Konten dari Pengguna

Tim Abmas ITS Terapkan Pompa Air Tenaga Surya pada sistem irigasi berkelanjutan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suyatno suyatno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

[Nganjuk] – Keterbatasan akses energi dan ketersediaan air masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi petani dalam menjaga keberlanjutan kegiatan pertanian, terutama pada musim kemarau. Untuk menjawab persoalan tersebut, tim Dosen dan mahasiswa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menerapkan teknologi pompa air tenaga surya untuk mendukung sistem irigasi di Kelompok Tani Rukun Santosa, Nglinggo, Gobang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Menurut Pak Ikhsan salah satu aggota kelompok tani menyampaikan bahwa musim kemarau merupakan masa yang sulit bagi petani. Beberapa upaya sudah dilakukan petani agar lahan tetap bisa ditanami diantaranya adalah dengan menggunakan pompa diesel serta listrik PLN.

Tim Abmas ITS Terapkan Pompa Air Tenaga Surya pada sistem irigasi berkelanjutan
zoom-in-whitePerbesar

Gambar 1. (a) Situasi kekeringan lahan pada musim kemarau dan pompa diesel (suyatno,2026)

(b) Sistem irigasi dengan pompa air sumber Listrik PLN (suyatno,2026)

Penggunaan pompa air menggunakan diesel dan Listrik PLN yang saat ini diupayakan oleh petani berpotensi pada meningkatkan biaya produksi. Disisi lain sulitnya mendapatkan BBM menjadikan banyak lahan yang mengering dan berpotensi gagal panen. sementara penggunaan pompa dengan sumber listrik PLN berdampak pada biaya token listrik serta instalasi yang mahal, apalagi untuk lahan yang jauh dari jaringan listrik PLN.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) yang bertujuan meningkatkan keberdayaan mitra melalui penerapan teknologi tepat guna berbasis energi terbarukan.

Teknologi yang diterapkan memanfaatkan panel photovoltaic sebagai sumber energi untuk mengoperasikan pompa air. Panel surya Adalah komonen bahan semikonduktor yang mampu mengubah energi sinar matahari menjadi energi Listrik. Sistem yang dikembangkan terdiri atas panel surya berkapasitas 900 Wp, solar charge controller, baterai 24V 100 Ah, inverter, pompa air, serta dilengkapi dengan troly. Penambahan troly ini memungkinkan sistem dapat dipindahkan dari satu lahan ke lahan lainnya.

Gambar 2. Sistem Pompa air irigasi berbasis panel surya (Suyatno, 2026)

Ketua tim pelaksana, Dr. Suyatno, menjelaskan bahwa teknologi tersebut dirancang untuk menjawab persoalan utama yang dihadapi mitra, yaitu kebutuhan air irigasi dan keterbatasan sumber energi untuk mengoperasikan pompa.

“Permasalahan yang kami temukan bukan hanya bagaimana menyediakan pompa, tetapi bagaimana memastikan petani mempunyai sumber energi yang lebih mandiri untuk mendukung kegiatan irigasi. Karena itu kami mengintegrasikan pompa dengan energi surya sekaligus memberikan pelatihan kepada mitra agar teknologi dapat dikelola secara mandiri,” ujar Suyatno.

Dari Energi Matahari Menjadi Air untuk Tanaman

Sistem bekerja dengan memanfaatkan radiasi matahari yang diterima panel photovoltaic dan dikonversi menjadi energi listrik. Energi tersebut digunakan untuk mengisi baterai dan mengoperasikan pompa air.

Penerapan sistem ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap listrik jaringan maupun bahan bakar fosil. Selain lebih ramah lingkungan, pemanfaatan energi matahari juga memberikan peluang untuk menekan biaya operasional pemompaan dalam jangka panjang. Sistem ini juga dilengkapi denga troly beroda yang memungkinkan sistem dapat dipidahkan dari satu lahan ke lahan lainnya.

Pemanfaatan pompa tenaga surya untuk irigasi ini berkembang sebagai salah satu pendekatan teknologi energi terbarukan dalam sektor pertanian. Sejumlah program pengabdian di berbagai daerah menunjukkan bahwa penerapan teknologi tersebut tidak hanya berkaitan dengan penyediaan air, tetapi juga dengan peningkatan efisiensi irigasi dan kapasitas pengetahuan kelompok tani.

