Cerdas Mengelola Uang dan Peduli Lingkungan untuk Membangun SDM Bijak

Penulis dan Content Writer, Mahasiswa Universitas Pamulang. Aktif menulis isu sosial, pendidikan, dan gaya hidup.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Supriati Ningsih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada 8 Oktober 2026, Tim Ecofinity Universitas Pamulang melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema cerdas mengelola uang dan peduli lingkungan untuk membangun SDM bijak di SMK Bhakti Karya Sawangan. Pelajar diajak belajar mencatat uang saku secara manual dan digital serta memanfaatkan galon bekas menjadi tong sampah.
Melalui kegiatan ini, pelajar diperkenalkan pada cara mencatat pemasukan dan pengeluaran serta memahami pentingnya menggunakan uang sesuai kebutuhan. Peserta juga mengikuti praktik pemanfaatan galon bekas sebagai tong sampah untuk mengenal langkah sederhana dalam mengurangi barang yang terbuang.
Kegiatan ini menggabungkan pemahaman keuangan dengan tindakan nyata yang dekat dengan kehidupan pelajar. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga pada kebiasaan yang dapat diterapkan dalam keseharian.
Literasi Keuangan melalui Pencatatan Manual
Salah satu keterampilan dasar dalam mengelola uang adalah mencatat pemasukan dan pengeluaran. Cara ini membantu seseorang mengetahui ke mana uang digunakan, berapa jumlah yang tersisa, dan apakah pengeluarannya sudah sesuai dengan kebutuhan.
Dalam praktik pencatatan manual, pelajar belajar menuliskan transaksi secara teratur pada lembar pencatatan. Informasi yang dicatat dapat berupa uang saku yang diterima, pengeluaran untuk makan atau transportasi, serta saldo setelah transaksi dilakukan.
Sebagai contoh, seorang pelajar menerima uang saku sebesar Rp20.000. Uang tersebut digunakan untuk membeli makanan seharga Rp8.000 dan minuman seharga Rp4.000. Dari pencatatan tersebut, total pengeluaran mencapai Rp12.000 sehingga uang yang tersisa adalah Rp8.000.
Contoh sederhana ini menunjukkan bahwa mengelola uang tidak harus dimulai dengan perhitungan yang rumit. Dengan mencatat setiap transaksi, pelajar dapat mengetahui pola pengeluarannya dan mempertimbangkan apakah ada bagian uang yang bisa disisihkan untuk ditabung.
Pencatatan manual juga membantu membangun ketelitian dan kedisiplinan. Jika dilakukan secara konsisten, kebiasaan ini dapat menjadi langkah awal untuk membedakan kebutuhan dan keinginan sebelum menggunakan uang.
Mengenal Pencatatan Keuangan Digital
Selain menggunakan cara manual, pelajar juga dapat memanfaatkan teknologi untuk mencatat transaksi. Metode digital membantu menyusun informasi pemasukan dan pengeluaran dengan lebih praktis dan terstruktur.
Pemasukan dan pengeluaran dapat dicatat menggunakan aplikasi pencatat keuangan atau lembar kerja digital. Transaksi juga dapat dikelompokkan berdasarkan jenis kebutuhan, seperti makanan, transportasi, dan perlengkapan sekolah. Dengan pengelompokan tersebut, pengguna dapat melihat kategori pengeluaran yang paling banyak menggunakan uang saku.
Pencatatan digital menawarkan kemudahan, terutama ketika jumlah transaksi semakin banyak. Beberapa aplikasi dan lembar kerja dapat menghitung total secara otomatis sehingga pengguna tidak perlu menjumlahkan semua transaksi satu per satu.
Meski demikian, teknologi bukan berarti menghilangkan kebutuhan untuk bersikap teliti. Data transaksi tetap harus dimasukkan dengan benar agar hasil pencatatan sesuai dengan kondisi sebenarnya. Pengguna juga perlu menjaga kerahasiaan informasi pribadi saat menggunakan perangkat atau aplikasi digital.
