Konten dari Pengguna

Punya Gelar Saja Tidak Cukup: Keterampilan Apa yang Dicari Perusahaan Saat Ini?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syahirah Ramadhani Novendra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gelar masih penting, tetapi di tengah persaingan kerja dan perkembangan AI, perusahaan kini juga menilai keterampilan nyata para pelamar.

Ijazah Sudah di Tangan, Lalu Apa?

Beberapa dekade lalu, ijazah sering dianggap tiket emas untuk masuk dunia kerja. Makin tinggi gelarnya, makin besar peluang diterima. Anggapan itu masih hidup sampai sekarang, tetapi kenyataannya mulai bergeser. Data Sakernas BPS Mei 2026 mencatat sekitar 1,03 juta lulusan D4, S1, S2, dan S3 masih menganggur, atau 14,31 persen dari total 7,22 juta pengangguran nasional. Porsi ini naik dari 12,37 persen pada November 2025 menjadi 14,27 persen pada Februari 2026. Meski begitu, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa kuliah itu percuma. Penganggur terbanyak masih lulusan SMA, yaitu 28 persen. BPS juga mencatat upah buruh lulusan D4 hingga S3 pada Februari 2026 rata-rata Rp4,77 juta, sekitar 2,1 kali lipat upah lulusan SD ke bawah. Jadi gelar tetap punya nilai, tetapi sekarang tidak lagi cukup untuk berdiri sendiri.

Ilustrasi Lulusan Sarjana (Sumber: AI Google)

Sebabnya, kebutuhan perusahaan ikut berubah seiring teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) yang masuk ke pekerjaan sehari-hari. Di tingkat global, laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum (WEF), yang menyurvei lebih dari 1.000 perusahaan di 55 negara, menempatkan berpikir analitis sebagai keterampilan inti paling dicari (69 persen perusahaan), disusul ketahanan dan kelincahan beradaptasi. Perusahaan juga memperkirakan 39 persen keterampilan inti pekerja akan berubah hingga 2030. Ini data global, bukan khusus Indonesia, tetapi arahnya relevan bagi pasar kerja kita pada 2025–2026. Pihak yang terlibat pun banyak: lulusan dan pencari kerja yang bersaing, perusahaan dan perekrut yang mencari orang siap pakai, serta kampus yang diminta menyiapkan lulusannya. Menurut saya, bagi mahasiswa dan fresh graduate, pertanyaannya sekarang bukan lagi "kuliah atau tidak", melainkan "selain gelar, apa yang bisa saya tawarkan?"

Sarjana Tidak Kebal Pengangguran

Soal pendidikan terakhir, polanya cukup menarik. Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2026 mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi ada pada lulusan SMK (7,74 persen), disusul SMA (6,23 persen) dan lulusan D4 hingga S3 (6,13 persen). Pada Mei 2026, angka D4 hingga S3 turun tipis menjadi 6,09 persen, sedangkan SMK menjadi 7,68 persen. Jadi lulusan perguruan tinggi tidak menganggur jauh lebih banyak daripada lulusan lain, tetapi mereka juga tidak kebal. Kelompok usia muda paling terdampak. TPT usia 15 sampai 24 tahun naik dari 16,36 persen pada Februari 2026 menjadi 17,37 persen pada Mei 2026. Angka ini hanya menunjukkan siapa yang menganggur, bukan penyebabnya. BPS tidak mengukur secara langsung ketidakcocokan antara pendidikan dan keterampilan yang dibutuhkan perusahaan, jadi sebaiknya kita tidak menyimpulkan kesenjangan itu hanya dari statistik pengangguran. Satu petunjuk dari sisi pekerja: per Mei 2026, hanya 13,18 persen dari 148,19 juta penduduk bekerja yang berpendidikan diploma ke atas. Artinya, persaingan lulusan baru terjadi di pasar kerja yang masih didominasi pekerja berpendidikan lebih rendah. Menurut saya, ini menandakan lowongan yang cocok untuk lulusan sarjana memang terbatas, dan itu opini penulis, bukan temuan BPS.

