Konten dari Pengguna

Cerpen Lelaki yang Terus Berdoa: Pergulatan Moral di Tengah Kerasnya Jakarta

Syahmah Arifah

Syahmah Arifah

Mahasiswa PBSI UIN jakarta

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syahmah Arifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kehidupan dibalik gedung-gedung yang menjulang. sumber: pixabay. https://pixabay.com/id/photos/kota-indonesia-pariwisata-986158/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kehidupan dibalik gedung-gedung yang menjulang. sumber: pixabay. https://pixabay.com/id/photos/kota-indonesia-pariwisata-986158/

Pergulatan moral menjadi salah satu persoalan yang sering muncul di tengah kerasnya kehidupan perkotaan. Apakah yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar kata Jakarta? Mungkin yang biasa dibayangkan adalah gedung-gedung tinggi, jalanan yang tak pernah sepi, atau kesempatan untuk mengubah nasib. Namun, di balik gemerlap ibu kota, tersimpan kisah tentang perjuangan, harapan, dan pergulatan moral yang tidak selalu terlihat. Gambaran inilah yang dihadirkan dalam cerpen Lelaki yang Terus Berdoa karya Andi Wirambara, sebuah cerita yang memperlihatkan bagaimana kerasnya kehidupan kota dapat mengubah jalan hidup seseorang.

Jakarta sering kali disebut sebagai kota yang dipenuhi oleh para pejuang rupiah. Banyak orang yang datang dengan membawa harapan untuk memperoleh pekerjaan dan kehidupan yang layak. Namun, tidak semua orang yang datang mampu meraih harapan tersebut. Bagi sebagian orang, jakarta justru menjadi tempat yang penuh persaingan, kesepian, dan tekanan hidup akibat kerasnya tuntutan ekonomi. Di kota yang seolah tidak benar-benar berhenti ini, seseorang tidak hanya dapat kehilangan harta benda, tetapi harapan, bahkan perlahan kehilangan keyakinan dalam hidupnya.

unsur latar dan tokoh yang saling mengikat satu dengan yang lain untuk menggambarkan konflik sosial

Potret hilangannya keyakinan dan harapan di tengah kejamnya ibu kota inilah yang digambarkan secara magis oleh Andi Wirambara dalam cerpennya yang berjudul Lelaki yang Terus Berdoa. Melalui kacamata Teori Burhan Nurgiantoro, sebuah cerpen yang berhasil tidak pernah menyajikan unsur-unsurnya secara terpisah. Latar tempat, penokohan, dan plot harus saling menganyam untuk melahirkan sebuah makna yang utuh. Dalam cerpen ini, Jakarta bukan sekadar dekorasi tempat, melainkan ruang psikologis yang represif. Kota ini berwujud sebagai labirin monster yang egois, tempat di mana teriakan korban copet di terminal berlalu begitu saja karena orang-orang "memilih tak ikut campur dan menyelamatkan dirinya masing-masing." Latar suasana yang tidak ramah inilah yang akhirnya memaksa sang tokoh utama, seorang lelaki yang semula datang dengan niat baik menyelamatkan adiknya, untuk menyerah pada hukum rimba demi bertahan hidup.

“Jakarta tak memberi waktu untuk merasa iba, apalagi berharap.”

Ketika tokoh utama mencari alamat keberadaan adiknya Ia bertanya kepada beberapa orang yang tidak sedikit dari mereka menatapnya dengan tatapan curiga. Setelah lama bertanya, akhirnya Ia menemukan alamat yang di carinya. Tetapi nihil ketika Ia bertanya kepada seorang wanita yang berada diwarung depan alamat itu ternyata adiknya sudah lama pergi ikut bersama suaminya. Ketika si tokoh utama itu ingin bertanya keberadaan adiknya yang sebenarnya, wanita itu berkata ”Memang dia siapanya gue? Sampai harus pamit segala!” Permasalah yang dialami oleh tokoh utama dapat dilihat bahwasanya lingkungan itu bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya sebuah cerita, tetapi juga membentuk cara seseorang dalam mengambil sebuah keputusan. Seorang lelaki yang awal mulanya datang dari kampungnya menuju ke Jakarta hanya untuk mencari adiknya, kemudian perlahan menjadi kehilangan keyakinan hidupnya setelah menjadi korban pencopetan di terminal, hidup dalam kelaparan, dan tidak satupun orang peduli dengannya. Karena tekanan-tekanan itu sehingga memaksanya melakukan hal yang sangat dihindarinya dulu, yaitu mengambil sebuah dompet seorang bapak yang sedang mengantri di sebuah wahana. Namun, keberhasilan itu tidak menumbuhkan rasa kemenangan pada dirinya, akan tetapi justru rasa bersalahlah yang tumbuh. Setelah mendapatkan dompet itu Ia segera menuju ke sebuah tempat makan dan memesan makanan. Sebelum makan Ia memilih untuk mendoakan si pemilik dompet agar ikhlas diberi rezeki yang berlimpah sekaligus memohon ampun kepada tuhan atas apa yang telah dilakukannya. “Ia merasa masihlah seorang lelaki baik yang tak memiliki pilihan lain demi mendamaikan lapar dan hampa perutnya.” Perbuatan yang dinilai sebagai tindakan kriminal itu terkadang bukan karena hilangnya hati nurani tetapi karena suatu hal yang mendesak seseorang itu melakukannya untuk mempertahankan hidupnya dari pergulatan ekonomi sosial. Terkadang orang jahat itu tumbuh dari orang baik yang disakiti. “Sekarang, di hadapan ayam goreng itu, ia memutuskan langkah terakhir, pulang.” Diantara keramaian Ia termenung, dan memutuskan untuk pulang kekampungnya karena kerasnya kehidupan yang Ia rasakan di Ibu kota. Kemudian Ia memejamkan matanya dan terbayanglah ibunya yang sedang senyum didepannya. Ketika suapan pertama itu masuk kedalam rongga mulutnya bersamaan dengan menetesnya cairan berwarna bening yang mengalir dari sudut mata itu.

kesimpulan

Walaupun demikian, perbuatan yang dilakukan oleh tokoh utama tidak sepenuhnya dianggap benar. Melalui kisah ini kita dapat menyaksikan, bahwa kehidupan di kota besar tidak hanya menguji kemampuan untuk bertahan hidup, tetapi juga menguji nilai-nilai yang dipegangnya. Mengingatkan kita bahwa setiap orang itu mempunyai perjuangan yang berbeda beda dalam hidupnya. Tidak semua kesalahan atau kejahatan dapat dipandang sederhana tanpa melihat keadaan yang melatar belakanginya.

Daftar pustaka

Nurgiyantoro, Burhan. (2018). Teori Pengkajian Fiksi. Gadjah Mada University Press.

Wirambara, A. (2026). Lelaki yang Terus Berdoa. Kompas urbana. https://www.kompas.id/artikel/lelaki-yang-terus-berdoa?utm_source=whatsapp&utm_medium=shared&utm_campaign=tpd_-_website_traffic