Cerpen: Aku, Hanya Tempat Singgah

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Aku kira dia serius. Ternyata, aku cuma tempat singgah saat dia kesepian. Kalimat itu baru benar-benar kupahami setelah hampir empat bulan mengenal seorang laki-laki yang awalnya datang dengan begitu banyak perhatian. Sebut saja namanya Raka. Dia yang pertama kali mendekatiku, dia pula yang selalu punya alasan untuk memulai percakapan. Setiap pagi, pesan WA darinya hampir selalu menjadi hal pertama yang kubaca setelah membuka mata. “Udah bangun, Sayang?” atau “Jangan lupa sarapan, ya.” Hal-hal sederhana yang mungkin terdengar biasa bagi orang lain. Tapi perlahan membuatku merasa bahwa ada seseorang yang benar-benar peduli kepadaku.
Raka memang bukan tipe laki-laki yang hanya pandai merangkai kata. Dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan sudah kulupakan sendiri. Dia tahu makanan kesukaanku, lagu yang sering kudengarkan, sampai kebiasaanku memendam masalah agar tidak merepotkan orang lain. Kalau aku pulang kuliah, dia akan menunggu kabar sampai aku tiba di rumah. Pernah suatu kali aku bercanda, “Lo perhatian banget. Emang gue siapa, sih?” Dia menjawab santai, “Ya calon gue lah. Emang mau jadi siapa lagi?” Aku tertawa mendengarnya, tetapi diam-diam kalimat itu menetap di kepalaku lebih lama daripada yang seharusnya.
Tanpa kusadari, perhatian yang awalnya terasa menyenangkan mulai berubah menjadi harapan. Aku mulai menunggu pesan darinya, tersenyum sendiri ketika namanya muncul di layar ponsel, bahkan membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang belum pernah benar-benar kami bicarakan. Ketika ada laki-laki lain yang mencoba mendekat, aku memilih menjaga jarak. Bukan karena Raka melarangku, melainkan karena aku merasa tidak pantas membuka pintu untuk orang lain ketika hatiku sendiri sudah mulai menyediakan tempat untuknya. Dalam pikiranku, kami memang belum punya status, tetapi bukankah semua yang kami jalani selama ini seperti dua orang yang sedang menuju hubungan serius?
Namun, harapan sering kali tumbuh lebih cepat daripada kepastian. Pada suatu malam, ketika kami sedang bertukar pesan, aku memberanikan diri menanyakan sesuatu yang sejak lama mengganggu pikiranku. “Sebenernya kita ini apa, sih?” Lama sekali dia membalas. Aku menatap layar ponsel, mencoba menebak-nebak apa yang sedang dipikirkannya. Sampai akhirnya muncul sebuah pesan singkat, “Jalanin aja dulu. Kenapa harus buru-buru dikasih status?” Aku terdiam. Ada bagian dari diriku yang ingin bertanya lebih jauh, tetapi bagian lain memilih mengerti. Mungkin dia belum siap, pikirku. Mungkin aku hanya perlu bersabar sedikit lagi.
Sayangnya, setelah malam itu, Raka justru perlahan menjauh. Pesan paginya mulai jarang datang. Percakapan yang dulu bisa berlangsung berjam-jam kini hanya berisi jawaban pendek. Telepon yang biasanya menemaniku sebelum tidur semakin jarang terdengar. Setiap kali aku mengajaknya bertemu, selalu ada alasan yang membuat rencana kami batal. Dia sibuk, sedang lelah, ada urusan mendadak, atau sekadar mengatakan bahwa nanti akan mengabariku lagi. Aku berusaha memahami kesibukannya, meskipun jauh di dalam hati aku tahu ada sesuatu yang berubah. Aku hanya belum cukup berani mengakui bahwa mungkin perubahan itu bukan sekadar tentang kesibukan.
Anehnya, setiap kali aku mulai berusaha menjauh, Raka selalu kembali. Dia tiba-tiba mengirim pesan, menanyakan kegiatanku, atau mengeluh karena aku tidak lagi seramai dulu. “Lagi sibuk apa? Kok sekarang beda?” tanyanya suatu malam. Dan seperti orang yang lupa bagaimana rasanya kecewa, aku kembali luluh. Aku kembali membalas pesannya dengan antusias, kembali menceritakan hariku, dan kembali berharap bahwa mungkin kali ini dia benar-benar akan mendekat. Aku tidak sadar bahwa selama ini aku seperti berdiri di depan pintu yang hanya dibuka ketika seseorang di dalamnya membutuhkan teman.
Sampai suatu sore, seorang teman memberitahuku bahwa Raka sedang intens mendekati perempuan lain. Awalnya aku tidak percaya. Aku mencoba mencari alasan untuk membela laki-laki yang bahkan tidak pernah memberiku kepastian itu. Mungkin mereka hanya teman, mungkin aku salah paham, mungkin ada penjelasan yang belum kuketahui. Namun, setelah mendengar beberapa cerita, aku akhirnya memberanikan diri bertanya langsung kepadanya. Jawabannya datang tanpa basa-basi, seolah empat bulan kedekatan kami tidak pernah berarti apa-apa. “Kan kita nggak pacaran. Gue nggak pernah janji apa-apa sama lo.” Aku membaca pesan itu berulang kali, berharap menemukan sedikit saja penyesalan di antara kata-katanya. Tidak ada.
