Konten dari Pengguna

Laut Bercerita: Mengapa Asmara Jati Justru Menjadi Suara Terkuat Novel Ini

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syifa Nurafiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Image by Pexels from Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Image by Pexels from Pixabay

Laut Bercerita kembali ramai dibicarakan menjelang penayangan filmnya di bioskop pada 29 Oktober 2026. Adaptasi novel karya Leila S. Chudori ini lebih dulu diputar perdana di Busan International Film Festival dan dijadwalkan menutup Jakarta Film Week 2026. Ceritanya menyentuh persoalan hak asasi manusia yang hingga kini belum benar-benar selesai, yaitu penculikan aktivis pada 1998.

Perbincangan biasanya berhenti pada Biru Laut, mahasiswa yang menjadi korban. Padahal, novel yang terbit pada 2017 ini dituturkan lewat dua suara, yakni Laut dan adiknya, Asmara Jati. Suara kedua itulah yang membuka sisi cerita yang jarang disorot, yaitu hidup orang-orang yang menunggu.

Laut Bercerita dan Dua Suara yang Saling Melengkapi.

Bagian pertama novel dituturkan oleh Laut. Pembaca diajak masuk ke lingkaran mahasiswa pergerakan dan kelompok studi Winatra, hingga malam ketika Laut dan kawan-kawannya diserbu orang tak dikenal di sebuah rumah susun di Jakarta pada Maret 1998. Kisah ini berpijak pada peristiwa nyata, dan sejumlah kajian menyebut tokoh Laut terinspirasi dari pengalaman aktivis Nezar Patria.

Bagian kedua berpindah ke Asmara. Nadanya berubah dari gejolak ideologi menjadi suasana duka yang pelan dan panjang. Perpindahan itu membuat novel tidak berhenti pada kisah perjuangan, tetapi melanjutkannya ke akibat yang ditanggung keluarga.

Mengapa Asmara Jati Penting dalam Laut Bercerita.

Asmara bukan sekadar saksi yang menunggu di rumah. Ia ikut menelusuri jejak bersama tim komisi untuk orang hilang, mendatangi satu tempat ke tempat lain, dan terus mencari keterangan di tengah situasi yang tidak aman. Lewat sudut pandangnya, pembaca bertemu duka seorang ibu, kekasih sang kakak, hingga kawan seperjuangan Laut.

Yang membuat posisi Asmara kuat adalah ketidakpastian yang ia hadapi. Keluarga korban penghilangan paksa tidak hanya kehilangan, tetapi juga tidak pernah mendapat kabar resmi apakah orang yang mereka cintai masih hidup atau sudah tiada. Duka yang tidak diberi kesimpulan seperti ini sering luput dibahas, padahal inilah luka yang paling lama tinggal.

Laut Bercerita, Aksi Kamisan, dan Ingatan yang Dirawat.

Menurut sebuah kajian akademik, novel ini juga memuat penggambaran Aksi Kamisan tahun 2007. Aksi tersebut nyata dan masih berjalan, digelar tiap pekan di depan Istana Merdeka sejak 18 Januari 2007. Pada 5 Februari 2026, aksi itu sudah mencapai pertemuan ke-896.

Peserta Kamisan mengenakan pakaian hitam dan membawa payung hitam sebagai tanda duka sekaligus penolakan terhadap impunitas. Di titik ini, fiksi dan kenyataan bertemu. Asmara dalam novel dan para keluarga korban di Kamisan sama-sama menunjukkan bahwa menunggu bisa menjadi tindakan, bukan kepasrahan.

Laut Bercerita di Layar Lebar dan Tantangan bagi Penontonnya.

Film Laut Bercerita disutradarai Yosep Anggi Noen, dengan skenario yang ditulis bersama Leila S. Chudori. Reza Rahadian memerankan Biru Laut, Yunita Siregar memerankan Asmara Jati, sementara Christine Hakim dan Arswendy Bening Swara berperan sebagai orang tua Laut. Film berdurasi 135 menit ini berklasifikasi D17, sehingga ditujukan bagi penonton berusia 17 tahun ke atas.

Reza Rahadian berharap film ini memantik keberanian dan daya kritis anak muda, sedangkan Leila berharap film ini menjadi jendela untuk melihat sejarah Indonesia. Harapan itu akan terasa penuh jika penonton tidak hanya mengikuti perjalanan Laut, tetapi juga memberi ruang bagi Asmara. Sebab, tanpa suara yang menunggu, cerita tentang mereka yang hilang menjadi tidak utuh.

Kesimpulan: Laut Bercerita dan Suara yang Tidak Boleh Padam.

Laut Bercerita memang dikenal lewat Biru Laut, tetapi kekuatan terbesarnya justru terletak pada keputusan menyerahkan separuh ceritanya kepada Asmara Jati. Lewat tokoh itu, penghilangan paksa 1998 tidak dibaca sebagai peristiwa yang sudah selesai, melainkan duka yang terus dibawa keluarga hingga kini.

Menjelang filmnya tayang, penonton punya kesempatan mendengar kedua suara itu sekaligus. Menyimak kisah mereka yang hilang berarti juga bersedia mendengarkan mereka yang menunggu, dan mungkin itulah cara paling sederhana agar ingatan tidak ikut hilang.