Menata Hati, Menyempurnakan Diri: Jalan Tasawuf Menurut Nashiruddin ath-Thusi

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syaviera EP Ibrahim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah kehidupan yang serba cepat, manusia sering kali sibuk mengejar keberhasilan hingga lupa memperhatikan keadaan batinnya. Kita berusaha meraih pendidikan, pekerjaan, dan pengakuan, tetapi terkadang mengabaikan ketenangan jiwa dan kualitas akhlak. Padahal, kehidupan yang baik tidak hanya ditentukan oleh pencapaian duniawi, tetapi juga oleh kemampuan seseorang untuk mengenali dan memperbaiki dirinya.
Persoalan tersebut berkaitan erat dengan tasawuf, yaitu upaya mendekatkan diri kepada Allah melalui pembinaan jiwa dan perbaikan akhlak. Salah satu tokoh yang membahas persoalan ini adalah Nashiruddin ath-Thusi, seorang filsuf, ilmuwan, dan pemikir Islam yang lahir di Thus, Persia, pada 1201 M. Pemikirannya menunjukkan bahwa perjalanan spiritual tidak harus bertentangan dengan akal, melainkan dapat berjalan beriringan dengannya.
Tasawuf sebagai Perjalanan Menuju Allah
Menurut pemikiran ath-Thusi sebagaimana dipaparkan dalam kajian Dr. Fachruddin Faiz, perjalanan spiritual berawal dari kesadaran manusia terhadap kekurangan dirinya. Kesadaran tersebut menumbuhkan keinginan untuk memperbaiki diri dan mencapai kesempurnaan spiritual. Perjalanan ini disebut suluk, yaitu proses mendekatkan diri kepada Allah melalui tahapan-tahapan tertentu.
Dalam kehidupan sehari-hari, suluk dapat dimulai dengan menyadari kebiasaan buruk yang masih kita miliki, seperti mudah marah, iri terhadap keberhasilan orang lain, atau berbuat baik demi mendapatkan pujian. Kesadaran tersebut kemudian diikuti dengan usaha nyata untuk memperbaikinya.
Dengan demikian, tasawuf bukan sekadar pembicaraan tentang pengalaman spiritual, melainkan juga proses pembentukan karakter. Seseorang yang menempuh perjalanan spiritual seharusnya semakin mampu mengendalikan diri, bersikap jujur, dan memperlakukan orang lain dengan baik.
Melatih Diri dan Membersihkan Hati
Dalam perjalanan suluk, terdapat sejumlah tahapan penting, di antaranya tobat, zuhud, latihan pengendalian diri, introspeksi, kesabaran, dan rasa syukur.
Tobat mengajarkan manusia untuk menyadari kesalahan dan berusaha memperbaikinya. Zuhud mengajarkan agar seseorang tidak diperbudak oleh kecintaan terhadap dunia. Sementara itu, muhasabah berarti mengevaluasi diri, sedangkan muraqabah mengingatkan manusia untuk berhati-hati dalam bertindak karena menyadari pengawasan Allah.
Contohnya, seorang mahasiswa yang memperoleh nilai kurang memuaskan tidak seharusnya hanya menyalahkan keadaan. Ia dapat melakukan muhasabah dengan mengevaluasi cara belajarnya, mengakui kekurangan, dan memperbaiki usahanya. Begitu pula ketika melihat keberhasilan orang lain, ia dapat belajar menghargainya tanpa harus merasa iri.
Proses tersebut menunjukkan bahwa perjalanan spiritual membutuhkan latihan yang berkelanjutan. Manusia tidak cukup hanya mengetahui mana yang baik dan buruk, tetapi juga perlu membiasakan diri untuk memilih tindakan yang benar.
Dari Kerinduan Menuju Ketenangan
Ath-Thusi juga menjelaskan perjalanan spiritual melalui beberapa tahapan, seperti iradah (keinginan), syauq (kerinduan), mahabbah (cinta), dan ma'rifat (pengenalan mendalam kepada Allah). Tahapan-tahapan ini menggambarkan perkembangan hubungan spiritual manusia dengan Tuhannya.
Ketika keinginan untuk mendekat kepada Allah semakin kuat, tumbuhlah kerinduan yang kemudian berkembang menjadi cinta. Perjalanan tersebut diharapkan mengantarkan manusia pada pengenalan yang lebih mendalam kepada Allah dan ketenangan batin.
Pada tahap-tahap lanjut, seseorang juga belajar bertawakal, yaitu menyerahkan hasil usahanya kepada Allah setelah berikhtiar, serta menerima ketetapan-Nya dengan sikap rida. Hal ini bukan berarti manusia berhenti berusaha, melainkan menyadari bahwa tidak semua hal berada dalam kendalinya.
Pemikiran ath-Thusi mengingatkan kita bahwa ketenangan tidak diperoleh secara instan. Ketenangan tumbuh melalui proses mengenali diri, memperbaiki akhlak, mengendalikan keinginan, dan memperkuat hubungan dengan Allah.
Pada akhirnya, tasawuf mengajarkan bahwa perjalanan terpenting manusia bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil diraih, tetapi juga tentang bagaimana dirinya berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Sebab, mendekatkan diri kepada Allah bukan sekadar tujuan spiritual, melainkan perjalanan panjang untuk menata hati, menyempurnakan akhlak, dan menemukan makna kehidupan.