Ilustrasi Lulusan SD, SMP, SMA, SARJANA (Sumber: AI Google)

Dari sisi perusahaan, gambaran global lebih jelas. Berdasarkan survei WEF dalam Future of Jobs Report 2025, yang mencakup sekitar 1.000 perusahaan di 22 industri dan 55 negara, 63 persen pemberi kerja menyebut kesenjangan keterampilan sebagai hambatan utama transformasi bisnis mereka. Keterampilan inti yang paling dicari adalah berpikir analitis (69 persen perusahaan), disusul ketahanan dan kelincahan beradaptasi, lalu berpikir kreatif (57 persen). Soal AI, 86 persen pemberi kerja memperkirakan AI dan teknologi pengolah informasi akan mengubah bisnis mereka pada 2030. WEF memproyeksikan 170 juta pekerjaan baru dan 92 juta pekerjaan tergeser secara global, sehingga ada tambahan bersih 78 juta. Sebanyak 71 persen pemberi kerja akan merekrut orang dengan keterampilan AI, tetapi 41 persen juga memperkirakan ada pengurangan pekerja akibat AI. Perlu diingat bahwa ini proyeksi dan survei persepsi pemberi kerja global, bukan data lapangan Indonesia. Kesimpulannya jangan terlalu jauh: AI tidak otomatis "mengambil semua pekerjaan", tetapi membuat isi pekerjaan, dan keterampilan yang diminta, berubah.

Enam Bekal yang Tidak Tertulis di Ijazah

Mulai dari yang paling sering disebut: berpikir analitis. Dalam survei WEF, 69 persen perusahaan menganggapnya keterampilan inti, yang tertinggi di antara semua keterampilan. Contoh sederhananya: penjualan toko online turun 20 persen bulan ini. Orang yang berpikir analitis tidak langsung panik atau menyalahkan algoritma. Ia mengecek apakah yang turun jumlah pengunjung, tingkat pembelian, atau produk tertentu, baru mencari solusi. Komunikasi dan kerja sama tim berjalan beriringan. Contohnya, kamu harus menjelaskan hasil analisis tadi kepada atasan yang tidak paham data, lalu membagi tugas dengan rekan tim agar tidak ada pekerjaan ganda. WEF mencatat kepemimpinan dan pengaruh sosial termasuk keterampilan yang kepentingannya naik paling terasa dibanding laporan 2023. Kedua keterampilan ini bisa dilatih lewat tugas kelompok yang dikerjakan serius, lomba karya tulis atau case competition, dan organisasi kampus. Di sana kamu belajar menyampaikan pendapat tanpa menyinggung orang dan menyelesaikan perbedaan pendapat sebelum tenggat.

Keterampilan berikutnya berkaitan dengan perubahan. Adaptasi, fleksibilitas, dan kemauan belajar penting karena alat kerja cepat berganti. Ketahanan dan kelincahan beradaptasi ada di posisi kedua keterampilan inti paling dicari versi WEF. Perusahaan juga memperkirakan 39 persen keterampilan inti pekerja akan berubah hingga 2030. Contoh di tempat kerja: kantor tiba-tiba pindah ke aplikasi manajemen proyek baru, dan yang cepat belajar sendiri lewat tutorial akan lebih berguna daripada yang menunggu pelatihan. Dari sini, literasi digital dan penggunaan AI secara bijak menjadi kebutuhan, bukan lagi nilai tambah. Contohnya, kamu memakai AI untuk merangkum laporan 30 halaman, tetapi tetap memeriksa angka dan fakta pentingnya sebelum dikirim ke atasan, karena AI bisa keliru dan tanggung jawab tetap di tangan manusia. WEF mencatat 71 persen pemberi kerja akan merekrut orang dengan keterampilan AI. Kreativitas dan pengambilan keputusan melengkapi gambaran ini. Berpikir kreatif dipilih 57 persen perusahaan sebagai keterampilan inti. Misalnya, anggaran promosi dipotong setengah, lalu kamu harus memilih antara konten media sosial organik, kerja sama dengan komunitas, atau pemasaran lewat mulut ke mulut, dan berani memutuskan satu dengan alasan yang jelas. Ketiganya bisa dilatih lewat magang, proyek pribadi (misalnya mengelola akun media sosial usaha kecil teman), dan kursus daring yang diselesaikan dengan membuat karya nyata, bukan sekadar sertifikat.

Terakhir, kepemimpinan dan pengelolaan pekerjaan, yang sering disalahpahami sebagai urusan jabatan. Padahal, ini soal kemampuan mengatur diri dan orang lain: membuat daftar prioritas, membagi tugas sesuai kekuatan anggota, mengingatkan tenggat, dan bertanggung jawab saat ada yang meleset. Seorang fresh graduate yang baru masuk kerja bisa menunjukkan ini lewat hal sederhana, seperti memastikan laporan mingguan tim selesai tepat waktu tanpa disuruh. Cara melatihnya yang paling nyata adalah menjadi panitia atau ketua divisi di organisasi atau kegiatan kampus, karena di sana kamu belajar mengelola orang yang tidak dibayar dan tidak wajib menurut. Menurut saya, pengalaman semacam ini sering lebih berharga daripada nilai tambahan di transkrip, karena langsung terlihat di CV dan bisa diceritakan saat wawancara. Itu pendapat penulis, bukan temuan survei. Satu pesan penting dari data WEF: 85 persen pemberi kerja berencana memprioritaskan peningkatan keterampilan karyawan. Perusahaan memang akan melatih, tetapi lulusan yang sudah punya fondasi sendiri akan lebih dulu dilirik.

