Forgotten Island: Mana yang Lebih Berat, Berpisah atau Melupakan

Student at Pamulang University. I write character and theme analyses of novels, films, and series, with a focus on why a story feels close to its readers.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syifa Nurafiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Forgotten Island tampak seperti film animasi petualangan penuh makhluk ajaib, tetapi pertanyaan di intinya sangat dekat dengan kehidupan banyak orang. Bagaimana rasanya ketika dua sahabat harus berpisah, dan apa yang hilang bila kenangan bersama ikut menghilang? Film animasi garapan DreamWorks yang terinspirasi mitologi Filipina ini sudah tayang di bioskop Indonesia sejak 2 Oktober 2026.
Ceritanya mengikuti Jo dan Raissa, dua sahabat yang merayakan malam terakhir mereka bersama sebelum berpisah. Mereka menemukan portal misterius yang membawa mereka ke pulau fantasi bernama Nakali, tempat makhluk legenda dari cerita keluarga mereka hidup. Tulisan ini membahas premis dan tema berdasarkan sinopsis resmi serta keterangan tim film.
Forgotten Island dan Persahabatan di Ambang Perpisahan
Kelulusan sering menjadi titik ketika hidup mulai bercabang. Teman yang selama ini selalu ada harus menempuh jalan berbeda, dan itu tidak selalu mudah diterima. Forgotten Island menempatkan kecemasan tersebut di awal cerita.
Menurut sinopsis, Jo dan Raissa tengah merayakan malam terakhir mereka bersama ketika portal itu muncul. Dari situ, petualangan mereka menjadi ujian bagi hubungan yang sedang berada di persimpangan. Film ini tampak membahas bahwa perpisahan bukan hanya soal jarak, tetapi juga soal bagaimana ingatan dijaga.
Harga untuk Pulang dalam Forgotten Island
Di Nakali, kedua sahabat menemukan bahwa jalan pulang memiliki harga, yaitu ingatan akan seluruh persahabatan mereka. Premis ini membuat pilihan terasa dilematis. Pulang berarti selamat, tetapi juga berarti kehilangan alasan mengapa mereka ingin pulang bersama.
Mereka lalu berpacu mencari cara keluar dari pulau sebelum saling melupakan. Dilema semacam ini mengubah petualangan ringan menjadi cerita tentang nilai sebuah kenangan. Pertanyaannya sederhana tetapi kuat: seberapa jauh seseorang rela menukar ingatan demi kembali ke kehidupan normal?
Mitologi Filipina dalam Forgotten Island
Pulau Nakali dihuni makhluk mitologi yang dikenal kedua tokoh dari cerita keluarga Filipina mereka. Beberapa menjadi teman, sebagian menjadi lawan, termasuk Manananggal yang disebut sebagai makhluk paling ditakuti di pulau itu. Lea Salonga menyuarakan Manananggal, sementara Dave Franco menyuarakan Raww, anjing serigala yang baik hati tetapi kurang beruntung.
Pilihan budaya ini memberi film warna yang khas. Bagian animasi 2D gambar tangan dalam film ini dikerjakan oleh Snipple Animation Studios di Filipina. Keterlibatan studio itu mendukung upaya merepresentasikan budaya Filipina bagi penonton global.
Pesan Forgotten Island bagi Penonton Muda dan Keluarga
Film berdurasi sekitar 109 menit ini disutradarai Joel Crawford dan Januel Mercado, dua nama di balik Puss in Boots: The Last Wish. Dengan pengalaman itu, penonton dapat berharap pada cerita yang memadukan humor dan emosi. Pengisi suaranya pun beragam, mulai dari Lea Salonga hingga Manny Jacinto dan Dolly de Leon.
Bagi penonton muda yang sedang menghadapi perubahan, kisah ini bisa menjadi pengingat bahwa persahabatan tidak harus berakhir karena jarak. Bagi keluarga, film ini membuka obrolan tentang nilai kenangan dan cerita yang diwariskan. Keduanya bertemu pada satu pertanyaan sederhana tentang apa yang layak dijaga.
Forgotten Island pada dasarnya bukan hanya petualangan di pulau penuh makhluk ajaib. Film ini memakai portal dan mitologi untuk membicarakan sesuatu yang nyata, yaitu takutnya kehilangan sahabat ketika hidup mulai bercabang. Harga untuk pulang menjadi cara bercerita tentang betapa berharganya ingatan bersama.
Barangkali pelajaran paling sederhana adalah bahwa persahabatan bertahan bukan karena selalu bersama, melainkan karena saling mengingat. Selama kenangan dijaga, perpisahan tidak harus berarti kehilangan.
