Konten dari Pengguna

Lingsir Wengi: Saat Tembang Jawa Dijadikan Bahan Konten Horor

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syifa Nurafiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Image by Arek Socha from Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Image by Arek Socha from Pixabay

Lingsir Wengi: Motel Malioboro tampak seperti film horor tentang konten yang berujung kutukan. Namun di balik teror itu, film ini menyentuh dua isu yang sedang ramai, yaitu ambisi viral di media sosial dan sikap terhadap warisan budaya. Film garapan Adhe Dharmastriya ini mulai tayang di bioskop pada 22 Oktober 2026.

Ceritanya mengikuti sekelompok Gen Z pembuat konten yang menginap di Motel Malioboro. Tanpa sengaja, mereka memutar rekaman kidung Lingsir Wengi yang kemudian membangkitkan kutukan dan teror. Tulisan ini membahas premis dan tema berdasarkan sinopsis, bukan keseluruhan cerita.

Lingsir Wengi dan Ambisi Viral Generasi Muda.

Menurut keterangan film, ceritanya mengangkat fenomena Gen Z yang mengejar popularitas instan lewat konten horor. Menginap di tempat angker lalu merekamnya sudah menjadi pola konten yang akrab. Premis ini memanfaatkan kebiasaan tersebut sebagai awal cerita.

Masalah muncul ketika konten tidak lagi sekadar tontonan, tetapi menyentuh hal yang tidak dipahami. Rekaman yang diputar tanpa sengaja menjadi pemicu teror. Film ini tampak mengajukan pertanyaan tentang batas antara berani dan sembrono.

Mengapa Lingsir Wengi Lebih dari Sekadar Lagu Horor.

Lingsir Wengi adalah tembang macapat dari Jawa yang dikenal luas di kalangan campursari. Sejumlah kajian menyebut lagu ini lebih populer sebagai lagu horor setelah dipakai dalam film Kuntilanak pada 2006. Akibatnya, banyak orang mengaitkannya dengan hal menyeramkan.

Sebagian orang juga menyamakannya dengan Kidung Rumeksa ing Wengi, doa yang dikaitkan dengan Sunan Kalijaga. Asal-usul versi yang beredar pun belum sepenuhnya jelas menurut kajian akademik. Karena itu, penggunaan tembang ini dalam film horor menyentuh persoalan makna yang bergeser dari aslinya.

Lingsir Wengi, Konten, dan Penghormatan pada Budaya.

Ketika tembang tradisional diputar sebagai bahan konten horor, ada persoalan yang layak dipikirkan. Karya budaya lahir dengan makna dan konteksnya sendiri, sementara konten sering mengejar kesan yang paling mengejutkan. Jarak antara keduanya dapat membuat makna asli semakin kabur.

Dalam premis film ini, rekaman tembang menjadi pemicu teror. Pesan yang bisa ditangkap adalah bahwa warisan budaya perlu diperlakukan dengan hormat dan pemahaman. Film ini tampak mengingatkan bahwa tidak semua yang tampak menarik layak dijadikan bahan viral.

Lingsir Wengi dan Daya Tarik Latar Yogyakarta.

Motel Malioboro menjadi latar utama cerita. Nama Malioboro membawa asosiasi kuat dengan Yogyakarta, kota yang lekat dengan budaya Jawa. Pemilihan latar ini memberi alasan yang masuk akal bagi kehadiran tembang Jawa dalam cerita.

Film ini disutradarai Adhe Dharmastriya dengan naskah Evelyn Afnilia dan diproduksi Lab Pictures. Sebagai film horor yang mengangkat generasi muda, ceritanya berpotensi dekat dengan penonton seusia para tokohnya. Kedekatan itu dapat membuat pesan tentang konten dan budaya lebih mudah tersampaikan.

Lingsir Wengi: Motel Malioboro pada dasarnya bukan hanya film tentang rekaman yang membangkitkan kutukan. Film ini memperlihatkan bagaimana ambisi viral dapat membuat orang lupa pada makna dan konteks sebuah warisan budaya. Teror yang muncul menjadi cara untuk menyampaikan peringatan tentang sikap sembrono.

Barangkali pesan paling sederhana dari premisnya adalah bahwa popularitas tidak sebanding dengan harga yang harus dibayar. Memahami sebelum memakai, menghormati sebelum membagikan, adalah bekal yang layak dibawa setiap pembuat konten.