Mengenal metode manual dan digital memberikan pilihan bagi pelajar untuk mengelola keuangan sesuai kebutuhan. Apa pun metode yang digunakan, hal terpenting adalah mencatat transaksi secara rutin dan menggunakan informasi tersebut sebagai dasar untuk mengambil keputusan keuangan yang lebih baik.
Kepedulian Lingkungan melalui Pemanfaatan Galon Bekas
Selain belajar mengelola uang, pelajar juga perlu mengenal cara menjaga lingkungan. Upaya tersebut dapat dimulai dengan mengurangi sampah dan memanfaatkan kembali barang yang masih layak digunakan.
Dalam kegiatan ini, pemanfaatan galon bekas menjadi tong sampah menjadi salah satu bentuk praktik kepedulian lingkungan. Barang yang sebelumnya tidak lagi digunakan dapat diolah menjadi benda dengan fungsi baru melalui proses persiapan bahan, perakitan, dan penyelesaian.
Praktik tersebut memperkenalkan gagasan bahwa barang bekas tidak selalu harus langsung dibuang. Dengan mempertimbangkan kondisi dan kegunaannya, sebagian barang dapat dimanfaatkan kembali sehingga masa penggunaannya menjadi lebih panjang.
Proses perakitan juga menjadi kesempatan untuk membangun kreativitas dan kerja sama. Peserta dapat terlibat dalam menyiapkan bahan, menyusun bagian yang diperlukan, serta memastikan wadah dapat digunakan sesuai fungsinya. Kebersihan bahan dan keamanan alat tetap perlu diperhatikan selama proses pengerjaan.
Lebih dari sekadar membuat tong sampah, kegiatan ini mengajak pelajar untuk melihat persoalan sampah dari sudut pandang yang berbeda. Kepedulian lingkungan tidak hanya diwujudkan dengan membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga melalui upaya mengurangi barang terbuang dan menggunakan sumber daya secara lebih bertanggung jawab.
Konsumsi Bijak untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Pengelolaan uang dan kebiasaan menjaga lingkungan saling berkaitan dalam kehidupan sehari-hari. Keputusan membeli suatu barang dapat memengaruhi kondisi keuangan sekaligus jumlah sampah yang dihasilkan.
Membeli barang sesuai kebutuhan, misalnya, dapat membantu mengendalikan pengeluaran dan mengurangi risiko barang tidak terpakai. Membawa botol minum yang dapat digunakan kembali juga dapat menjadi pilihan untuk mengurangi ketergantungan pada kemasan sekali pakai.
Konsumsi bijak bukan berarti seseorang tidak boleh membeli barang yang diinginkan. Hal yang lebih penting adalah mempertimbangkan manfaat, kebutuhan, kemampuan keuangan, dan dampak dari keputusan tersebut sebelum melakukan pembelian.
Pelajar dapat memulai kebiasaan ini dengan membuat daftar kebutuhan, membandingkan pilihan sebelum membeli, mencatat pengeluaran, serta memanfaatkan kembali barang yang masih layak. Langkah-langkah tersebut terlihat sederhana, tetapi dapat membantu membangun pola pikir yang lebih terencana.
Pembelajaran ini akan lebih bermakna jika diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari mengatur uang saku hingga menjaga kebersihan di sekitar. Dengan begitu, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai teori, tetapi menjadi bagian dari perilaku sehari-hari.
Membangun sumber daya manusia yang bijak dapat dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Mengetahui ke mana uang digunakan, mempertimbangkan kebutuhan sebelum membeli, dan memanfaatkan barang bekas merupakan langkah yang dapat dilakukan sejak sekolah.
Melalui pembelajaran tersebut, pelajar diharapkan semakin memahami pentingnya mengelola keuangan secara bertanggung jawab dan berperan dalam menjaga lingkungan. Perubahan tidak selalu harus dimulai dari tindakan besar, tetapi dapat tumbuh dari keputusan sederhana yang dilakukan setiap hari.
