warna susu.
Tampilan tersebut membuat matcha menarik untuk difoto atau direkam sebelum diminum. Konten seperti proses pembuatan matcha latte, menu baru di kafe, dan rekomendasi tempat minum matcha juga banyak digunakan untuk berbagi pengalaman di media sosial.
Dengan demikian, media sosial tidak hanya menjadi tempat untuk menemukan tren, tetapi juga membantu membentuk ketertarikan konsumen terhadap suatu produk.
3. Matcha Menjadi Bagian dari Pengalaman Nongkrong
Bagi sebagian anak muda, membeli matcha juga berkaitan dengan pengalaman yang didapatkan ketika mengunjungi kafe.
Mereka tidak hanya membeli minuman, tetapi juga menikmati suasana tempat, menghabiskan waktu bersama teman, atau mencari ruang untuk belajar dan bekerja.
Kebiasaan ini menunjukkan bahwa konsumsi minuman dapat berkaitan dengan aktivitas sosial. Matcha menjadi salah satu pilihan yang menemani kegiatan tersebut, terutama bagi mereka yang menyukai rasa teh hijau.
Namun, bukan berarti semua penggemar matcha mengikuti tren yang sama. Ada yang menyukainya karena rasa, ada yang tertarik mencoba menu baru, dan ada pula yang menjadikannya bagian dari rutinitas sehari-hari.
4. Antara Tren dan Fear of Missing Out (FOMO)
Ketika sebuah minuman sering muncul di media sosial, sebagian orang mungkin terdorong untuk mencobanya agar tidak ketinggalan tren. Dalam psikologi sosial, fenomena ini dapat dikaitkan dengan Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan khawatir tertinggal dari pengalaman yang sedang dinikmati orang lain.
Meski begitu, tidak tepat jika semua orang yang menyukai matcha dianggap sekadar mengikuti tren. Kesukaan terhadap makanan dan minuman tetap bersifat pribadi.
5. Apakah Matcha Memang Lebih Sehat?
Matcha berasal dari teh hijau yang diolah menjadi bubuk halus. Teh hijau mengandung senyawa polifenol, termasuk katekin, yang banyak diteliti karena aktivitas antioksidannya.
Namun, manfaat suatu minuman tetap bergantung pada cara penyajian dan jumlah yang dikonsumsi. Matcha yang dicampur banyak gula, sirup, atau krimer tentu memiliki kandungan gizi berbeda dari matcha yang disajikan tanpa tambahan tersebut.
Matcha juga mengandung kafein. Karena itu, orang yang sensitif terhadap kafein sebaiknya memperhatikan jumlah konsumsi, terutama jika diminum menjelang waktu tidur.
Dengan kata lain, matcha dapat menjadi bagian dari pola konsumsi yang seimbang, tetapi tidak otomatis lebih sehat hanya karena berwarna hijau atau berasal dari teh.
Kecintaan terhadap matcha di kalangan Gen Z dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari rasa khas, tampilan yang menarik, pengalaman nongkrong, hingga pengaruh media sosial.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pilihan minuman anak muda tidak selalu berkaitan dengan kebutuhan fisik. Minuman juga dapat menjadi bagian dari pengalaman sosial dan gaya hidup.
Pada akhirnya, menyukai matcha bukan berarti harus mengikuti tren atau membeli minuman mahal setiap hari. Seseorang bisa menikmati matcha karena rasanya, membuatnya sendiri di rumah, atau sekadar mencobanya sesekali.
Jadi, kamu termasuk tim yang minum matcha karena benar-benar suka rasanya, atau tim yang awalnya penasaran karena sering melihatnya di media sosial?
