Hustle Culture: Ambisi atau Tekanan Ekonomi?

Mahasiswa Universitas Pamulang, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Ekonomi.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Syafara Ardefya Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah perkembangan zaman yang semakin kompetitif, generasi muda sering kali dihadapkan pada tuntutan untuk terus produktif, mengembangkan kemampuan, dan mencapai kesuksesan sedini mungkin. Media sosial dipenuhi cerita tentang anak muda yang berhasil membangun bisnis, memiliki penghasilan sendiri, bekerja di perusahaan ternama, hingga mampu membeli berbagai kebutuhan dari hasil kerja kerasnya. Cerita-cerita tersebut memang dapat menjadi sumber inspirasi. Namun, di balik semangat untuk terus berkembang, muncul pertanyaan yang perlu direnungkan: apakah generasi muda benar-benar sedang mengejar kesuksesan, atau justru terjebak dalam tekanan ekonomi yang membuat mereka merasa tidak boleh berhenti bekerja? Fenomena ini dikenal dengan istilah hustle culture, yaitu budaya yang menempatkan kesibukan, kerja keras berlebihan, dan produktivitas sebagai ukuran utama keberhasilan. Dalam budaya ini, seseorang sering kali dianggap hebat ketika mampu bekerja lebih lama, mengambil banyak pekerjaan sekaligus, dan terus menghasilkan sesuatu tanpa banyak beristirahat. Istirahat bahkan dapat dianggap sebagai bentuk kemalasan, sementara waktu luang sering kali dipandang sebagai kesempatan yang seharusnya dimanfaatkan untuk menghasilkan uang atau meningkatkan kemampuan diri. Pada dasarnya, kerja keras bukanlah sesuatu yang salah. Generasi muda memang perlu memiliki semangat belajar, keberanian mencoba hal baru, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan. Persoalan muncul ketika kerja keras tidak lagi dilakukan berdasarkan tujuan dan kebutuhan yang jelas, melainkan karena rasa takut tertinggal dari orang lain. Akibatnya, produktivitas yang seharusnya menjadi sarana untuk mencapai kehidupan yang lebih baik justru berubah menjadi tuntutan yang sulit dihentikan. Salah satu faktor yang mendorong fenomena ini adalah kondisi ekonomi dan persaingan di dunia kerja. Mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan, memperoleh penghasilan yang cukup, dan mencapai kemandirian finansial bukanlah perkara mudah bagi semua anak muda. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Agustus 2025, tingkat pengangguran terbuka kelompok usia 20–24 tahun mencapai 14,35 persen. Angka tersebut memperlihatkan bahwa persaingan memasuki dunia kerja masih menjadi tantangan nyata bagi kelompok usia muda. Data ini tidak berarti seluruh anak muda mengalami tekanan yang sama, tetapi cukup menggambarkan bahwa kekhawatiran mengenai masa depan pekerjaan memiliki latar belakang yang nyata. Dalam kondisi seperti ini, keinginan untuk terus produktif dapat dipahami. Mahasiswa mengambil pekerjaan paruh waktu di sela-sela kuliah, lulusan baru mengikuti berbagai pelatihan untuk meningkatkan keterampilan, dan pekerja muda mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sebagian bahkan harus membantu perekonomian keluarga. Bagi mereka, bekerja lebih keras bukan semata-mata tentang mengejar gaya hidup atau ingin terlihat sukses, melainkan juga tentang memenuhi kebutuhan dan membangun keamanan finansial. Sayangnya, media sosial sering kali memperlihatkan kesuksesan tanpa menunjukkan keseluruhan proses di baliknya. Kita melihat seseorang yang berhasil membuka usaha pada usia muda, mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi, atau berlibur ke luar negeri dari hasil kerjanya sendiri. Namun, kita belum tentu mengetahui dukungan keluarga, kondisi ekonomi, kesempatan, kegagalan, dan proses panjang yang dilalui orang tersebut. Ketika pencapaian orang lain dijadikan standar untuk menilai kehidupan sendiri, generasi muda dapat merasa bahwa dirinya selalu tertinggal. Perasaan tertinggal ini kemudian mendorong munculnya perlombaan untuk menjadi produktif. Ada yang merasa harus memiliki pekerjaan sebelum lulus kuliah, membangun usaha sejak muda, mengikuti banyak kegiatan untuk memperkuat CV, atau mendapatkan penghasilan tambahan agar tidak dianggap kalah dari teman sebaya. Padahal, setiap orang memiliki titik awal, tanggung jawab, sumber daya, dan kesempatan yang berbeda. Tidak adil apabila keberhasilan seseorang hanya diukur melalui kecepatan mencapai pencapaian yang terlihat oleh orang lain. Dari sudut pandang ekonomi, fenomena hustle culture juga berkaitan dengan kebutuhan manusia untuk memenuhi keinginan yang terus berkembang, sementara sumber daya yang dimiliki terbatas. Generasi muda tidak hanya menghadapi kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, dan transportasi, tetapi juga