Membedah Pembiasaan Sholat Dzuhur Berjamaah di MI Walisongo Kranji 01
Tulisan dari Tara Septiarani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jam-jam terakhir di sekolah biasanya jadi waktu yang paling krusial sekaligus rawan. Konsentrasi siswa mulai menurun, rasa lelah menumpuk, dan lirikan mata ke arah jarum jam dinding makin sering terjadi. Rasa ingin cepat merapikan tas dan berhamburan keluar kelas seolah jadi dorongan alami bagi siapa saja yang duduk di bangku sekolah.
Namun, suasana berbeda justru terlihat di MI Walisongo Kranji 1. Di sekolah ini, siswa kelas 3 sampai 6 memiliki agenda rutin pembiasaan sholat dzuhur berjamaah sebanyak tiga kali dalam seminggu, tepat di jam terakhir pembelajaran. Menariknya, jika kita bedah lebih dalam, aktivitas ini bukan sekadar pemenuhan agenda sekolah biasa. Ada mekanisme psikologi yang bekerja di baliknya, yang sangat erat kaitannya dengan Teori Perilaku (Behaviorism).
Mungkin ada yang bertanya, kenapa tidak setiap hari? Dalam teori behaviorism, pemberian stimulus yang tidak dilakukan setiap hari secara terus-menerus melainkan bertahap (dikenal dengan istilah intermittent reinforcement schedule) justru efektif membentuk kebiasaan yang bertahan lama. Dampaknya luar biasa. Pada hari-hari ketika jadwal sholat berjamaah resmi tidak diadakan, anak-anak tidak lantas lupa atau langsung keluyuran pulang. Sebagian besar dari mereka sudah memiliki inisiatif sendiri untuk melangkahkan kaki ke masjid selepas jam terakhir. Pengondisian (conditioning) yang dibangun tiga kali seminggu itu berhasil membentuk biological clock dan kecenderungan perilaku alami. Sholat tidak lagi dirasakan sebagai instruksi dari luar, melainkan dorongan dari dalam diri yang berjalan secara otomatis.
Tentu saja, kemandirian anak-anak ini tidak muncul begitu saja. Ada proses shaping behavior (pembentukan perilaku) yang konsisten saat jadwal berjamaah berlangsung. Di sinilah peran vital guru piket masuk sebagai kontrol sosial sekaligus figur teladan (modeling).
Anak usia SD masih berada pada fase perkembangan yang membutuhkan petunjuk konkret. Kehadiran guru piket yang aktif mendampingi, mengarahkan cara menata shaf yang lurus dan rapat, hingga memastikan ketertiban, memberikan stimulus-response yang jelas. Melalui koreksi dan arahan guru piket saat jadwal rutin itulah, anak-anak menyerap tata cara sholat yang baik dan benar, yang akhirnya mereka terapkan secara mandiri di hari-hari biasa.
Rangkaian pembiasaan di hari jadwal berjamaah selalu ditutup dengan dzikir bersama. Dari sudut pandang behaviorism, penutup ini berfungsi sebagai positive reinforcement (penguatan positif) secara emosional dan spiritual. Setelah seharian bergelut dengan materi pelajaran yang menguras energi, momen dzikir bersama memberikan jeda untuk meredakan ketegangan. Anak-anak dikondisikan untuk merasakan suasana tenang dan damai sebelum melangkah pulang. Perasaan tenang ini secara tidak langsung menjadi "hadiah" (reward) alami yang membuat memori anak terhadap ibadah sholat selalu berkesan positif.
Pembiasaan sholat dzuhur berjamaah di MI Walisongo Kranji 1 adalah contoh sukses bagaimana teori perilaku bekerja dalam pendidikan karakter. Dengan kombinasi jadwal pembiasaan yang pas, pendampingan guru piket yang terarah, serta penguatan lewat dzikir, sekolah berhasil menggeser sholat dari yang tadinya sekadar aturan sekolah menjadi sebuah kebiasaan mandiri yang melekat kuat pada diri siswa.

