Marni: Dari Harapan Menuju Kebebasan

Mahasiswa Semester 2 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Syafira Anggraini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Berlatar di sebuah pasar tradisional yang selalu ramai dan riuh, tepatnya di sebuah kios permak dengan lampu yang tak pernah berhenti berkedip, hiduplah seorang penjahit bernama Marni yang menjadi tokoh utama dalam cerpen ini.
Menurut Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya “Teori Pengkajian Fiksi” yang menyatakan bahwa tokoh utama adalah tokoh yang paling diutamakan oleh pengarang dan paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku maupun pihak yang mengalami berbagai peristiwa. Melalui penggambaran tersebut, pembaca diajak merasakan suasana pasar yang hiruk-pikuk sekaligus mengenal Marni sebagai seorang penjahit yang menjadi pusat cerita.
Cerpen “Rambut yang Tak Pernah Sampai ke Pinggang” karya Gladio yang diterbitkan pada 7 Januari 2026 merupakan sebuah prosa fiksi yang disajikan dengan gaya penceritaan sederhana, tetapi menggunakan bahasa yang unik dan puitis. Melalui tokoh Marni, yang digambarkan sebagai perempuan yang menggantungkan harapan pada janji-janji manis laki-laki, tetapi terus-menerus dikecewakan, cerpen ini mengajak pembaca melihat persoalan tersebut dari perspektif feminisme liberal. Perspektif ini memandang bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak, kebebasan, dan kesempatan yang setara dalam menentukan jalan hidupnya.
Marni menyimpan luka akibat janji-janji manis yang pada akhirnya hanya menyisakan kekecewaan. Dalam diam, ia mulai menyadari bahwa harapan yang selama ini digantungkannya kepada laki-laki justru membuatnya kehilangan sebagian dari dirinya. Keputusan Marni untuk memotong rambutnya menjadi simbol keberanian untuk melepaskan masa lalu sekaligus menemukan kembali kekuatan dalam dirinya.
Cerpen ini diawali dengan pertemuan antara Marni dan Jaka, seorang sopir angkot yang datang ketika Marni berhasil memanjangkan rambutnya hingga mencapai cuping telinga. Jaka hadir sebagai sopir angkot dengan bau solar yang melekat pada tubuhnya serta membawa janji-janji manis. Ia berjanji akan membawa Marni meninggalkan pasar tersebut dan membangun kehidupan baru bersama di kampung halamannya. Namun, setelah seminggu berlalu tanpa kabar, Marni justru menerima berita bahwa Jaka telah pergi dan tidak menepati janjinya.
Peristiwa tersebut membuat Marni menghadapi kenyataan pahit bahwa harapan yang diberikan Jaka hanyalah sebuah janji yang tidak pernah terwujud. Kekecewaan itu semakin memperkuat keputusan Marni untuk tetap memotong rambutnya, sebagai simbol perlawanan terhadap harapan palsu, tuntutan, dan pandangan yang membatasi dirinya sebagai seorang perempuan.
“Jaka sudah pulang kampung dan menikahi gadis pilihan ibunya.”
Kabar itu menjadi luka bagi Marni. Harapan yang sempat tumbuh bersama janji-janji Jaka perlahan runtuh, menyisakan kesedihan dan kekecewaan yang mendalam.
“Kres. Kres. Kres. Helai-helai rambutku yang menyimpan kenangan tentang elusan tangan Jaka dan aroma solar yang melekat padanya, satu per satu jatuh ke lantai ubin yang dingin. Mereka tergeletak seperti sisa-sisa kenangan yang telah mati, tanpa nisan dan tanpa nama”.
Dua tahun berlalu sejak kepergian Jaka yang meninggalkan luka dan kekecewaan bagi Marni. Sejak saat itu, Marni kembali menjalani hidupnya dengan membawa sisa-sisa kenangan yang telah ia kubur bersama rambut yang dipotongnya. Namun, waktu tidak sepenuhnya menghapus harapan dalam dirinya. Hingga suatu hari, kehadiran Sadeli, seorang pedagang kain dari blok seberang, kembali menghadirkan bayangan manis yang pernah Marni percaya.
