Konten dari Pengguna

Cancel Culture: Antara Kontrol Sosial dan Perundungan Siber

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syifa haya Arafah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cuma dalam sekejap, layar ponsel yang seharusnya bikin kita makin terhubung malah berubah jadi panggung pengadilan massa. Hujatan mengalir deras, reputasi yang dibangun bertahun-tahun langsung hancur, bahkan tidak jarang ada yang sampai kehilangan pekerjaan sebelum sempat menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Kondisi ini bikin saya kepikiran: apakah aksi cancel ini masih murni bentuk kontrol sosial yang sehat, atau malah sudah melenceng jadi ajang perundungan siber yang menutup rapat pintu maaf?

Saya paham, dari sejarahnya cancel culture ini lahir sebagai alat bagi masyarakat untuk menuntut pertanggungjawaban dari para figur publik atau orang berkuasa yang kebal hukum. Saat ada pelanggaran etika berat atau tindakan diskriminatif, tekanan publik di media sosial terbukti ampuh memaksa mereka buat ngaku salah dan minta maaf secara terbuka. Menurut saya, dalam batas tertentu, kontrol publik seperti ini memang dibutuhkan biar norma sosial tetap terjaga.

Namun, kalau melihat praktiknya belakangan ini, saya merasa fungsinya sudah makin melenceng. Batas antara menuntut keadilan yang wajar dengan aksi cyberbullying makin samar. Kemarahan netizen sering kali berlebihan dan tak sebanding dengan kesalahan yang dilakukan. Tindakan meluruskan yang harusnya mendidik malah berubah jadi aksi menghancurkan hidup orang. Yang makin bikin saya prihatin, fenomena ini sering memvonis orang atas postingan atau pendapat mereka dari bertahun-tahun lalu pas orangnya mungkin masih remaja atau belum matang secara berpikir. Menurut saya, menghukum orang hari ini atas pikirannya di masa lalu itu tidak masuk akal. Cara berpikir begini seolah menganggap manusia itu makhluk kaku yang tidak bisa belajar, berubah, atau jadi lebih baik seiring berjalannya waktu.

Maraknya fenomena ini, menurut pengamatan saya, tidak lepas dari cara kerja aplikasi media sosial itu sendiri. Sistem algoritma sekarang cenderung mengangkat konten yang memicu emosi kuat, terutama amarah dan keributan. Konten yang penuh kontroversi bakal dapat banyak interaksi, jadi secara otomatis sistem akan menyebarkan berita pengucilan itu ke makin banyak orang. Di luar urusan sistem, saya melihat ada dorongan psikologis dalam diri masyarakat. Menurut saya, banyak warganet yang ikut-ikutan menghujat bukan karena benarbenar paham masalahnya secara jernih, tapi cuma pengen merasa diterima oleh kelompok mayoritas atau pengen kelihatan paling benar.

Dampaknya nyata dan terukur. Riset Center for Digital Society (2021) terhadap 3.077 siswa SMP dan SMA menemukan bahwa 45,35% pernah menjadi korban cyberbullying. Data Unicef (2022) bahkan lebih tinggi: 45% dari 2.777 anak di Indonesia mengaku pernah jadi korban. Laporan SAFEnet pada triwulan pertama 2024 mencatat lonjakan kasus perundungan siber lebih dari 100% dibanding tahun sebelumnya, mencapai 480 kasus. Ini bukan angka kecil.

Dampak psikologisnya pun serius. Menurut berbagai penelitian, korban cyberbullying dan cancel culture sering mengalami depresi (74% korban mengalami depresi ringan, 18,6% depresi sedang), kecemasan berkepanjangan, gangguan tidur, penurunan harga diri, hingga dalam kasus ekstrem muncul keinginan untuk mengakhiri hidup. Sebuah studi kasus pada aktor Abidzar Al Ghifari (2025) menunjukkan bagaimana cancel culture bisa menghasilkan konsekuensi ekonomi nyata: jumlah layar bioskop untuk filmnya turun dari 1.270 menjadi 551, dan rating IMDb anjlok ke 1/10. Konten terkait kasusnya mencapai 57,5 juta views, 523.274 likes, dan 95.028 retweets. Menurut saya, ini bukti bahwa dampaknya tidak hanya psikologis, tapi juga material.

Iklim digital yang serba menghakimi ini, menurut saya, terasa makin buruk buat ruang diskusi kita. Pertama, bikin orang takut berpendapat (chilling effect). Masyarakat dan anak muda jadi takut menyampaikan pikiran jujur atau berdiskusi secara terbuka. Ada rasa cemas berlebih kalau satu kesalahan kecil atau beda pendapat bisa bikin karir dan kehidupan sosial mereka hancur seketika. Riset menunjukkan 93,1% individu terlibat dalam cyberbullying di forum online, dengan 17% sebagai korban. Angka ini menunjukkan betapa luasnya fenomena ini.

Kedua, hilangnya ruang diskusi yang sehat. Pendekatan cancel culture membuat orang berpikir secara kaku melihat masalah cuma hitam-putih, atau benar-salah secara mutlak. Cara pandang begini menutup ruang diskusi yang sehat, padahal menurut saya kita harusnya bisa saling mengingatkan dan memberi tahu tanpa perlu menghancurkan masa depan orang lain. Biar media sosial kita bisa jadi tempat yang lebih manusiawi, saya merasa kita perlu mengubah cara pandang saat melihat kesalahan orang lain di internet. Kita perlu membangun kembali etika berinteraksi di dunia digital yang berlandaskan rasa empati. Pertama, bisa membedakan kejahatan dengan kesalahan berpendapat. Kita harus lebih jeli membedakan mana tindakan kriminal berbahaya yang memang butuh proses hukum, dan mana yang cuma kekhilafan berpendapat yang cukup diluruskan dan dimaafkan.

Kedua, memberi kesempatan untuk berubah. Saya percaya setiap orang pasti pernah bikin salah. Kalau seseorang sudah tulus mengakui kesalahannya dan mau berubah, menurut saya dia sangat layak dapat kesempatan kedua. Ketulusan buat memaafkan itu tanda kalau masyarakat kita sudah dewasa. Ketiga, pikir-pikir sebelum mengetik (empathetic scrolling). Sebelum jempol kita mengetik komentar pedas atau ikut menyebarkan narasi kebencian, coba berhenti sejenak dan tanya ke diri sendiri: "Apakah hidup kita sendiri sudah benar-benar bersih dari kesalahan?"

Pada akhirnya, teknologi dan rekam jejak digital mungkin memang bakal mencatat semua tindakan kita secara permanen. Tapi menurut saya, rasa empati dan kemanusiaan kita sebagai sesama pengguna internet tidak boleh ikut mati gara-gara jejak masa lalu. Tingkat kedewasaan warganet itu tidak diukur dari seberapa cepat kita bisa meruntuhkan hidup orang lain, tapi dari seberapa bijak kita menegur kesalahan sambil tetap memberikan ruang buat orang tersebut belajar dan tumbuh jadi pribadi yang lebih baik.

foto dibuat pribadi oleh syifa haya arafah