Dari Kampus ke Masyarakat, Belajar dan Berbagi melalui PKM

Penulis dan Content Writer, Mahasiswa Universitas Pamulang. Aktif menulis isu sosial, pendidikan, dan gaya hidup.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Supriati Ningsih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dari Kampus ke Masyarakat, mahasiswa dapat belajar bahwa pengetahuan tidak hanya diperoleh di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman berbagi dengan masyarakat. Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), mahasiswa belajar menerapkan ilmu sekaligus memahami kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Perjalanan dari kampus ke masyarakat memberikan pengalaman berharga bagi Tim Ecofinity Universitas Pamulang. Melalui kegiatan PKM di SMK Bhakti Karya Sawangan pada 8 Oktober 2026, mahasiswa belajar membangun komunikasi, bekerja sama, dan menyampaikan pengetahuan yang bermanfaat bagi para siswa.
Bagi Tim Ecofinity, kegiatan ini bukan hanya tentang menyampaikan materi yang telah disiapkan. PKM juga menjadi ruang untuk membangun komunikasi, bekerja sama, dan memahami bahwa pengetahuan akan lebih bermakna ketika dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan sehari-hari.
Belajar dari Hal yang Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari
Salah satu materi dalam kegiatan PKM Tim Ecofinity adalah literasi keuangan, khususnya pengelolaan uang saku. Materi ini dekat dengan kehidupan pelajar karena membantu mereka memahami cara menentukan prioritas dan mempertimbangkan kebutuhan sebelum melakukan pengeluaran.
Mengelola uang saku bukan sekadar menghabiskan uang untuk keperluan sehari-hari. Pelajar juga perlu memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan merupakan sesuatu yang perlu dipenuhi, sedangkan keinginan berkaitan dengan hal yang ingin dimiliki tetapi belum tentu harus dibeli saat itu juga.
Pemahaman tersebut dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan keuangan yang lebih bijak. Misalnya, sebelum membeli sesuatu, seseorang dapat mempertimbangkan manfaat barang tersebut dan menyesuaikannya dengan jumlah uang yang dimiliki.
Selain membedakan kebutuhan dan keinginan, pencatatan pengeluaran juga menjadi kebiasaan yang penting. Dengan mencatat transaksi sederhana, pelajar dapat mengetahui ke mana uang mereka digunakan dan mengevaluasi pengeluaran yang sebenarnya bisa dikurangi.
Kebiasaan seperti ini tidak harus menunggu seseorang memiliki penghasilan sendiri. Pengelolaan keuangan dapat mulai dilatih sejak sekolah melalui keputusan sederhana yang dilakukan setiap hari.
Melalui materi tersebut, siswa diajak memahami bahwa pengetahuan keuangan bukan hanya teori yang dipelajari, melainkan keterampilan yang dapat diterapkan secara langsung dalam kehidupan.
Kepedulian Lingkungan Bisa Dimulai dari Tindakan Sederhana
Selain literasi keuangan, kegiatan PKM ini juga mengajak siswa memahami pentingnya menjaga lingkungan melalui tindakan sederhana. Salah satu praktik yang dilakukan adalah memanfaatkan galon bekas menjadi tempat sampah. Kegiatan ini menjadi contoh bagaimana barang yang tidak lagi digunakan dapat diberi fungsi baru.
Barang bekas sering kali dianggap tidak berguna dan langsung dibuang. Padahal, sebagian barang masih dapat dimanfaatkan kembali selama kondisinya memungkinkan dan pengolahannya dilakukan dengan aman. Upaya tersebut dapat membantu mengurangi barang yang terbuang sekaligus menumbuhkan kebiasaan menggunakan sumber daya secara lebih bijak.
Kepedulian terhadap lingkungan juga dapat diterapkan melalui tindakan sehari-hari, seperti membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan ruang belajar, dan menggunakan barang secara bertanggung jawab.
Melalui materi dan praktik tersebut, siswa diajak mengenal hubungan antara pengetahuan dan tindakan nyata. Harapannya, kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada kegiatan PKM, tetapi dapat menjadi kebiasaan yang terus dilakukan di sekolah maupun di rumah.
Dari Kampus ke Masyarakat: Belajar dan Berbagi Pengalaman
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melatih kemampuan yang tidak selalu diperoleh melalui pembelajaran di kelas. Pengetahuan yang didapat selama perkuliahan perlu disampaikan dengan cara yang dapat dipahami oleh peserta. Karena itu, persiapan materi saja tidak cukup; komunikasi dan kerja sama juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaannya.
Mahasiswa perlu belajar menyusun kegiatan, membagi tanggung jawab, berkoordinasi dengan anggota tim, serta menyesuaikan pelaksanaan dengan kondisi di lapangan. Proses tersebut menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bekerja dalam tim, dan menyelesaikan tanggung jawab bersama.
Dalam Tim Ecofinity, pelaksanaan kegiatan melibatkan kerja sama antarmahasiswa serta dukungan dosen pembimbing dan pihak sekolah. Setiap pihak memiliki peran dalam mendukung kegiatan agar dapat berjalan sesuai rencana.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengabdian bukan pekerjaan satu orang. Ada proses saling membantu, bertukar gagasan, dan menjalankan tanggung jawab bersama. Dari proses itulah mahasiswa dapat memahami pentingnya kontribusi setiap anggota dalam mencapai tujuan kegiatan.
Di sisi lain, kegiatan ini juga mengingatkan bahwa berbagi pengetahuan perlu memperhatikan kebutuhan penerima manfaat. Materi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat menjadi jembatan untuk membangun pemahaman yang lebih mudah diterapkan.
Berbagi Pengetahuan, Membangun Manfaat Bersama
Pengabdian kepada masyarakat mempertemukan dua proses yang saling melengkapi: mahasiswa belajar menerapkan pengetahuan, sementara masyarakat memperoleh tambahan wawasan yang diharapkan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.
Kegiatan Tim Ecofinity di SMK Bhakti Karya Sawangan menjadi salah satu bentuk upaya tersebut melalui edukasi pengelolaan uang saku dan kepedulian terhadap lingkungan. Kedua materi ini berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari yang dapat dilatih sejak dini.
Mengelola uang dengan bijak membantu seseorang mempertimbangkan keputusan keuangan, sedangkan menjaga lingkungan mengajarkan tanggung jawab terhadap ruang hidup bersama. Keduanya membutuhkan kesadaran dan kebiasaan yang dibangun secara bertahap.
Pada akhirnya, makna PKM tidak hanya terletak pada terlaksananya sebuah acara. Nilai pentingnya juga ada pada proses belajar, kesempatan berbagi, dan pengetahuan yang berpotensi diterapkan setelah kegiatan selesai.
Dari kampus ke masyarakat, mahasiswa memperoleh pengalaman untuk melihat bahwa ilmu tidak berhenti pada teori. Ketika dibagikan dengan tujuan yang jelas dan disesuaikan dengan kebutuhan, ilmu dapat menjadi awal dari perubahan sederhana yang berarti bagi kehidupan sehari-hari.