Dengan kata-kata penuh pujian dan rayuan, Sadeli perlahan menumbuhkan harapan baru di hati Marni. Ia memuji rambut Marni dengan berkata:
“Rambutmu ini, Mar, kayak sutra India.”
Namun, harapan itu kembali harus dipendam ketika Marni mengetahui bahwa Sadeli telah memiliki empat anak dan seorang istri yang galaknya melebihi preman pasar.
“Kres. Kres. Kres. Lagu duka yang sama kembali terdengar, dengan korban yang sama. Aku kembali menjadi tunggak-tunggak kaku yang mencuat dari ladang kepalanya yang kering”.
Setelah kembali mengalami kekecewaan dari Sadeli, Marni mulai memahami bahwa setiap janji yang datang tidak selalu membawa kebahagiaan. Dua kali ia menaruh harapan pada seseorang, dua kali pula ia harus menerima kenyataan bahwa harapan tersebut berakhir menjadi luka. Meski begitu, perjalanan hidup membawanya kembali bertemu dengan seseorang yang perlahan mencoba mengisi ruang kosong dalam hatinya.
Kehadiran lelaki ketiga, Seno, seorang penjaga keamanan pasar, kembali membawa Marni pada persimpangan antara harapan dan kewaspadaan. Sikapnya yang terlihat tulus perlahan membuat Marni ingin percaya, tetapi luka dari pengalaman sebelumnya membuatnya tetap ragu terhadap ketulusan yang datang. Seno kemudian memberikan janji yang kembali membangkitkan harapan Marni.
“Nanti kalau rambutmu sudah panjang sampai pinggang, aku lamar.”
Dalam cerpen tersebut, rambut panjang merupakan simbol kepatuhan terhadap standar feminitas tradisional dan sebagai syarat untuk dinikahi.
Di tengah riuh tawar-menawar dalam pasar, lahirlah sebuah janji yang kembali menumbuhkan harapan. Sejak saat itu, Marni merawat rambutnya sepenuh hati dengan wangi, vitamin, dan kesabaran agar segera tumbuh panjang hingga pinggang, seperti janji yang akan membawanya pada sebuah lamaran.
Hingga suatu hari, datanglah seorang perempuan berdaster bunga sambil membawa seragam satpam yang koyak di bagian ketiak dan lutut. Ia menghampiri meja permak Marni.
“Mbak Marni, ya? Bisa permak ini? Suami saya itu lho, kerjanya apa saja sampai sobek begini.”
Saat kain itu diletakkan, mata Marni tertuju pada emblem nama di saku kemeja bertuliskan “Seno”. Tatapannya perlahan beralih kepada perempuan di hadapannya, lalu berhenti pada cincin emas yang melingkar di jarinya. Seketika, harapan yang selama ini ia simpan kembali runtuh. Lagi-lagi luka yang sama datang dengan wajah yang berbeda.
“KRES.” Segumpal rambutku jatuh ke lantai. Di dalamnya tersimpan harapan tentang Seno, tentang janji-janji manisnya, dan tentang mimpi sebuah lamaran.
“KRES.” Gumpalan lain menyusul. Menyimpan sisa-sisa tawa Marni ketika dulu dibelikan bakwan hangat.
“KRES. KRES. KRES.” Ia terus memotongku, tanpa ragu. Bukan hanya rambut yang ia jatuhkan, tetapi juga kenangan, luka, dan harapan yang selama ini ia genggam.
Marni hanya terdiam, memandangi helai-helai rambut yang kini tak lagi memiliki arti.
Marni kemudian membersihkan kiosnya dan mengumpulkan potongan rambutnya bersama sisa-sisa kotoran ke dalam kantong plastik. Sebelum fajar, ia pergi ke jembatan dan membuang kantong tersebut ke sungai, membiarkan arus membawa pergi sisa-sisa kenangan yang selama ini membebaninya. Untuk pertama kalinya, Marni merasakan udara pagi menyentuh kepalanya tanpa rasa terbebani. Ia pun kembali berjalan menuju pasar, entah untuk memulai kehidupan baru atau menghadapi perjalanan yang masih akan berulang.
Daftar Pustaka
Gladio. (2026). Rambut yang Tak Pernah Sampai ke Pinggang. Kompas.id.
Nurgiyantoro, Burhan. (2018). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