Gelar Tetap Penting, tetapi Bukan Satu-satunya Penentu

Pertama, perlu ditegaskan bahwa gelar bukan sesuatu yang sia-sia. Data BPS Februari 2026 menunjukkan rata-rata upah buruh lulusan D4 hingga S3 sekitar Rp4,77 juta, atau kira-kira 2,1 kali lipat upah lulusan SD ke bawah. Di profesi tertentu, gelar juga bukan pilihan. Dokter, apoteker, dan guru, misalnya, tidak bisa praktik tanpa pendidikan formal dan izin yang sesuai aturan. Ini fakta tentang sistem kerja kita, dan wajar, karena pekerjaan seperti itu menyangkut keselamatan atau mutu layanan orang banyak. Jadi menurut saya, ajakan "gelar saja tidak cukup" tidak boleh dibaca sebagai "gelar tidak perlu". Gelar adalah fondasi, dan keterampilan adalah bangunan di atasnya. Fondasi tanpa bangunan memang belum bisa ditinggali, tetapi bangunan tanpa fondasi juga rapuh.

Kedua, tidak semua perusahaan memandang gelar dengan cara yang sama. Perusahaan rintisan teknologi, agensi kreatif, dan perusahaan di bidang digital umumnya lebih mudah melirik kandidat dari portofolio, proyek nyata, atau hasil uji kemampuan. Sementara instansi pemerintah, perbankan, atau industri yang diatur ketat biasanya masih menetapkan jenjang pendidikan dan jurusan tertentu sebagai syarat administratif. Karena itu, saya menghindari kesimpulan bahwa "perusahaan sekarang tidak lagi peduli gelar". Pernyataan itu terlalu luas, dan saya tidak menemukan data resmi yang cukup untuk mendukungnya di Indonesia. Yang bisa dikatakan lebih aman: bobot gelar berbeda menurut sektor, jenis pekerjaan, dan kebijakan masing-masing perusahaan. Pandangan ini adalah analisis penulis, bukan hasil survei.

Ilustrasi Mencari Lowongan Kerja (Sumber: AI Google)

Ketiga, bagi perusahaan, ada pelajaran yang juga penting. Menurut saya, menyaring pelamar hanya dari jenjang pendidikan dan nilai bisa membuat perusahaan melewatkan kandidat yang kemampuannya sebenarnya cocok. Kemampuan nyata, pengalaman magang atau proyek, portofolio, dan kecocokan dengan budaya serta tugas pekerjaan layak ikut ditimbang. Meski begitu, penilaian seperti itu butuh waktu dan tenaga, dan tidak semua perusahaan punya kapasitas melakukannya, apalagi saat pelamar membeludak. Di sisi lain, pencari kerja juga perlu realistis: portofolio bagus tidak otomatis menggantikan syarat pendidikan yang memang diwajibkan. Jalan tengahnya, perusahaan membuka ruang penilaian yang lebih luas, sementara mahasiswa menyiapkan keduanya sekaligus, yaitu gelar yang selesai dan bukti kemampuan yang bisa ditunjukkan.

Ijazah Membuka Pintu, Kemampuanmu yang Membawamu Masuk

Dari data BPS sampai laporan WEF, pesannya konsisten: gelar masih bernilai, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya bekal. Lulusan perguruan tinggi memang tidak kebal dari pengangguran, sementara perusahaan di banyak negara mengeluhkan kesenjangan keterampilan dan bersiap menghadapi perubahan besar akibat teknologi dan AI. Menurut saya, kesiapan kerja bukan garis finis yang selesai saat toga dipindahkan, melainkan kebiasaan yang dibangun terus-menerus: mengasah keterampilan yang relevan, mau belajar hal baru, dan punya bukti nyata yang bisa ditunjukkan, entah lewat pengalaman organisasi, magang, proyek, atau portofolio. Memang, tidak semua orang punya akses dan kesempatan yang sama untuk itu, dan itu tantangan yang perlu dijawab bersama oleh kampus, perusahaan, dan pembuat kebijakan. Namun bagi kamu yang masih punya waktu, ada satu hal yang bisa dimulai tanpa menunggu lulus: pilih satu keterampilan, lalu latih hari ini. Sebab ketika persaingan makin ketat dan teknologi terus berubah, yang akan terus bertahan bukan mereka yang paling lama menunggu kesempatan, melainkan mereka yang paling awal bersiap menyambutnya.