Di Balik Praktisnya Fast Food: Mengapa Mahasiswa FAH UIN Rentan Lari Kemakanan Instan?
Tulisan dari Syeqizar Ajeung W tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi kebanyakan mahasiswa, hari-hari di kampus sering kali berjalan dengan tempo yang sangat cepat dikejar deadline tugas, jadwal perkuliahan yang padat dari pagi hingga sore, hingga berbagai aktivitas organisasi. Di tengah ritme harian yang melelahkan ini, aroma gurih makanan cepat saji (fast food) serta makanan instan di sekitar kantin Gedung Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung seolah menjadi penawar dahaga yang sulit ditolak. Fenomena ini sejalan dengan Rajmohan dkk.(2024) yang menyebutkan bahwa gaya hidup modern yang serba cepat (fast paced nature of modern lifestyles) pada generasi muda menjadi pendorong utama melambungnya permintaan akan pilihan makanan yang serba praktis.
Guna melihat fenomena ini secara nyata, sebuah survei berbasis kuesioner digital melalui Google Form telah disebarkan dan 11 responden mahasiswa/i FAH UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Hasilnya sangat mengejutkan: sebanyak 90,9% responden mengaku mengkonsumsi fast food atau makanan instan setidaknya satu kali hingga setiap hari dalam seminggu. Alasan utamanya mendasar pada factor kepraktisan. Sebanyak 54,5% mahasiswa/i mengungkapkan bahwa rasa yang lezat, praktis, dan tidak ribet menjadi pertimbangan utama mereka di tengah padatnya jam kuliah. Seperti yang dituturkan oleh salah satu mahasiswa FAH, “Tantangan terbesar adalah mengatur waktu di tengah jadwal kuliah yang padat. Kadang karena terburu-buru pindah kelas atau banyak tugas, makanan cepat saji jadi pilihan yang paling praktis dan mudah ditemukan.”
Namun, pemicu konsumsi fast food ternyata tidak berhenti pada keterbatasan waktu semata. Faktor psikologis seperti tingkat stress akademik memegang peran yang sangat signifikan. Data survei tersebut menunjukkan bahwa 72,7% mahasiswa/i meraskan dorongan membeli fast food atau snack meningkat tajam ketika sedang stress akibat beban tugas dan ujian. Tak hanya itu, 54,5% diantaranya menganggap bahwa fast food berfungsi sebagai comfort food atau pelarian untuk memperbaiki mood. Mayoritas responden secara seragam menjawab bahwa kondisi paling rentan bagi mereka untuk memburu makanan cepat saji adalah “saat merasa stress banyak tugas dan kelas seharian” hal ini memperkuat riset dari Muzan dkk.(2026) dalan Jurnal Gizi Pangan yang menemukan adanya hubungan erat antara pemilihan jenis makanan (food choice) dengan tingkat stress emosional serta kondisi mental mahasiswa/i.
Di samping tekanan akademis, faktor lingkungan di sekitar kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung turut memperparah ketergantungan ini. Sebanyak 90,9% responden sepakat bahwa letak kantin , makanan yang sangat dekat dengan Gedung FAH menjadi pemicu eksternal paling dominan. Keberadaan kantin yang menempel dengan lokasi perkuliahan membuat mahasiswa tak memiliki banyak opsi sehat saat jeda kelas berlangsung singkat. “Gedung kuliah FAH sangan dekat dengan kantin, dan pada saat jeda kelas yang tidak lama, makanan yang dijual pun lebih banyak makanan cepat saji”, ungkap salah seorang responden.
Menariknya, fenomena ini melahirkan apa yang disebut sebagai awareness behavior gap. Sebanyak 72,7% mahasiswa FAH menyatakan bahwa mereka sebenarnya cukup sadar akan dampak buruk kesehatan jangka panjang akibat mengkonsumsi makanan cepat saji secara berlebihan. Kendati demikian, mereka mengaku sulit keluar dari lingkaran tersebut karena tuntutan gaya hidup perkuliahan yang serba instan. Pada akhirnya, fast food bukan sekadar pilihan kuliner, melainkan bentuk adaptasi realitas mahasiswa di tengah himpitan tugas, stress akademik, dan keterbatasan waktu. Mengimbangi pola makan sehat di tengah kesibukan memang tantangan berat, namun kesadaran kecil untuk menyelingi bekal dari rumah atau memilih asupan bernutrisi bisa menjadi langkah awal agar kesehatan tubuh tidak tergadaikan demi mengejar kepraktisan.

