Konten dari Pengguna

Trump–Putin di Alaska: Awal Baru Menuju Perdamaian Dunia

Syaefunnur Maszah

Syaefunnur Maszah

Sr Human Capital Strategist, Wk Ketua Peradi

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syaefunnur Maszah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Stop perang, damai sekarang. (Foto: Ev, under the Unsplash License)
zoom-in-whitePerbesar
Stop perang, damai sekarang. (Foto: Ev, under the Unsplash License)

Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Anchorage, Alaska, Jumat lalu, menjadi sorotan dunia. Banyak pihak menanti apakah dua pemimpin negara adidaya itu mampu membuka jalan menuju perdamaian, khususnya terkait konflik panjang Rusia-Ukraina. Namun, meski tidak ada kesepakatan yang diumumkan, pertemuan ini tetap menyimpan sejumlah makna penting.

Trump dan Putin duduk bersama selama hampir tiga jam dalam sesi tertutup. Pertemuan yang berakhir lebih cepat dari jadwal ini tidak menghasilkan gencatan senjata ataupun peta jalan jelas untuk perdamaian di Ukraina. Namun, suasana hangat yang terbangun memperlihatkan bahwa jalur diplomasi tetap terbuka.

Seperti ditulis dalam artikel 6 Takeaways From Trump’s Meeting With Putin oleh Maggie Haberman dan Tyler Pager, The New York Times, 15 Agustus 2025, meski tanpa hasil konkret, Putin sudah mendapat keuntungan strategis hanya dengan hadir di tanah Amerika setelah sekian lama terisolasi oleh Barat. Di sisi lain, Trump juga mendapat panggung internasional untuk menunjukkan kedekatannya dengan pemimpin Rusia yang sering ia sebut sebagai “kuat.”

Pertemuan ini tidak bisa dilepaskan dari konteks besar perang Rusia-Ukraina yang sudah berlangsung sejak awal 2022. Trump sebelumnya menegaskan gencatan senjata sebagai syarat mutlak perdamaian. Tetapi di Anchorage, sikap itu tampak melunak. Trump memberi ruang bagi Putin untuk berbicara lebih dulu, bahkan tidak menyinggung tuntutan berhenti perang secara frontal. Dari kacamata perdamaian dunia, hal ini menunjukkan adanya kompromi, meski bisa juga dibaca sebagai kelemahan posisi tawar Amerika.

Dalam teori hubungan internasional, pendekatan ini bisa dilihat melalui perspektif Realpolitik, yakni menekankan pada kepentingan praktis dibanding idealisme. Seperti ditegaskan Henry Kissinger dalam teori balance of power, stabilitas global sering kali dicapai bukan melalui moralitas, melainkan keseimbangan kepentingan antar-negara besar. Trump tampaknya ingin menyeimbangkan hubungan dengan Rusia tanpa kehilangan citra sebagai pencari perdamaian.

Bagi Rusia, keuntungan dari pertemuan ini jelas. Putin berhasil kembali tampil di panggung global tanpa harus memberikan konsesi besar. Ia mendapatkan legitimasi politik dan menunjukkan pada rakyatnya bahwa Rusia masih dihormati, bahkan disambut di tanah Amerika. Hubungan hangat dengan Trump juga memperkuat posisinya di dalam negeri, sekaligus memberi sinyal bahwa Barat tidak sepenuhnya bisa meminggirkannya.

Bagi Amerika Serikat, meski tidak mendapat hasil konkrit, Trump bisa mengklaim dirinya sebagai pemimpin yang mampu berbicara langsung dengan “musuh.” Dalam politik domestik, ini memperkuat narasi bahwa hanya dirinya yang mampu menahan ambisi Rusia dan membuka jalan damai, sekaligus memberi amunisi politik dalam menghadapi kritik terhadap kebijakannya di Ukraina.

Namun, bagi Ukraina, pertemuan ini justru membawa rasa waswas. Presiden Volodymyr Zelensky harus puas menonton pertemuan itu lewat televisi. Ia khawatir bahwa diplomasi langsung antara Washington dan Moskow akan mengurangi posisi tawar Kyiv. Apalagi, tanpa dukungan penuh militer Amerika seperti di era Presiden Biden, Ukraina semakin terdesak di medan perang.

Dari perspektif penyelesaian konflik global, pertemuan ini bisa menjadi batu loncatan awal, meskipun rapuh. Tidak adanya kesepakatan bisa dilihat sebagai kegagalan, tetapi juga peluang untuk membuka pertemuan lanjutan. Jika kelak Trump benar-benar bersedia ke Moskow, jalur diplomasi mungkin semakin terbuka.

Di sisi lain, dunia tetap cemas. Setiap jeda tanpa gencatan senjata berarti lebih banyak korban di Ukraina. Sebagaimana ditegaskan Zelensky, “Perang terus berlangsung, bahkan di hari negosiasi, mereka tetap membunuh.” Ucapan ini memperlihatkan jurang besar antara diplomasi di meja perundingan dan kenyataan di medan perang.

Namun, pertemuan di Anchorage tetap penting dalam kerangka besar perdamaian dunia. Ia menunjukkan bahwa dua kekuatan besar masih bersedia duduk bersama, alih-alih membiarkan konflik terus membakar. Meskipun hasilnya tipis, momentum ini tetap bisa dirawat sebagai modal awal bagi perundingan yang lebih serius.

Bagi dunia internasional, manfaat pertemuan ini terletak pada terbukanya kembali kanal komunikasi. PBB, Uni Eropa, dan negara-negara lain kini memiliki alasan untuk mendorong negosiasi lebih lanjut. Setiap celah diplomasi, sekecil apa pun, adalah kesempatan untuk menekan eskalasi perang yang telah memakan banyak korban.

Jika dirangkum, keuntungan pertemuan Anchorage bisa dibagi empat: Rusia mendapatkan legitimasi, Amerika mendapat panggung politik, Ukraina mendapat perhatian dunia meski tetap waspada, dan komunitas internasional mendapat alasan baru untuk mendorong resolusi damai.

Perdamaian mungkin masih jauh, tetapi setidaknya pertemuan ini menunjukkan bahwa diplomasi belum mati. Seperti kata pepatah, jalan seribu mil selalu dimulai dari satu langkah. Anchorage mungkin adalah langkah kecil itu—rapuh, penuh kontroversi, tetapi tetap berarti.