Raka memang benar. Dia tidak pernah resmi menjadi pacarku. Dia tidak pernah mengatakan bahwa aku satu-satunya perempuan yang sedang didekatinya. Bahkan kalimat tentang menjadi calon masa depan yang dulu membuatku tersenyum bisa saja baginya hanya sebuah candaan. Tetapi kalau memang tidak pernah serius, mengapa dia memperlakukanku seolah aku begitu istimewa? Mengapa dia datang kembali setiap kali aku mulai melangkah pergi? Mengapa dia membuatku merasa dibutuhkan, lalu bersikap seolah aku tidak punya alasan untuk kecewa? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepalaku, tetapi tidak satu pun mampu mengubah kenyataan bahwa aku telah berharap pada seseorang yang tidak pernah benar-benar memilihku.
Akhirnya, aku membalas pesannya dengan kalimat yang bahkan sulit kutulis tanpa menahan sesak di dada. “Iya, lo emang nggak pernah janji. Gue aja yang terlalu percaya.” Setelah itu, aku berhenti menghubunginya. Tidak ada pesan panjang untuk meminta penjelasan, tidak ada pertengkaran untuk membuktikan siapa yang paling bersalah. Aku hanya memilih diam dan perlahan menarik diriku dari sesuatu yang selama ini membuatku terus menunggu. Hari-hari pertama terasa berat. Tanganku masih terbiasa membuka ruang percakapan kami, mataku masih mencari namanya di antara notifikasi yang masuk. Namun, aku mulai belajar bahwa kehilangan seseorang yang tidak pernah benar-benar menjadi milikku tetap bisa menyakitkan, dan rasa sakit itu tidak membuat perasaanku menjadi tidak berarti.
Dua minggu kemudian, ketika aku mulai terbiasa menjalani hari tanpa menunggu kabarnya, sebuah pesan darinya muncul. “Lo sekarang udah punya cowok baru, ya?” Aku hampir tertawa membaca pertanyaan itu. Setelah sekian lama menjauh, ternyata dia masih ingin tahu apakah ada laki-laki lain yang mengisi hariku. “Belum. Emang kenapa?” balasku. Dia menjawab, “Oh, kirain. Kangen ngobrol sama lo aja.” Aku menatap layar cukup lama. Dulu, kalimat seperti itu mungkin akan membuatku kembali berharap. Sekarang, aku justru memahami sesuatu yang sebelumnya tidak sanggup kulihat: bisa jadi dia memang merindukan kehadiranku, tetapi merindukan seseorang tidak selalu berarti ingin membangun hubungan dengannya. Mungkin dia hanya kehilangan perhatian yang selama ini selalu tersedia kapan pun dia menginginkannya.
Sejak saat itu, aku berhenti mencari jawaban dari perilaku Raka dan mulai belajar menerima kenyataan. Mungkin dia memang sengaja memberiku harapan, mungkin juga aku yang terlalu cepat mengartikan perhatian sebagai keseriusan. Namun, satu hal yang kini kupahami: tidak semua orang yang membuat kita merasa istimewa benar-benar ingin memiliki kita. Ada yang hanya ingin memastikan bahwa ketika dunia terasa sepi, masih ada seseorang yang bersedia mendengarkan ceritanya. Dan bodohnya, aku pernah mengira diriku adalah tujuan, padahal ternyata hanya tempat singgah.
Sekarang, aku tidak lagi ingin menghabiskan malam dengan memikirkan seseorang yang bahkan tidak pernah memastikan tempatku dalam hidupnya. Aku tidak ingin lagi menerjemahkan pesan singkat menjadi harapan panjang, perhatian sesaat menjadi janji masa depan, atau kerinduan seseorang menjadi bukti cinta. Kalau memang ingin bersamaku, datanglah dengan kepastian. Kalau hanya kesepian, jangan mengetuk pintu hatiku seolah-olah ingin menetap. Sebab aku bukan tempat persinggahan yang bisa kau datangi sesukamu, lalu kau tinggalkan ketika sudah menemukan kebahagiaan di tempat lain.
Dan jika suatu hari kau kembali, Raka, mungkin aku masih akan mengingat bagaimana rasanya bahagia saat namamu muncul di layar ponselku. Tapi jangan salah mengartikan kenangan itu sebagai kesempatan kedua. Aku pernah kehilangan banyak malam hanya untuk memikirkanmu, sampai lupa bahwa hidupku sendiri juga layak diperjuangkan. Kini aku mengerti, yang paling menyakitkan bukanlah ketika seseorang pergi, melainkan ketika kita terlalu lama menunggu seseorang yang sejak awal tidak pernah berniat tinggal. Jadi, pergilah jika memang hanya ingin singgah. Kali ini, pintunya tidak akan kubuka lagi. Aku sudah terlalu lama menjadi tempat pulang bagi seseorang yang tidak pernah menganggapku rumah.
Dan kini, aku hanya belajar memilih diriku sendiri….
