Kalau Saya Nanti Pensiun dan Tidak Punya Gaji Lagi, Gimana?

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap orang kerja pasti punya risiko, termasuk risiko keuangan. Saat masih bekerja dan semuanya lancar, bisa jadi uang tidak jadi masalah. Tapi di saat kantor sedang kesulitan bisnis dan harus resionalisasi, bisa jadi kita termasuk pekerja yang di-PHK. Dari sisi keuangan, siapapun bisa merasa cukup dan siapapun bisa merasa kurang. Itulah risiko orang bekerja yang perlu dikelola dengan baik.
Mungkin kita sering salah berpikir. Risiko itu tidak selalu datang tiba-tiba. Terkadang risiko itu memang bisa diprediksi dan bisa dikelola. Seperti risiko pensiun atau berhenti bekerja, seharusnya bisa diprediksi. Kan bila usia sudha mencapai usia pensiun, mau tidak mau berhenti bekerja. Masalahnya, sudahkah kita antisipasi secara keuangan bila nanti pensiun?
Dalam kisah Nabi Yusuf AS, ternyata risiko bisa diprediksi. Bahwa Mesir akan mengalami 7 tahun masa subur, lalu disusul 7 tahun masa sulit. Karena itu, selama masih di masa baik (bekerja dan punya gaji), janganlah lengah. Justru di saat kondisi baik, kita punya kesempatan untuk bersiap dan mempersiapkan bila risiko buruk terjadi.
Selagi bekerja dan punya gaji, jangan habiskan semua penghasilan untuk gaya hidup atau konsumtif. Tanpa mau menabung atau menyimpan untuk masa depan. Ketika gaji naik dan pangkat naik, jangan naikkan gaya hidup. Tapi simpan atau tabung untuk hari tua, untuk masa pensiun. Agar tetap bisa mempertahankan gaya hidup di hari tua seperti saat masih bekerja.
Risiko hari tua atau masa pensiun itu bukan menebak kapan masalah akan datang? Tapi bertanya, “Kalau saya sudah pensiun dan tidak punya gaji lagi, seberapa siap keuangan saya nanti?” Sudahkah saya punya dana pensiun untuk hari tua nanti?
Kebutuhan hari-hari sudah dipenuhi, biaya pendidikan anak sudah siap, biaya gaya hidup pun ada walau mungkin tidak besar, dana darurat ada walau hanya untuk 3 bulan ke depan. Tapi masalahnya, bagaimana dengan dana untuk masa pensiun? Sudah disiapkan belum saat masih bekerja sekalipun waktu pensiun masih lama? Faktanya, banyak pekerja baru sadar dan kaget “belum siap pensiun” justru saat mendekati usia pensiun. Alhasil, 9 dari 10 pekerja saat ini sama sekali tidak siap untuk pensiun, apalagi di-PHK. Maka wajar data BPS (2025) menyebut 8 dari 10 pensiunan/lansia di Indonesia sangat mengandalkan aspek finansial kepada anak atau anggota keluarga yang bekerja. Kalau anaknya mampu, kalautidak gimana? Apakah kita mau seperti itu? Puluhan tahun bekerja tapi sama sekali tidak bisa siapkan dana untuk pensiun. Mau tidak mau, selagi bekerja, kita memang harus menyiapkan masa pensiun kita sendiri. Karena hidup, terkadang berjalan tidak sesuai rencana bahkan selalu ada risikonya.
Pernah ada cerita seorang pensiunan. Saat masing bekerja sudah menabung dana pensiun. Dan ternyata hasilnya belum cukup untuk hari tua. Akhirnya menyesal, karena hanya menyetor iuran DPLK Rp300.000 per bulan. Tidak cukup, sebab akumulasi dana saat pensiun yang diterima hanya Rp.120 juta dan langsung habis dalam 1 tahun alias 12 bulan setelah pensiun. Jadi, berapa iuran yang kita mau setor untuk dana pensiun?
Ketahuilah, setiap orang kerja pasti ada risiko. Tidak semua gaji harus dihabiskan setiap bulan. Karenanya, mulailah untuk menyimpan atau menabung untuk hari tua melalui dana pensiun. Prinsipnya sederhana, jangan sampai tidak punya tabungan, tidak punya dana pensiun untuk hari tua kita sendiri. Jangan sampai posisi keuangan kita benar-benar kosong di hari tua, di saat tidak bekerja dan tidak punya gaji lagi. Pasti akan stres dan bingung mau ngapain di hari tua?
Pekerja yang baik, gaji yang bermanfaat itu bukan sekadar dapat memenuhi kebutuhan hidup saat ini. Tapi juga mampu memastikan kita tetap punya uang untuk membiayai hidup di hari tua saat tidak bekerja lagi. Tetap mampu mempertahankan standar hidup di masa pensiun.
Itulah manajemen risiko seorang pekerja terhadap masa pensiunnya sendiri. Sebuah momen yang memberi waktu, pilihan, dan ruang untuk mengambil keputusan memiliki dana pensiun. Untuk hari tua yang lebih tenang, lebih nyaman sambil menjalani hobi-hobi tertunda yang sulit dilakukan saat masih bekerja. Begitulah hasil obrolan bersama kawan-kawan praktisi DPLK kemarin sore di OJK. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DanaPensiun
