Konten dari Pengguna

Downgrade In This Economy: Dari Kopi Kekinian ke Kopi Saset

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu, setiap berangkat kerja, nongkrong di Kopi Kenangan atau Fore sudah menjadi ritual kecil untuk menyemangati diri. Makan siang di restoran dekat kantor terasa biasa, semangkuk Indomie menjadi teman begadang, sementara Netflix menemani akhir pekan. Namun, belakangan ini semuanya mulai berubah. Downgrade in this economy. Beberapa kawan pun akhirnya mulai “turun kasta”. Dari kopi kekinian berganti kopi murah atau kopi saset, Indomie bergeser ke mie Sakura, langganan Netflix dihentikan dan diganti scrolling Reels di media sosial.

Makan siang di restoran pun kini cukup di warteg dekat kantor. Bukan karena tiba-tiba ingin hidup minimalis, melainkan karena harga kebutuhan terus terasa mencekik, sementara gaji tidak kunjung naik signifikan. “Anjrit, kemiskinan yang gue nggak bisa terima itu turun kasta minum kopi,” keluh seorang pekerja sambil tertawa getir. Candaan itu terdengar lucu, tetapi sesungguhnya menyimpan kegelisahan banyak pekerja yang mulai kesulitan mempertahankan gaya hidup yang dahulu terasa wajar.

Inilah wajah downgrade in this economy: ketika seseorang harus menurunkan standar konsumsi bukan karena kehilangan selera, melainkan karena daya beli semakin tertekan. Gaji Rp3 juta sebulan, misalnya, bisa terasa sangat terbatas ketika harus dibagi untuk transportasi, makan, sewa tempat tinggal, pulsa, cicilan, dan membantu keluarga. Belum lagi kebutuhan mendadak yang datang tanpa permisi. Akhirnya, yang pertama kali dikorbankan adalah hiburan, makanan favorit, dan kebiasaan kecil yang selama ini menjadi hadiah setelah lelah bekerja. Masalahnya, penghematan saja tidak selalu cukup jika penghasilan stagnan sementara pengeluaran terus meningkat. Lebih mengkhawatirkan lagi jika seseorang masih terlihat baik-baik saja di luar, padahal saldo rekening makin menipis dan tidak ada simpanan yang bisa diandalkan ketika terjadi keadaan darurat.

Memang jelas, downgrade in this economy buat sebagian besar pekerja sulit dihindari. Faktanya begitu sih. Mau tidak mau, harus menurunkan standar gaya hidup atau konsumsi ke pilihan yang lebih murah. Biar bisa menghemat uang dan bertahan hidup di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Agak jelas sih, politik yang busuk dan pemerintah yang tidak kompeten itu akhirnya berpengaruh ke kondisi ekonomi. Ukurannya sederhana, IHSG anjlok, dollar naik, rupiah melemah. Kita sudah kerja keras tapi stress akibat gaji makin tidak cukup. Mau healing juga susah. Duit dapat tiap bulan tapi tidak bisa dipakai untuk beli apa-apa! Boro-boro nonton konser musik.

Tapi biar gimana, kita harus tetap semangat. The show must go on. Ikhtiar terus dan berdoa agar kondisi ekonomi bangsa makin membaik, dan ekonomi rakyat bisa makin pulih. Downgrade-nya bisa hilang dan in this economy berubah jadi harapan yang mencerahkan. Semoga dan semoga.

Donwgrade in this economy

Karena itu, besok-besok saat ekonomi sudah membaik, jangan lupa nabung. Menabung bukan lagi sekadar kebiasaan, melainkan strategi bertahan menghadapi ekonomi yang tidak menentu. Dana darurat dapat menjadi bantalan ketika terkena PHK, jatuh sakit, kehilangan penghasilan, atau menghadapi kebutuhan mendadak tanpa harus berutang. Tidak perlu menunggu gaji besar untuk mulai menabung. Jika penghasilan Rp3 juta, mulailah dari Rp50.000 atau Rp100.000 setiap bulan sesuai kemampuan, kemudian tingkatkan ketika kondisi memungkinkan. Pisahkan tabungan segera setelah gaji masuk, catat pengeluaran, kurangi biaya yang tidak terlalu penting, dan hindari cicilan konsumtif yang menggerus pendapatan. Target awalnya bisa mengumpulkan dana sebesar satu bulan pengeluaran pokok, lalu bertahap menuju tiga hingga enam bulan pengeluaran, disesuaikan dengan kestabilan pekerjaan dan tanggungan keluarga. Sedikit demi sedikit mungkin terasa lambat, tetapi tabungan yang dibangun secara konsisten dapat memberikan ruang bernapas ketika keadaan berubah.

Terus terang, in this economy, tidak ada yang salah sih dengan beralih dari kopi mahal ke kopi saset, dari restoran ke warteg, atau dari layanan streaming berbayar ke hiburan gratis. Turun harga bukan berarti turun harga diri. Yang perlu diwaspadai justru ketika kita terlalu sibuk mempertahankan penampilan sampai lupa membangun keamanan finansial. Tidak perlu memaksakan gaya hidup demi terlihat sukses di mata orang lain, apalagi sampai berutang hanya untuk mempertahankan kebiasaan lama. Nikmati apa yang masih bisa dinikmati, sesuaikan pengeluaran dengan kemampuan, dan sisihkan sebagian penghasilan untuk masa depan. Sebab, kita tidak pernah tahu apakah bulan depan keadaan akan lebih baik atau justru semakin sulit. Kopi murah mungkin hanya mengubah rasa di lidah, tetapi tidak punya tabungan bisa mengubah seluruh hidup ketika badai ekonomi datang. Jangan sampai hari ini kita sibuk terlihat mampu, tetapi besok tidak punya pegangan saat benar-benar membutuhkan. #KopiPensiunan #EdukasiDPLK #DanaPensiun