Ketika Respons Menjadi Barang Langka: Nirempati Semakin Kokoh Berdiri

Dosen Tadris Bahasa Indonesia (UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu) Mahasiswa Program Doktor (S3) Linguistik Terapan
·waktu baca 11 menit
Tulisan dari Susi Seles tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu hal kecil yang belakangan cukup sering saya perhatikan dalam kehidupan sehari-hari: semakin mudah kita berkomunikasi, tetapi terkadang semakin sulit kita benar-benar merespons satu sama lain. Pesan dapat sampai dalam hitungan detik. Informasi datang nyaris tanpa jeda. Grup percakapan terus bergerak. Media sosial memungkinkan kita mengetahui begitu banyak hal tentang kehidupan orang lain. Namun, di tengah segala kemudahan itu, muncul satu pemandangan yang terasa cukup kontradiktif: seseorang bisa menyampaikan sesuatu, meminta tanggapan, mengutarakan kesulitan, bahkan sekadar mencoba membuka percakapan, tetapi ruang di seberangnya tetap sunyi.
Fenomena semacam ini cukup mudah ditemukan dalam kehidupan mahasiswa dan generasi muda hari ini. Namun, rasanya terlalu sederhana jika kemudian kita menyimpulkan bahwa “Gen Z tidak punya empati”. Generasi muda hari ini justru tumbuh dengan kesadaran yang cukup besar terhadap isu kesehatan mental, kemanusiaan, lingkungan, kesetaraan, maupun pentingnya menjaga batas diri. Media sosial pun tidak selalu menjauhkan manusia.
American Psychological Association (APA), misalnya, mengingatkan bahwa media sosial tidak secara inheren baik ataupun buruk. Teknologi dapat membuka peluang untuk bersosialisasi dan membangun koneksi, meskipun penggunaannya juga dapat mengurangi interaksi langsung apabila tidak dikelola dengan baik.
Jadi, barangkali persoalannya bukan bahwa generasi hari ini kehilangan empati. Mungkin empati itu masih ada, hanya saja semakin sering berhenti sebagai sesuatu yang dirasakan dan tidak selalu diterjemahkan menjadi respons sederhana.
Ketika Satu Pesan Hanya Menjadi Notifikasi
Bayangkan sebuah situasi yang mungkin sangat biasa terjadi di lingkungan kampus. Dalam sebuah kelompok tugas, seorang mahasiswa mengirim pesan:
“Teman-teman, bagian presentasinya sudah aku susun. Boleh dicek? Kalau ada yang perlu diperbaiki bilang, ya.”
Pesan terbaca.
Beberapa anggota kelompok terlihat aktif di media sosial. Ada yang mengunggah story, ada yang membalas percakapan lain, tetapi di grup tugas tersebut tidak ada jawaban.
Satu jam.
Tiga jam.
Sampai malam.
Yang mengirim pesan akhirnya bertanya lagi:
“Sudah sempat dicek belum?”
Tetap sepi.
Persoalannya sebenarnya bukan tentang orang lain harus langsung memberikan koreksi panjang. Kalimat sesederhana, “Sudah aku lihat, nanti malam aku cek lebih detail,” sebenarnya sudah cukup.
Bagi penerimanya mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk mengetik. Namun bagi pengirim pesan, respons itu memiliki makna: pekerjaannya dilihat, kehadirannya diakui, dan ia tidak sedang bekerja sendirian. Di titik seperti inilah empati hadir bukan dalam bentuk tindakan heroik, melainkan sebagai kesediaan untuk memberikan kepastian kecil kepada manusia lain.
Ketika Teman Bercerita, tetapi Kita Sibuk Menunggu Giliran Berbicara
Kasus lain bahkan bisa terjadi dalam komunikasi langsung.
Seorang teman datang dengan wajah yang tidak seperti biasanya. Ia kemudian mengatakan bahwa belakangan ini sedang banyak persoalan di rumah dan tugas kuliahnya mulai berantakan.
Kita mendengarkan beberapa menit.
Lalu spontan menjawab:
“Aku malah lebih parah.”
Percakapan yang tadinya tentang dirinya tiba-tiba beralih menjadi tentang kita.
Kita mungkin tidak bermaksud mengecilkan masalahnya. Barangkali kita hanya ingin menunjukkan bahwa kita memahami karena pernah mengalami keadaan serupa.
Namun terkadang seseorang tidak sedang membutuhkan perbandingan penderitaan.
Ia hanya ingin didengarkan.
