Apa Itu First Pass Effect? Kenapa Obat Minum Dosisnya Lebih Besar dari Suntikan

Pharmacy Major,State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Syaira Azizah Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah kamu bertanya-tanya kenapa obat yang diminum sering kali harus dikonsumsi dalam dosis yang jauh lebih besar dibandingkan obat yang disuntikkan? Misalnya, morfin yang diberikan lewat suntikan hanya membutuhkan dosis kecil untuk bekerja efektif, sementara versi oral yang ditelan membutuhkan dosis yang jauh lebih tinggi untuk menghasilkan efek yang setara. Ini bukan soal perbedaan kekuatan obatnya melainkan karena ada "pos pemeriksaan" di dalam tubuh yang menyaring sebagian besar obat sebelum sampai ke tujuan.

Dalam dunia farmakologi, fenomena ini dikenal sebagai first pass effect atau dalam istilah Indonesia, efek lintas pertama. Memahaminya bukan hanya menarik secara ilmiah, tetapi juga penting untuk memahami mengapa dokter dan apoteker menetapkan dosis obat dengan cara yang mereka lakukan.
Perjalanan Obat Setelah Ditelan
Ketika kamu menelan sebutir tablet atau kapsul, obat tidak langsung masuk ke aliran darah dan bekerja di seluruh tubuh. Ia harus melewati perjalanan panjang terlebih dahulu yakni larut di lambung, diserap di dinding usus halus, lalu dibawa melalui pembuluh darah ke hati sebelum akhirnya masuk ke sirkulasi sistemik yang mengedarkannya ke seluruh tubuh.
Di sinilah masalahnya dimulai,Hati adalah "pabrik kimia" tubuh yang dipenuhi enzim metabolisme, terutama enzim yang dikenal sebagai sitokrom P-450. Ketika darah dari saluran pencernaan melewati hati untuk pertama kalinya, enzim-enzim ini langsung bekerja memecah sebagian zat aktif obat bahkan sebelum obat tersebut sempat mencapai organ yang dituju.
Mengapa Ini Tidak Terjadi pada Suntikan?
Obat yang disuntikkan langsung ke pembuluh darah vena yang dikenal sebagai rute intravena melewati seluruh proses ini. Ia masuk langsung ke sirkulasi sistemik tanpa harus melewati dinding usus dan hati terlebih dahulu. Hasilnya 100% dari dosis yang diberikan tersedia untuk tubuh, tanpa pengurangan sama sekali.
Inilah mengapa, secara ilmiah, obat intravena dikatakan memiliki bioavailabilitas 100% artinya semua yang dimasukkan benar-benar bekerja. Sementara obat oral bisa memiliki bioavailabilitas yang jauh lebih rendah, tergantung seberapa besar first pass effect yang dialami oleh senyawa aktifnya.
Seberapa Besar Pengurangan yang Terjadi?
Ini sangat bervariasi tergantung jenis obatnya. Beberapa obat hanya kehilangan sedikit konsentrasinya saat melewati hati. Tetapi beberapa obat lain mengalami pengurangan yang sangat dramatis. Morfin oral, misalnya, memiliki bioavailabilitas hanya sekitar 20–30% artinya dari 100 mg yang ditelan, hanya sekitar 20–30 mg yang benar-benar aktif di dalam tubuh. Sisanya diurai oleh hati sebelum sempat bekerja.
Contoh lain adalah remdesivir, antivirus yang digunakan dalam penanganan COVID-19. Obat ini tidak bisa diberikan secara oral sama sekali karena seluruh dosisnya akan terperangkap dan dimetabolisme di hati, nyaris tanpa sisa yang mencapai sirkulasi sistemik. Itulah mengapa remdesivir hanya tersedia dalam bentuk infus intravena.
Bagaimana Para Ahli Farmasi Menyiasatinya?
Ada beberapa strategi yang dikembangkan untuk menghadapi tantangan first pass effect. Pertama adalah mengubah rute pemberian seperti yang dilakukan pada nitrogliserin (sublingual), beberapa obat hormonal (patch kulit), atau obat-obatan yang diberikan melalui rektum (supositoria). Semua rute ini memungkinkan obat masuk ke aliran darah tanpa harus melewati hati terlebih dahulu.
Strategi kedua yang lebih canggih adalah mengembangkan konsep obat prodrug senyawa yang sengaja dirancang dalam bentuk tidak aktif, kemudian diaktifkan oleh enzim hati saat melewatinya. Dengan cara ini, first pass effect justru dimanfaatkan sebagai mekanisme aktivasi, bukan dihindari. Kodein adalah contoh klasiknya kodein sendiri bukan analgesik kuat, tetapi hati mengubahnya menjadi morfin yang aktif.
Perbedaan dosis antara obat minum dan suntikan bukan keputusan sembarangan ia adalah konsekuensi langsung dari first pass effect, fenomena biologis di mana hati "memotong" sebagian besar obat sebelum sampai ke tujuan. Memahami konsep ini membantu kita mengerti mengapa bentuk sediaan dan rute pemberian obat bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan keputusan ilmiah yang sangat menentukan efektivitas pengobatan. Dan mengapa, saat dokter atau apoteker menentukan dosis, ada ilmu yang sangat mendalam di balik setiap angkanya.
