Konten dari Pengguna

Hidup Sederhana, Jangan Banyak Gengsi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari gini banyak orang hidup dengan gwngsi. Bergaya hidup hanya karena gengsi. Katanya, biar dianggap lebih dihormati. Biar dianggap punya harga diri, lalu dipandang tinggi oleh lingkungan sosialnya, oleh pergaulannya. Semua karena gengsi.

Jangan mau dibodohi oleh gengsi, apalagi terlena oleh gaya hidup yang sebenarnya tidak sanggup kita biayai. Banyak orang rela berutang demi membeli ponsel terbaru, mengganti kendaraan agar terlihat sukses, atau memaksakan diri makan di tempat mahal hanya supaya tidak dianggap ketinggalan zaman. Padahal, setelah semua itu didapat, belum tentu hatinya tenang. Bahkan, ada yang tersenyum di media sosial, tetapi diam-diam pusing memikirkan cicilan dan kebutuhan hidup yang belum terpenuhi. Jangan sampai kita sibuk terlihat kaya di mata orang lain, tetapi justru merasa miskin di dalam hati. Hidup bukan perlombaan untuk mengalahkan siapa pun, melainkan perjalanan untuk mencukupkan diri dengan apa yang kita miliki.

Maka hiduplah dengan versi diri sendiri. Jika penghasilan kita cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membayar kewajiban, menabung sedikit demi sedikit, dan sesekali menikmati secangkir kopi, bukankah itu sudah patut disyukuri? Tidak perlu memaksakan liburan mahal hanya karena teman sekantor baru pulang dari luar negeri. Tidak perlu membeli barang bermerek hanya karena tetangga memilikinya. Setiap orang punya jalan, kemampuan, tanggung jawab, dan waktunya masing-masing. Ada yang sukses lebih cepat, ada yang harus berjuang lebih lama. Tidak masalah berjalan perlahan, selama kita tetap bergerak melalui ikhtiar yang jujur. Sebab, hidup yang baik bukan tentang seberapa cepat kita sampai, tetapi bagaimana kita menjalani perjalanan tanpa kehilangan ketenangan dan rasa syukur.

Semakin sederhana gaya hidup, semakin banyak ruang bagi hati untuk merasa cukup. Bayangkan seorang bapak yang memilih tetap menggunakan sepeda motor lamanya, memasak di rumah bersama keluarga, dan menyisihkan sebagian penghasilan untuk tabungan hari tua. Sementara itu, temannya sibuk mengganti kendaraan demi gengsi, menghabiskan penghasilan untuk memenuhi keinginan, lalu kebingungan ketika ada kebutuhan mendadak. Si bapak mungkin tidak terlihat mewah, tetapi tidurnya lebih nyenyak karena keuangannya terjaga dan keluarganya merasa aman. Dari situ kita belajar bahwa kesederhanaan bukan tanda ketidakmampuan, melainkan kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan. Kita tidak harus memiliki segalanya untuk bahagia; kita hanya perlu belajar menghargai apa yang sudah ada sambil terus memperjuangkan apa yang memang kita butuhkan.

Ngeriung di kopi pensiunan

Dan jangan lupa berbagi kepada sesama. Ketika kita memiliki rezeki lebih, sisihkan sebagian untuk membantu tetangga yang kesulitan, membelikan makanan bagi orang yang membutuhkan, atau sekadar meringankan beban seseorang tanpa mengharapkan pujian. Berbagi tidak harus menunggu kaya, karena terkadang sebungkus nasi, sedikit waktu, atau uluran tangan yang tulus jauh lebih berarti daripada pemberian besar yang disertai kesombongan. Percayalah, berbagi dengan bijak tidak harus membuat kita kekurangan; justru mengajarkan kita untuk tidak diperbudak oleh harta. Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling mewah, paling terkenal, atau paling banyak memiliki sesuatu, melainkan siapa yang mampu menjalani hidup dengan tenang, tetap berikhtiar, pandai bersyukur, dan bermanfaat bagi orang lain. Hiduplah sesuai kemampuan, bermimpilah tanpa kehilangan kewarasan, dan nikmatilah rezeki tanpa harus membuktikan apa pun kepada siapa pun.

Jangan hidup dengan gengai, jangan bergaya hidup cuma ingin dipuji. Salam kopi pensiunan!