Mengapa Leonardo Bonucci Tolak Pinangan Pep Guardiola dan Manchester City

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
ekspresi pemain Juventus Leonardo Bonucci saat laga melawan Olympique Lyonnais di Allianz Stadium, Turin, Italia, Jumat (7/8).
zoom-in-whitePerbesar
ekspresi pemain Juventus Leonardo Bonucci saat laga melawan Olympique Lyonnais di Allianz Stadium, Turin, Italia, Jumat (7/8).

Mantan bek tangguh Leonardo Bonucci akhirnya blak-blakan mengenai salah satu momen paling krusial dalam karier sepak bolanya. Pria asal Italia tersebut mengungkapkan rincian di balik penolakannya terhadap tawaran menggiurkan dari manajer legendaris, Pep Guardiola, yang saat itu sangat berambisi untuk membawanya ke klub raksasa Inggris.

Keputusan menolak tawaran tersebut bukanlah perkara mudah bagi Bonucci. Godaan untuk mencicipi ketatnya kompetisi Premier League di bawah asuhan Guardiola sempat membuatnya goyah, namun kesetiaan mendalam pada Juventus serta situasi pelik keluarga akhirnya menuntun sang bek untuk tetap bertahan di Turin.

Rayuan Maut Guardiola di Tengah Gelaran Euro 2016

Pep Guardiola dikenal sangat mengagumi bek yang memiliki kemampuan mumpuni dalam membangun serangan dari lini pertahanan, atau yang dikenal dengan istilah play out from the back. Karakteristik inilah yang membuat nama Manchester City berada di daftar teratas target transfer pada musim panas tahun 2016 silam.

Dalam wawancaranya bersama World Soccer Agency, Bonucci menceritakan betapa intensnya pendekatan yang dilakukan oleh Guardiola. Pendekatan tersebut bahkan terus membayangi konsentrasinya saat ia tengah membela tim nasional Italia di turnamen Euro 2016.

“Untuk gaya sepak bola saya, pelatih yang paling cocok dan paling mengapresiasi permainan play out from the back adalah Guardiola. Jadi, dia merayu saya selama berminggu-minggu, dan percayalah, dirayu oleh Guardiola tidak seperti pengalaman lainnya. Anda benar-benar mulai goyah,” ungkap Bonucci. Ia menambahkan bahwa proses negosiasi tetap bergulir di balik layar meskipun dirinya harus fokus bertanding.

Dilema Hati dan Mimpi Masa Kecil Bersama Juventus

Meskipun prospek bergabung dengan klub kaya raya asal Inggris tersebut sangat menggiurkan, ikatan emosional Bonucci dengan Juventus terlalu kuat untuk diputuskan begitu saja. Pada saat itu, ia baru saja mengantarkan klub ke partai final Liga Champions dan merasa menjadi bagian penting dari sejarah raksasa Italia tersebut.

Keinginan untuk bertahan akhirnya mengalahkan ego untuk mencari tantangan baru di luar negara Inggris tersebut. Bonucci mengakui ada pertarungan batin yang hebat dalam dirinya setiap kali memikirkan peluang hengkang ke luar negeri.

“Sejauh yang saya tahu, ide untuk meninggalkan Juventus membuat hati saya sakit. Beberapa hari saya akan berkata pada diri sendiri, oh luar biasa, Premier League dan Guardiola, namun keesokan harinya saya ingat bahwa saya selalu bermimpi untuk bermain di Juventus,” jelasnya mengenai konflik batin yang dialaminya kala itu.

Prioritas Keluarga dan Langkah Baru Setelah Pensiun

Faktor krusial lain yang memantapkan langkah Bonucci untuk menetap di Italia adalah kondisi kesehatan keluarganya. Saat itu, putra kecilnya yang baru berusia dua tahun, Matteo, didiagnosis menderita penyakit serius yang membutuhkan perhatian medis serta dukungan penuh di lingkungan yang stabil.

Setelah berdiskusi dengan manajemen Juventus, pihak klub pun menegaskan bahwa mereka tidak berniat menjual sang pemain terlepas dari seberapa besar tawaran yang masuk. Kombinasi dari komitmen klub dan kondisi sang putra membuat Bonucci mantap mengambil keputusan terbaik demi keluarganya.

“Setelah Euro, saya berbicara dengan Juve. Penyakit Matteo dan fakta bahwa saya tidak merasa seratus persen siap untuk meninggalkan Juve membuat keputusan untuk bertahan menjadi hal yang normal,” tutur Bonucci. Kini, setelah resmi pensiun dari lapangan hijau pada tahun 2024, legenda lini pertahanan ini memulai babak baru sebagai bagian dari backroom staff tim nasional Italia.