KKN UMY 2025: Tapak Pengabdi Khatulistiwa Menembus Samudra Hingga Wakatobi

Komunitas KKN Mandiri 3 T Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari tapakpengabdi Khatulistiwa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta, 25 Juli 2025 —
Dengan semangat tinggi dan hati penuh tekad, sebanyak 32 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memulai perjalanan KKN Mandiri UMY 2025 menuju Desa Mola Nelayan Bhakti, Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Perjalanan ini bukan hanya menembus jarak geografis, tetapi juga menyentuh makna pengabdian yang sesungguhnya. Dengan mengusung tema Pemanfaatan Sumber Daya dan Pengelolaan Permasalahan Lingkungan serta Pendidikan, mereka menjadikan pengabdian sebagai bentuk kontribusi nyata di pelosok negeri.
Mengawali Langkah Pengabdian dari Jantung Pulau Jawa
Perjalanan dimulai dari Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Mahasiswa yang terdiri dari 14 perempuan dan 18 laki-laki ini berangkat menggunakan kereta api menuju Surabaya. Bukan perjalanan biasa, namun awal dari pengorbanan waktu, tenaga, dan kenyamanan demi membangun kedekatan langsung dengan masyarakat yang berada di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
Sesampainya di Surabaya, para peserta menaiki kapal milik PT Pelni untuk menyeberangi lautan menuju Pelabuhan Bau-Bau. Di sinilah perjuangan sebenarnya dimulai: menempuh tiga hari perjalanan laut, menghadapi gelombang, tidur di ruang terbatas, serta berbagi ruang hidup dengan ratusan penumpang lainnya. Namun justru dalam keterbatasan itulah solidaritas tumbuh, mempererat hubungan antarmahasiswa lintas fakultas dan memperkuat semangat tim.
Menempa Jiwa di Tengah Laut: Tiga Hari yang Mengubah Perspektif
Pengalaman hidup di atas kapal selama tiga hari memberikan pelajaran berharga. Suara ombak, ruang tidur seadanya, hingga antrean panjang untuk kebutuhan dasar menjadi bagian dari dinamika perjalanan. Mahasiswa tak hanya diuji secara fisik, tetapi juga secara mental. Mereka harus saling mendukung, menjaga semangat, dan terus mengingat tujuan besar di ujung perjalanan: mengabdi dan membawa perubahan di tengah masyarakat.
Sesampainya di Pelabuhan Bau-Bau, mahasiswa UMY disambut hangat oleh mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Buton (UM Buton). Mereka diizinkan bermalam di lingkungan kampus sebagai bentuk nyata solidaritas antar keluarga besar Muhammadiyah. Malam itu bukan hanya istirahat, tapi juga momen refleksi, penguatan semangat, dan persiapan fisik dan mental untuk tahapan berikutnya.
Menembus Sulawesi Tenggara: Darat, Laut, dan Semangat Tanpa Batas
Perjalanan dilanjutkan keesokan harinya melalui jalur darat menggunakan bus menuju Pelabuhan Lasalimu, dengan waktu tempuh sekitar tiga jam. Medan jalan yang berkelok dan panjang tidak mematahkan semangat mereka. Dari Lasalimu, rombongan kembali melanjutkan penyeberangan laut menggunakan kapal speed boat menuju Wanci, ibu kota Kabupaten Wakatobi.
Setibanya di Wanci, rombongan kembali disambut oleh masyarakat lokal dengan antusias. Dari sana, mereka diantar ke Desa Mola Nelayan Bhakti, sebuah desa pesisir yang akan menjadi tempat pengabdian utama selama beberapa minggu ke depan. Desa ini dikenal dengan keindahan lautnya yang eksotis, namun masih menghadapi tantangan dalam bidang lingkungan dan pendidikan.
KKN Mandiri UMY 2025, Sebuah Jejak yang Lebih dari Sekadar Pengabdian
KKN Mandiri UMY 2025 adalah bentuk nyata keberanian anak muda menantang batas. Mereka rela meninggalkan kenyamanan kampus dan kota untuk hadir di tengah masyarakat yang jauh dari pusat perhatian. Dari Yogyakarta ke Wakatobi, mereka tidak hanya menempuh jarak ribuan kilometer, tetapi juga menempuh perjalanan batin: dari mahasiswa menjadi pengabdi sejati.
Melalui program ini, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tidak hanya mencetak sarjana, tetapi juga menumbuhkan manusia-manusia yang peduli, berpikir kritis, dan berjiwa sosial tinggi. Tapak Pengabdi Khatulistiwa bukan hanya tema, tapi filosofi: bahwa pengabdian bisa ditorehkan di mana pun, bahkan di garis khatulistiwa.