memikirkan biaya pendidikan, tabungan, kebutuhan keluarga, serta persiapan menghadapi masa depan. Di sisi lain, kenaikan biaya hidup dan ketidakpastian pekerjaan dapat membuat penghasilan yang diperoleh terasa belum cukup. Kondisi tersebut mendorong sebagian anak muda untuk mengambil pekerjaan tambahan atau memperpanjang waktu kerja. Namun, penting untuk membedakan antara produktivitas yang lahir dari pilihan dan produktivitas yang didorong oleh keterpaksaan. Seseorang yang bekerja keras karena ingin mengembangkan usaha tentu memiliki situasi yang berbeda dengan seseorang yang harus bekerja berlebihan karena pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Jika tekanan ekonomi menjadi penyebab utama seseorang terus bekerja tanpa kesempatan beristirahat, masalahnya tidak dapat diselesaikan hanya dengan menyuruh individu tersebut mengatur waktu dengan lebih baik. Ada persoalan yang lebih luas, seperti kesempatan kerja yang layak, tingkat upah, perlindungan pekerja, dan ketimpangan akses terhadap sumber daya ekonomi. Dampak budaya ini juga tidak boleh diabaikan. Ketika seseorang terus-menerus menghubungkan harga dirinya dengan pencapaian dan pendapatan, kegagalan dapat terasa seperti bukti bahwa dirinya tidak cukup baik. Waktu istirahat menimbulkan rasa bersalah, pekerjaan sulit ditinggalkan meskipun tubuh sudah lelah, dan kehidupan pribadi perlahan tersisih. Dalam jangka panjang, pola kerja yang berlebihan dapat berkaitan dengan stres, kelelahan emosional, dan menurunnya kesejahteraan psikologis. Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam Community Research of Epidemiology pada 2025 menemukan adanya hubungan positif yang konsisten antara perilaku kerja kompulsif atau workaholism dan gejala depresi dalam studi-studi yang ditinjau. Temuan ini tidak berarti setiap orang yang bekerja keras pasti mengalami gangguan kesehatan mental, tetapi menjadi pengingat bahwa produktivitas yang tidak terkendali memiliki risiko yang perlu diperhatikan. Oleh karena itu, generasi muda perlu membangun cara pandang yang lebih sehat terhadap kesuksesan. Bekerja keras tetap penting, tetapi harus disertai kemampuan menentukan prioritas, mengenali batas diri, dan memahami tujuan yang ingin dicapai. Tidak semua kesempatan harus diambil, tidak semua tren harus diikuti, dan tidak setiap waktu luang harus diubah menjadi aktivitas yang menghasilkan uang. Beristirahat bukan berarti kehilangan ambisi. Sebaliknya, istirahat merupakan bagian dari upaya menjaga kemampuan agar seseorang dapat terus belajar, bekerja, dan berkembang dalam jangka panjang. Di tingkat masyarakat, kita juga perlu berhenti mengagungkan kesibukan sebagai satu-satunya tanda keberhasilan. Seseorang yang bekerja hingga larut malam tidak otomatis lebih produktif daripada orang yang mampu menyelesaikan pekerjaannya secara efektif dalam waktu yang wajar. Begitu pula, seseorang yang belum memiliki penghasilan besar pada usia muda bukan berarti gagal membangun masa depannya. Keberhasilan seharusnya dilihat melalui proses, kemampuan bertumbuh, kualitas kehidupan, dan manfaat yang dapat diberikan kepada diri sendiri maupun orang lain. Dunia pendidikan, keluarga, dan lingkungan kerja memiliki peran penting dalam membangun perspektif tersebut. Mahasiswa perlu dibekali keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja sekaligus kemampuan mengelola keuangan dan menghadapi tekanan. Keluarga dan lingkungan sosial perlu memberikan dukungan tanpa terus-menerus membandingkan pencapaian anak muda dengan orang lain. Sementara itu, perusahaan dan pembuat kebijakan perlu ikut mendorong tersedianya pekerjaan yang layak, perlindungan pekerja, serta lingkungan kerja yang menghargai keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Pada akhirnya, budaya hustle mengajarkan satu hal yang perlu kita pertanyakan kembali: apakah kita bekerja untuk membangun kehidupan yang lebih baik, atau justru mengorbankan kehidupan demi terus bekerja? Generasi muda berhak memiliki ambisi, mengejar penghasilan yang lebih baik, dan membangun masa depan yang mandiri. Namun, mereka juga berhak mendapatkan kesempatan kerja yang layak, waktu untuk beristirahat, dan ruang untuk menikmati proses kehidupan tanpa terus-menerus merasa tertinggal. Kesuksesan bukan perlombaan yang mengharuskan semua orang tiba di garis akhir pada waktu yang sama. Setiap orang memiliki perjalanan dan tantangannya sendiri. Karena itu, yang perlu dibangun bukanlah budaya bekerja tanpa henti, melainkan budaya bertumbuh secara berkelanjutan. Sebab, tujuan akhir dari kerja keras seharusnya bukan sekadar memiliki lebih banyak pencapaian, melainkan menciptakan kehidupan yang lebih sejahtera, bermakna, dan tetap manusiawi.
