Ghosthing: Mengapa Arwah Influencer Menolak Pergi

Student at Pamulang University. I write character and theme analyses of novels, films, and series, with a focus on why a story feels close to its readers.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syifa Nurafiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ghosthing tampak seperti film horor komedi tentang hantu cerewet yang meminta tolong. Namun di balik tawanya, film ini menyentuh persoalan yang akrab di era media sosial, yaitu jarak antara citra yang ditampilkan dan kebenaran yang sesungguhnya. Film garapan Arie Azis ini sudah tayang di bioskop sejak 15 Oktober 2026.
Ceritanya mengikuti Alfian, yang diperankan Baskara Mahendra, seorang perias jenazah yang mampu melihat arwah. Hidupnya berubah ketika bertemu Maya, arwah influencer yang diperankan Yasamin Jasem. Tulisan ini membahas premis dan tema berdasarkan sinopsis serta keterangan tim film.
Ghosthing dan Pekerjaan yang Dekat dengan Kematian.
Perias jenazah adalah profesi yang bersinggungan langsung dengan kematian. Pekerjaannya identik dengan kesunyian dan rasa hormat, sehingga cocok menjadi pintu masuk ke dunia arwah. Ghosthing memanfaatkan profesi itu sebagai pijakan cerita.
Dengan kemampuan melihat arwah, Alfian berada di posisi unik, yaitu orang yang merawat tubuh sekaligus mampu berbicara dengan arwahnya. Posisi ini memberi ceritanya dasar emosi yang kuat. Kematian tidak digambarkan hanya sebagai akhir, tetapi sebagai urusan yang belum selesai.
Mengapa Arwah Influencer dalam Ghosthing Menolak Pergi.
Maya digambarkan sebagai arwah yang menolak pergi sebelum mengetahui penyebab kematiannya. Ia yakin kematiannya bukan karena sakit seperti yang diketahui orang lain. Keyakinan itu membuat Alfian terlibat dalam upaya mengungkap kebenarannya.
Salah satu ulasan menggambarkan Maya sebagai sosok centil, cerewet, dan sarkastik yang belum menerima kematiannya. Karakter seperti ini membawa humor sekaligus rasa iba. Penonton diajak menertawakan tingkahnya, tetapi juga bertanya mengapa ia begitu ingin tahu.
Citra dan Kebenaran dalam Ghosthing.
Media sosial membuat seseorang bisa dikenal luas tanpa benar-benar dikenal. Cerita publik tentang hidup dan kematian pun kerap disederhanakan menjadi satu versi yang dipercaya banyak orang. Dalam Ghosthing, versi itulah yang dipertanyakan oleh Maya.
Menarik bahwa pertanyaan ini diajukan oleh arwah, sosok yang tidak lagi bisa mengendalikan citranya. Ia hanya bisa meminta orang lain mencari kebenaran. Film ini tampak mengingatkan bahwa cerita yang beredar tentang seseorang belum tentu cerita yang lengkap.
Ghosthing dan Pesan di Balik Perpaduan Horor Komedi.
Genre horor komedi memungkinkan film membahas hal serius tanpa terasa berat. Lembaga Sensor Film mencatat Ghosthing sebagai film komedi dan horor arahan Arie Azis. Perpaduan itu membuat topik kematian dan misteri lebih mudah dinikmati penonton.
Salah satu ulasan menyebut film ini dapat membuat penonton merasa takut sekaligus tertawa hampir bersamaan. Meski begitu, pesan tentang kebenaran tetap hadir di balik kelucuannya. Humor menjadi pembungkus bagi pertanyaan yang sebenarnya cukup dalam.
Ghosthing pada dasarnya bukan hanya kisah hantu yang meminta tolong. Lewat Alfian dan Maya, film ini memperlihatkan bahwa kebenaran sering tertutup oleh cerita yang lebih mudah diterima. Perias jenazah dan arwah influencer menjadi pasangan tak terduga untuk membukanya.
Barangkali pesan paling sederhana dari premisnya adalah bahwa setiap orang berhak diingat dengan benar, bukan hanya dengan versi yang paling nyaman. Mencari kebenaran bagi mereka yang telah pergi adalah bentuk penghormatan terakhir.
