Pirunduk: Saat Keputusasaan Mendorong Orang Mencari Jalan Terlarang

Student at Pamulang University. I write character and theme analyses of novels, films, and series, with a focus on why a story feels close to its readers.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syifa Nurafiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pirunduk mengangkat salah satu urban legend masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan ke layar lebar. Namun di balik teror ilmu hitamnya, film ini membicarakan hal yang lebih dekat, yaitu apa yang bisa terjadi ketika seseorang merasa tidak punya jalan lain. Film garapan Billy Christian ini mulai tayang serentak di bioskop pada 22 Oktober 2026.
Ceritanya berlatar di Kalimantan Selatan pada era 1980-an. Siti, yang diperankan Aulia Sarah, menikah dengan juragan Badarudin yang diperankan Bucek Depp demi membantu melunasi utang ayahnya. Tulisan ini membahas premis dan tema berdasarkan sinopsis serta keterangan tim film.
Pirunduk dan Utang yang Menentukan Pilihan Hidup.
Siti menikah bukan karena pilihan bebas, melainkan untuk membantu melunasi utang ayahnya. Keputusan itu menempatkannya pada posisi yang tidak seimbang dalam rumah tangga. Dari titik tersebut, cerita bergerak menuju keputusan yang lebih berbahaya.
Menurut sinopsis, dalam kondisi terdesak Siti memilih mempelajari ilmu hitam Pirunduk untuk menundukkan suaminya. Pilihan ini memperlihatkan bahwa teror dalam film tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari tekanan ekonomi dan perasaan tidak berdaya.
Mengapa Pirunduk Mengangkat Legenda Banjar
Pirunduk dikenal sebagai praktik mistis yang dipercaya mampu menundukkan orang lain. Cerita ini awalnya diwariskan secara lisan di tengah masyarakat Banjar. Konsultan film, pegiat budaya Faisal Embron, menyebut adaptasi ke layar lebar sebagai upaya menjaga cerita rakyat di tengah modernisasi.
Filmnya berlatar di tepian Sungai Barito pada 1980-an, masa ketika legenda ini dipercaya berakar. Sekitar 60 persen dialognya memakai bahasa Banjar, dan lebih dari 70 persen kru berasal dari daerah setempat. Angka itu menunjukkan upaya serius menjaga keaslian budaya.
Pirunduk dan Ketimpangan dalam Rumah Tangga
Hubungan Siti dan Badarudin memperlihatkan ketimpangan yang sering muncul ketika utang dan status sosial ikut menentukan pernikahan. Dalam kisah ini, ilmu hitam menjadi jalan pintas bagi pihak yang merasa paling lemah. Namun jalan pintas semacam itu hampir selalu menuntut harga.
Cerita rakyat sering menjadi cara masyarakat membicarakan hal yang sulit diucapkan terang-terangan, seperti kekuasaan dalam rumah tangga dan rasa putus asa. Pirunduk tampak mengikuti pola itu, dengan mitos sebagai cermin bagi persoalan sosial. Teror yang muncul tampak lahir dari pilihan, bukan sekadar kutukan.
Pirunduk dan Harapan bagi Cerita Daerah
Sutradara Billy Christian berharap film ini dapat membuka jalan bagi sineas lain untuk menggali cerita rakyat dan mitos dari berbagai daerah di Indonesia. Lewat film ini, pembuatnya mencoba memperkenalkan kekayaan kisah mistis dari daerah lain, khususnya Kalimantan Selatan. Harapan itu penting karena kekayaan cerita daerah masih sangat luas untuk digali.
Gala premiere film ini digelar di CGV Grand Indonesia, Jakarta, pada 15 Oktober 2026, dan Yoriko Angeline ikut berperan sebagai Ratih. Produksinya dikerjakan oleh Pichouse Films, Pentana Production Studio, dan Bimasakti Pictures Production. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa cerita daerah mendapat tempat di layar nasional.
Pirunduk pada intinya bukan hanya film horor tentang ilmu hitam. Film ini memperlihatkan bagaimana utang, ketimpangan, dan keputusasaan dapat mendorong seseorang mengambil keputusan yang berbahaya. Legenda Banjar menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang sangat manusiawi.
Barangkali pelajaran paling sederhana dari premisnya adalah bahwa jalan terlarang jarang menyelesaikan masalah, tetapi sering menambah luka. Cerita rakyat tetap perlu dirawat karena di dalamnya tersimpan peringatan yang masih relevan hingga sekarang.