Profesor MIT Sherry Turkle, yang selama puluhan tahun meneliti hubungan manusia dan teknologi, banyak menyoroti pentingnya percakapan langsung. Menurut Turkle, percakapan tatap muka membantu manusia membaca ekspresi, nada suara, keraguan, dan berbagai sinyal kecil yang penting dalam membangun empati. Ia menyebut percakapan sebagai salah satu ruang penting untuk mengembangkan pemahaman terhadap orang lain.
Mungkin karena itulah “mendengar” ternyata berbeda dengan sekadar “tidak berbicara”.
Mendengar memerlukan kehadiran.
Kita Terhubung, tetapi Perhatian Kita Terpecah
Tentu saja tidak semua diam berarti tidak peduli.
Menjadi mahasiswa pada masa sekarang juga bukan perkara sederhana.
Ada tugas akademik, organisasi, pekerjaan sampingan, masalah keluarga, kondisi ekonomi, hubungan pertemanan, kecemasan mengenai masa depan, hingga tekanan untuk tetap terlihat baik-baik saja di media sosial.
Di saat bersamaan, perhatian kita diperebutkan oleh puluhan bahkan ratusan notifikasi setiap hari.
WhatsApp berbunyi.
Instagram memberikan pemberitahuan.
TikTok menawarkan video berikutnya.
Email masuk.
Grup kelas bergerak.
Kemudian seseorang mengirim pesan pribadi.
Tidak mustahil akhirnya manusia mengalami semacam kelelahan untuk merespons.
Karena itu, diam tidak selalu boleh diterjemahkan sebagai ketidakpedulian.
Orang yang tidak menjawab pesan mungkin sedang kelelahan.
Ia mungkin sedang menghadapi persoalannya sendiri.
Ia mungkin bahkan tidak tahu harus memberikan respons seperti apa.
Psikolog Sara Konrath, yang meneliti empati, juga mengingatkan bahwa hubungan antara teknologi dan empati tidak sederhana. Menurutnya, orang-orang yang memiliki kecenderungan empatik dapat menggunakan teknologi justru untuk terhubung dengan orang lain. Dengan kata lain, telepon pintar dan media sosial tidak otomatis membuat seseorang kehilangan empati; bagaimana teknologi digunakan ikut menentukan kualitas hubungan yang terbentuk.
Penelitian yang terbit pada 2026 mengenai digital empathy bahkan menemukan bahwa hubungan antara waktu komunikasi digital dan kecenderungan empati digital dapat berbentuk tidak linear. Artinya, persoalan ini tidak bisa disederhanakan menjadi “semakin sering memakai ponsel, semakin tidak empatik”.
Jadi, mungkin yang perlu kita bicarakan bukan perang antara “generasi dulu” dengan “generasi sekarang”.
Yang perlu kita periksa justru kebiasaan kita sendiri.
Budaya Seen dan Manusia yang Menunggu di Balik Layar
Teknologi menciptakan situasi yang menarik.
Dahulu kita mengirim surat dan memahami bahwa jawabannya mungkin datang beberapa hari kemudian.
Hari ini kita dapat mengetahui bahwa pesan sudah terkirim.
Sudah diterima.
Bahkan sudah dibaca.
Karena itu, satu kata kecil bernama seen dapat memiliki beban emosional yang cukup besar.
Namun tulisan ini bukan ajakan agar setiap manusia wajib membalas semua pesan dengan cepat.
Kita tetap memiliki hak untuk beristirahat.
Kita boleh tidak selalu tersedia.
Kita boleh memasang batas komunikasi.
Kita boleh mengatakan tidak.
Yang mungkin perlu dipertahankan adalah kesadaran bahwa di balik layar ada manusia lain.
Ada mahasiswa yang menunggu jawaban kelompoknya.
Ada teman yang memberanikan diri menghubungi setelah berhari-hari merasa sendiri.
Ada seseorang yang bertanya karena benar-benar tidak memahami sesuatu.
Ada pula orang yang hanya membutuhkan kepastian agar ia dapat melanjutkan pekerjaannya.
Mungkin kita tidak mampu memenuhi semua permintaan mereka.
Tetapi kita masih dapat memberikan kejelasan.
Empati Tidak Berarti Harus Menjadi Penyelamat
Ini bagian yang menurut saya penting.
Berempati bukan berarti kita harus menyelesaikan seluruh persoalan orang lain.
Ada kalanya solusi paling sehat justru berkata:
“Maaf, hari ini aku belum bisa bantu.”
“Aku sudah baca pesannya. Boleh aku jawab besok?”
“Aku mungkin tidak tahu harus memberi saran apa, tapi aku dengar.”
Kalimat-kalimat itu sangat sederhana.
Tidak membutuhkan biaya.
Tidak membutuhkan keahlian psikologi.
Tidak pula membutuhkan waktu berjam-jam.
