Konten dari Pengguna

Lentera Kebaikan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sebuah rahasia kehidupan yang sering kali luput dari perhatian kita: ketika kita menolong orang lain, sesungguhnya kita juga sedang menolong diri sendiri. Kebaikan yang kita berikan tidak pernah benar-benar hilang, melainkan menemukan jalannya untuk kembali, mungkin dalam bentuk yang berbeda, melalui orang yang berbeda, atau pada waktu yang tidak pernah kita duga. Sayangnya, banyak orang memahami kebenaran ini, tetapi tidak sungguh-sungguh mempercayainya. Mereka mengira bahwa berbuat baik hanya menguntungkan orang lain, padahal setiap kebaikan yang ditanam sesungguhnya sedang menumbuhkan sesuatu yang berharga di dalam diri kita sendiri.

Suatu malam, seorang pria melihat seorang tunanetra berjalan menyusuri jalan dengan tongkat di tangan kanannya dan sebuah lentera menyala di tangan kirinya. Pemandangan itu membuatnya penasaran. Ia pun mendekat dan bertanya, “Maaf, mengapa Anda membawa lentera? Bukankah Anda tidak bisa melihat?” Orang tunanetra itu berhenti sejenak, lalu menjawab dengan tenang, “Benar, saya tidak bisa melihat jalan di depan saya. Namun, lentera ini tetap memiliki manfaat.” Jawaban itu justru membuat pria tersebut semakin ingin tahu. Ia kembali bertanya, “Manfaat apa yang bisa Anda dapatkan dari lampu itu jika Anda sendiri tidak dapat melihat cahayanya?”

Dengan senyum sederhana, orang tunanetra itu menjawab, “Saya memang tidak bisa melihat cahaya lentera ini, tetapi orang lain bisa melihatnya. Dengan membawa lampu, saya membantu mereka mengenali keberadaan saya sehingga mereka tidak menabrak saya. Cahaya ini mungkin tidak banyak membantu mata saya, tetapi bisa membantu orang lain menjaga langkahnya.” Seketika, pria itu terdiam. Ia baru menyadari bahwa sesuatu yang tampak tidak berguna bagi seseorang ternyata dapat menjadi sangat berarti bagi orang lain. Lentera itu bukan sekadar penerangan, melainkan tanda kepedulian. Bahkan dalam keterbatasannya, orang tunanetra tersebut masih memikirkan keselamatan orang-orang yang berjalan di sekitarnya.

Bukankah kehidupan kita juga demikian? Kita tidak harus menjadi orang kaya untuk membantu sesama, tidak harus menjadi orang hebat untuk memberikan manfaat, dan tidak perlu menunggu memiliki segalanya untuk mulai berbagi. Senyuman yang tulus, tangan yang terulur, waktu untuk mendengarkan, atau perkataan yang menguatkan bisa menjadi lentera bagi seseorang yang sedang berjalan dalam kegelapan hidupnya. Kita mungkin tidak pernah mengetahui betapa besar arti kehadiran kita bagi orang lain. Namun, setiap kebaikan yang kita lakukan juga membentuk hati kita menjadi lebih lapang, pikiran lebih tenang, dan kehidupan lebih bermakna. Ketika kita menerangi jalan orang lain, tanpa sadar kita pun sedang belajar berjalan dengan lebih baik.

Pegiat literasi taman bacaan lentera pustaka

Maka, jangan pernah lelah berbuat baik, meskipun tidak selalu dihargai, tidak mendapat balasan, atau bahkan dilupakan oleh orang yang pernah kita tolong. Berbuat baik walau hanya sediakan tempat bmembaca buku anak-anak di taman bacaan. Berbuat baik kepada anak-anak yatim dan kaum jompo. Atrau berbuat baik pada orang-orang kampung yang sederhana. Asal baik maka kerjakanlah, di mana pun.

Ketahuilah, kebaikan bukan tentang seberapa besar yang kita berikan, melainkan seberapa tulus kita melakukannya. Percayalah, Tuhan dapat menghadirkan pertolongan melalui siapa saja, bahkan melalui orang-orang sederhana yang tidak pernah kita sangka. Sebab, tidak semua malaikat memiliki sayap, dan tidak semua pertolongan datang dari orang yang kita kenal. Teruslah menjadi pribadi yang membawa cahaya. Sebab, ketika kita membantu orang lain menemukan jalan, sesungguhnya kita sedang menjadikan dunia tempat yang lebih baik untuk kita tinggali bersama. Salam literasi!