Setengah dari Gaji Pekerja Indonesia Habis untuk Makanan

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ternyata, rata-rata masyarakat Indonesia mengalokasikan sebesar 49,80% dari total pengeluarannya khusus untuk kebutuhan makanan dan minuman, sedangkan 50,20% sisanya dialokasikan untuk kebutuhan non-makanan. Berarti, setengah pengeluaran orang Indonesia alokasinya untuk makanan. Atau setengah dari gaji pekerja berarti dibelanjakan untuk makanan. Boleh dong, kita disebut sebagai “kaum doyan makan”, alhamdulillah.
Data BPS (Maret 2026) menyebut komoditas pangan masih menyerap separuh dari keseluruhan anggaran belanja rumah tangga secara nasional. Di balik rata-rata nasional tersebut, struktur alokasi konsumsi menunjukkan perbedaan yang tajam antara kelompok ekonomi terbawah dan teratas. Kondisinya kira-kira begini:
1. Kelompok ekonomi bawah: menghabiskan porsi terbesar anggarannya 64,60% untuk makanan dan hanya 35,40% untuk non-makanan.
2. Kelompok ekonomi menengah: mengalokasikan 57,00% untuk makanan dan 43,00% untuk non-makanan,
3. Kelompok ekonomi atas: di mana pengeluaran justru didominasi oleh kebutuhan non-makanan 60,79%, sedangkan porsi untuk makanan berada di 39,21%.
Data alokasi pengeluaran ini mengonfirmasi bahwa semakin rendah tingkat ekonomi suatu rumah tangga, semakin besar porsi anggaran yang habis terserap hanya untuk pemenuhan kebutuhan pangan dasar atau makanan. Sebaliknya, kelompok masyarakat berpendapatan tinggi menikmati ruang finansial yang lebih luas untuk mengalokasikan porsi mayoritas anggarannya pada sektor non-makanan.
Sepertinya memang benar, tingkat pendapatan menentukan seberapa besar porsi anggaran yang harus dihabiskan untuk bertahan hidup (pangan) versus dialokasikan ke kebutuhan pengembangan diri dan gaya hidup (non-pangan). Bisa jadi, saat pendapatan seseorang naik, konsumsi makanannya tidak bertambah secara proporsional, sehingga sisa pendapatan yang lebih besar dapat dialokasikan ke kebutuhan non-makanan. Selain itu, pada akhirnya kebutuhan konsumsi makanan pun memiliki batas kejenuhan fisik.
Agak dilematis, pada akhirnya kelompok ekonomi bawah mayoritas pendapatannya habis hanya untuk memenuhi kebutuhan kalori dasar (seperti beras dan minyak), sehingga tidak menyisakan ruang finansial untuk kebutuhan lain. Sementara, kelompok ekonomi atas memiliki ruang anggaran yang longgar untuk kebutuhan berelastisitas tinggi seperti pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, transportasi, investasi, dan rekreasi.
Dari sini, kelompok berpendapatan rendah sangat rentan terhadap gejolak harga pangan pokok, yang memaksa mereka mengorbankan pengeluaran non-makanan demi tetap bisa makan sekaligus memperkuat angka laju inflasi. Membaca realitas konsumsi dan pengeluaran masyarakat, separuhnya habis untuk makanan. Selamat menikmati hidangan yang dibayar sendiri! #KisahPekerja #KopiPensiunan #DanaPensiun