Tetapi kalimat tersebut memiliki satu unsur yang semakin penting: kepastian bahwa manusia di seberang kita tidak diabaikan.
Menjaga batas diri dan berempati bukanlah dua hal yang bertentangan.
Kita dapat mengatakan “tidak” tanpa merendahkan.
Kita dapat mengambil jarak tanpa menghilang.
Kita dapat tidak mempunyai solusi tanpa membuat orang lain merasa masalahnya tidak penting.
Kampus Seharusnya Juga Mengajarkan Cara Menjadi Manusia
Kampus sering dibicarakan sebagai tempat mempersiapkan karier.
Mahasiswa belajar teori.
Membuat makalah.
Melakukan penelitian.
Menyusun presentasi.
Mengikuti ujian.
Lalu mendapatkan gelar.
Tetapi kehidupan kampus sebenarnya menyediakan pelajaran yang jauh lebih besar daripada yang tercantum dalam transkrip akademik.
Di kampus, seseorang belajar menghadapi manusia dengan karakter berbeda.
Belajar menepati janji ketika bekerja dalam kelompok.
Belajar menyampaikan ketidaksetujuan.
Belajar meminta maaf.
Belajar mendengarkan.
Belajar mengatakan tidak dengan baik.
Dan belajar memahami bahwa kehidupan tidak selalu berpusat pada dirinya.
Karena itu, kemampuan merespons seharusnya tidak dianggap sekadar persoalan etika percakapan.
Ia merupakan bagian dari kemampuan hidup bersama.
Tidak semua orang yang pintar secara akademik otomatis mampu membuat manusia di sekitarnya merasa dihargai.
Padahal selepas kampus nanti, dunia kerja, keluarga, masyarakat, dan kehidupan sosial justru akan mempertemukan kita dengan persoalan-persoalan yang tidak selalu dapat dijawab dengan IPK.
Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Pertama, biasakan memberikan tanda terima secara manusiawi. Jika belum mempunyai waktu menjawab sebuah pesan penting, cukup katakan bahwa pesan tersebut sudah diterima dan akan dijawab kemudian.
Kedua, bedakan pesan yang membutuhkan respons dengan pesan yang hanya membutuhkan informasi. Tidak semua percakapan harus dijawab panjang. Namun ketika seseorang secara langsung bertanya, meminta kepastian, atau membutuhkan keputusan dari kita, diam dapat memindahkan beban ketidakpastian kepada orang tersebut.
Ketiga, belajar mendengarkan tanpa selalu mengubah cerita orang lain menjadi cerita tentang diri sendiri. Tidak semua curhat membutuhkan saran. Tidak setiap pengalaman perlu dibandingkan.
Kadang pertanyaan terbaik justru sangat sederhana:
“Kamu mau aku dengarkan saja atau mau kita cari jalan keluarnya?”
Keempat, sediakan ruang percakapan tanpa layar. Sherry Turkle sejak lama mengingatkan pentingnya percakapan tatap muka dalam membangun relasi dan empati. Percakapan yang tidak terus-menerus dipotong notifikasi memungkinkan kita memperhatikan ekspresi, nada suara, dan berbagai hal yang tidak dapat sepenuhnya diterjemahkan melalui teks.
Dan kelima, jangan cepat memberi label kepada orang yang tidak merespons. Kita tidak pernah mengetahui seluruh cerita seseorang. Daripada langsung menyebutnya tidak peduli, mungkin ada baiknya bertanya terlebih dahulu.
Empati ternyata berjalan dua arah.
Orang yang menunggu jawaban perlu dihargai.
Orang yang sedang tidak sanggup menjawab juga perlu dipahami.
Mungkin Kita Tidak Kekurangan Empati, tetapi Kekurangan Kehadiran
Barangkali itulah persoalan yang sebenarnya.
Kita hidup pada masa ketika hampir semua orang dapat dihubungi, tetapi tidak semua orang benar-benar hadir.
Kita mengetahui kabar ratusan orang melalui layar, tetapi mungkin tidak mengetahui bahwa teman yang duduk di sebelah sedang mempunyai masalah.
Kita cepat memberikan emoji kepada kisah orang yang tidak kita kenal, tetapi terkadang lupa memberikan respons kepada seseorang yang bekerja bersama kita setiap hari.
Ini bukan kesalahan satu generasi.
Bukan pula alasan untuk mengatakan bahwa anak muda hari ini lebih buruk daripada generasi sebelumnya.
Setiap zaman mempunyai bentuk keterasingannya sendiri.
Zaman kita kebetulan memiliki paradoks yang unik: kita hampir selalu terkoneksi, tetapi perhatian kita semakin mudah terpecah.
Karena itu, mungkin yang dibutuhkan bukan ceramah panjang tentang bagaimana menjadi manusia yang baik.
Kita dapat memulainya dengan sesuatu yang jauh lebih kecil.
Menatap orang ketika ia berbicara.
Menjawab ketika sebuah jawaban memang dibutuhkan.
Mengatakan terima kasih.
Meminta maaf ketika terlambat memberikan respons.
Tidak buru-buru menilai.
Memberikan kepastian.
Dan sesekali meletakkan telepon ketika seseorang sedang mencoba berbicara kepada kita.
Kita tidak harus selalu mempunyai solusi.
Tidak harus selalu tersedia.
Tidak harus memahami seluruh persoalan manusia lain.
Namun mudah-mudahan, di tengah dunia yang semakin sibuk, kita tidak menjadi manusia yang membuat manusia lain merasa seolah-olah keberadaannya tidak perlu dijawab.
Sebab boleh jadi, salah satu bentuk empati yang paling sederhana bukanlah mengatakan sesuatu yang luar biasa.
Melainkan menunjukkan:
“Aku mendengar. Kamu tidak sedang berbicara sendirian.”
Refleksi: Jangan-Jangan Kita Juga Pernah Menjadi Orang yang Diam
Pada akhirnya, tulisan ini bukan hanya tentang orang lain yang lambat merespons, tentang teman yang terlihat acuh, atau tentang generasi yang dianggap semakin individualis.
Tulisan ini juga seharusnya menjadi cermin bagi diri sendiri.
Jangan-jangan, tanpa sadar, kita pun pernah menjadi orang yang membuat seseorang menunggu terlalu lama. Pernah membaca pesan lalu menundanya sampai lupa. Pernah mendengar teman bercerita tetapi pikiran kita sibuk menyiapkan jawaban. Pernah menganggap persoalan seseorang terlalu sederhana hanya karena kita merasa pernah mengalami sesuatu yang lebih berat.
Mungkin kita pernah berharap dipahami, tetapi lupa memahami.
Pernah kecewa ketika tidak mendapat respons, tetapi pada kesempatan lain justru melakukan hal yang sama kepada orang lain.
Kesadaran semacam ini penting karena empati akan kehilangan maknanya apabila selalu digunakan untuk menilai orang di luar diri kita.
Empati seharusnya juga mengajak kita bertanya: sudahkah saya menjadi orang yang cukup hadir bagi manusia di sekitar saya?
Bukan hadir dalam arti selalu tersedia selama dua puluh empat jam. Bukan pula harus menjawab seluruh persoalan orang lain. Tetapi hadir sebagai manusia yang mampu memberikan penghargaan sederhana: mendengar ketika seseorang berbicara, memberi kabar ketika belum bisa membantu, meminta maaf ketika terlambat merespons, dan tidak membiarkan orang lain terus menebak-nebak posisi kita.
Barangkali dunia memang sedang bergerak semakin cepat. Perhatian kita terbagi ke banyak layar, banyak tugas, banyak kekhawatiran, dan banyak hal yang harus diselesaikan.
Namun justru di tengah kehidupan yang serba cepat itu, sikap manusiawi menjadi semakin penting.
Kita mungkin tidak bisa mengubah budaya komunikasi satu generasi dalam satu malam. Kita juga tidak perlu merasa paling empatik dibandingkan orang lain.
Yang bisa dilakukan hanyalah memulai dari diri sendiri.
Sebelum mengeluh bahwa orang lain tidak peduli, kita bisa bertanya apakah hari ini ada seseorang yang pesannya belum kita jawab.
Sebelum mengatakan bahwa generasi sekarang semakin dingin, kita bisa melihat apakah ada teman di sekitar yang sebenarnya sedang membutuhkan ruang untuk didengarkan.
Sebelum menuntut orang lain hadir untuk kita, kita juga dapat belajar hadir bagi mereka.
Mungkin perubahan besar memang selalu dimulai dari sesuatu yang kecil.
Satu balasan.
Satu ucapan terima kasih.
Satu permintaan maaf.
Satu percakapan tanpa sibuk melihat layar.
Dan satu kesediaan untuk mengingat bahwa siapa pun yang berdiri, duduk, atau mengetik di seberang kita tetaplah manusia yang ingin dihargai keberadaannya.
Pada akhirnya, yang perlu kita jaga bukan hanya kemampuan untuk terus terkoneksi.
Yang lebih penting adalah jangan sampai, di tengah begitu banyak koneksi, kita justru kehilangan kemampuan untuk benar-benar hadir.
(Tulisan ini berbantu AI, ide asli murni dari penulis)