Tidak Sekadar Memasang Alat

Menurut Suyatno, keberhasilan program tidak diukur hanya dari berhasil atau tidaknya pompa beroperasi. Hal yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut dapat meningkatkan level keberdayaan mitra, khususnya pada aspek produksi.

Karena itu, kegiatan dilaksanakan melalui beberapa tahapan, mulai dari identifikasi kebutuhan mitra, perancangan sistem, instalasi, pengujian, pelatihan, hingga pendampingan serta implementasi dilahan.

Mitra juga diberikan pengetahuan mengenai prinsip dasar energi surya, fungsi setiap komponen, prosedur pengoperasian pompa, keselamatan kerja, serta pemeliharaan sederhana.

“Petani tidak hanya menerima perangkat. Mereka kami libatkan dalam proses instalasi dan pengoperasian sehingga diharapkan mampu melakukan pemeriksaan dan pemeliharaan dasar secara mandiri,” jelas Suyatno.

Mendorong Peningkatan Keberdayaan Mitra

Penerapan pompa tenaga surya diarahkan untuk memberikan dampak langsung terhadap kegiatan produksi pertanian.

Dengan tersedianya sumber energi untuk pemompaan air, mitra diharapkan mampu meningkatkan kontinuitas irigasi, memperluas area yang dapat diairi, serta mengurangi biaya energi dalam kegiatan produksi.

Indikator keberhasilan program meliputi debit air, volume air yang dapat disediakan, luas lahan yang terlayani, frekuensi irigasi, biaya operasional, serta kemampuan mitra dalam mengoperasikan dan memelihara sistem.

Pendekatan tersebut penting karena keberdayaan masyarakat tidak hanya ditunjukkan oleh adanya sarana baru, tetapi oleh meningkatnya kemampuan masyarakat dalam menggunakan dan mengelola teknologi untuk mendukung aktivitas produktif.

Hal serupa juga ditunjukkan dalam sejumlah program penerapan pompa tenaga surya pada kelompok tani, yang menggabungkan instalasi teknologi dengan pelatihan dan pendampingan agar manfaat teknologi dapat berkelanjutan.

Mendukung Pertanian Berkelanjutan

Selain memberikan manfaat bagi kegiatan produksi, penggunaan energi surya juga mendukung upaya transisi menuju pemanfaatan energi yang lebih bersih.

Teknologi ini memiliki keterkaitan dengan beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 7: Energi Bersih dan Terjangkau, serta SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim.

Dalam konteks pertanian, pemanfaatan energi surya juga membuka peluang pengembangan sistem irigasi yang lebih efisien dan mandiri. Penggunaan energi terbarukan untuk pompa air dapat menjadi salah satu solusi bagi kelompok tani yang menghadapi keterbatasan akses listrik atau tingginya biaya bahan bakar.

Menuju Teknologi yang Mandiri dan Berkelanjutan

Tim pelaksana berharap penerapan pompa air tenaga surya tidak berhenti pada kegiatan Abmas, tetapi dapat dikembangkan menjadi model teknologi yang dapat direplikasi pada lahan pertanian lainnya.

Tahap selanjutnya diarahkan pada monitoring kinerja sistem, evaluasi volume air yang dihasilkan, pengukuran efisiensi energi, serta evaluasi dampaknya terhadap kegiatan produksi pertanian.

“Harapannya, setelah program selesai, kelompok tani dapat mengoperasikan dan merawat sistem secara mandiri. Jika sistem menunjukkan hasil yang baik, teknologi ini dapat direplikasi pada lahan atau kelompok tani lainnya,” kata Suyatno.

Melalui penerapan teknologi tepat guna berbasis energi terbarukan tersebut, perguruan tinggi tidak hanya berperan menghasilkan pengetahuan dan inovasi, tetapi juga menghadirkan solusi yang dapat digunakan secara langsung oleh masyarakat.

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dalam mendorong hilirisasi hasil riset dan inovasi melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Pelaksanaan program mendapat dukungan dari BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun 2026.

Tim pelaksana menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada BIMA dan ITS atas dukungan yang diberikan sehingga inovasi pompa air tenaga surya dapat diterapkan secara langsung kepada Kelompok Tani Rukun Santosa, SMP Islam Annadiyah Nganjuk. Apresiasi juga disampaikan kepada mitra masyarakat yang telah berpartisipasi aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan.