Blue Accounting: Masa Depan Akuntansi Lingkungan di Indonesia

Penulis independen yang berfokus pada isu sosial, politik, dan dinamika masyarakat terkini.Alumni Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari suwito tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Isu akuntansi tidak lagi terbatas pada laporan laba rugi, neraca, atau arus kas semata. Dunia bisnis kini dihadapkan pada tuntutan yang lebih besar: bagaimana laporan keuangan mampu mencerminkan tanggung jawab terhadap lingkungan. Jika sebelumnya istilah Green Accounting populer untuk mengintegrasikan aspek lingkungan dalam akuntansi, kini hadir konsep baru yang mulai diperbincangkan, yakni Blue Accounting. Konsep ini menekankan pentingnya pengelolaan dan transparansi dalam penggunaan sumber daya air, sebagai salah satu aset vital kehidupan dan pembangunan berkelanjutan.
Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan kekayaan laut dan sumber daya air melimpah, memiliki urgensi yang tinggi untuk segera menempatkan Blue Accounting dalam praktik bisnis maupun tata kelola pemerintahan. Pertanyaannya, apakah kita siap?

Apa Itu Blue Accounting?
Secara sederhana, Blue Accounting adalah pendekatan akuntansi yang fokus pada pelacakan, pengukuran, dan pelaporan pemanfaatan sumber daya air secara transparan dan berkelanjutan. Konsep ini lahir dari kesadaran global bahwa air bukan hanya kebutuhan dasar manusia, tetapi juga faktor penentu daya saing ekonomi, kesehatan masyarakat, hingga ketahanan pangan.
Jika Green Accounting mendorong perusahaan mencatat biaya lingkungan seperti polusi atau emisi karbon, maka Blue Accounting lebih menekankan pada air: seberapa banyak digunakan, bagaimana pengelolaannya, dan dampaknya terhadap ekosistem.
Mengapa Blue Accounting Penting?
1. Krisis Air Global
Laporan World Resources Institute (2024) menunjukkan bahwa hampir separuh populasi dunia menghadapi risiko kekurangan air bersih. Indonesia sendiri menghadapi masalah serius seperti pencemaran sungai, over-exploitation air tanah, hingga banjir rob. Tanpa tata kelola yang jelas, air bisa menjadi sumber konflik di masa depan.
2. SDGs dan ESG
Agenda Sustainable Development Goals (SDGs) menekankan akses terhadap air bersih dan sanitasi layak (SDG 6). Sementara itu, investor global kini menggunakan standar Environmental, Social, and Governance (ESG) untuk menilai kinerja perusahaan. Blue Accounting memberi jawaban konkret pada aspek lingkungan.
3. Transparansi dan Akuntabilitas
Perusahaan-perusahaan besar yang berbasis sumber daya alam, seperti sektor energi, manufaktur, hingga pertanian, akan semakin dituntut menyajikan laporan yang tidak hanya berfokus pada keuntungan, tetapi juga dampak ekologis. Blue Accounting memungkinkan publik menilai apakah perusahaan benar-benar menjalankan bisnis yang berkelanjutan.
Posisi Indonesia
Indonesia kaya air, tetapi paradoksnya masih menghadapi masalah serius. Laporan Bappenas (2023) menyebutkan bahwa lebih dari 60% sungai besar di Indonesia tercemar. Sementara itu, Jakarta dan kota-kota besar lainnya mengalami krisis air bersih akibat eksploitasi air tanah.
Dalam konteks inilah Blue Accounting menjadi relevan. Perusahaan air minum, perkebunan sawit, pertambangan, bahkan industri tekstil yang dikenal sebagai pengguna air besar, perlu mulai mengintegrasikan Blue Accounting dalam laporan keberlanjutan mereka. Pemerintah pun dapat mendorong regulasi agar setiap entitas bisnis wajib melaporkan jejak penggunaan air.
Tantangan Implementasi
1. Kesadaran Perusahaan Masih Rendah
Banyak pelaku usaha melihat pelaporan lingkungan sebagai beban tambahan, bukan investasi jangka panjang.
2. Belum Ada Regulasi Khusus
Indonesia sudah mengenal PSAK terkait lingkungan secara terbatas, tetapi Blue Accounting belum masuk dalam standar akuntansi resmi.
3. Biaya dan Teknologi
Penerapan sistem pelaporan air membutuhkan teknologi monitoring, SDM ahli, dan biaya operasional yang tidak sedikit.
Peluang dan Manfaat
Meski tantangannya besar, manfaat Blue Accounting jelas lebih menjanjikan:
Meningkatkan Reputasi Bisnis: Perusahaan yang transparan soal lingkungan lebih dipercaya investor dan konsumen.
Akses Pendanaan Global: Banyak lembaga keuangan internasional kini menyalurkan dana hanya kepada bisnis yang memenuhi standar ESG.
Keberlanjutan Nasional: Transparansi pengelolaan air akan membantu pemerintah menjaga ketahanan pangan, energi, dan lingkungan.
Blue Accounting bukan sekadar jargon baru dalam dunia akuntansi, melainkan kebutuhan nyata untuk menjawab tantangan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Indonesia tidak boleh terlambat. Dengan mendorong regulasi, meningkatkan kesadaran pelaku usaha, dan memperkuat kolaborasi antara akademisi, praktisi, serta pemerintah, Blue Accounting bisa menjadi langkah strategis menuju masa depan yang lebih hijau—dan biru.
Air adalah sumber kehidupan. Melalui Blue Accounting, kita memastikan setiap tetesnya dipertanggungjawabkan, demi keberlanjutan generasi sekarang dan yang akan datang.
